Inspirasi Tanpa Batas

Integrasi Wahyu, Akal dan Indera

0 18

Konten Sponsor

Wahyu, akal dan indera saling menyempurnakan untuk mencapai pengetahuan yang meyakinkan sebagaimana berikut ini:

Membaca ayat-ayat wahyu –adalah pemberitahuan- yang mencakup dua hal:

  • Instruksi kepada bidang penelitian dan objeknya yang merupakan bagian dari alam, peristiwa atau aspek-aspek wujud dalam bidang afaq dan anfus.
  • Menyebutkan tujuan ilmu yang dihasilkan dari dua bidang ini yaitu mengenali sifat di antara sifat-sifat Allah, perbuatan di antara perbuatan-perbuatan Allah atau kemampuan di antara kemamuan-kemampuan Allah.

Faidah instruksi wahyu di sini adalah memenuhi akal dengan dua hal:

Pertama, Menjaganya dari orientasi yang keliru kepada penggunaan imajinasi dan rekayasa yang tidak memiliki wujud dalam alam penciptaan sebagaimana terjadi pada akal pada era ketika terjatuh dalam metafisika destruktif –penyimpangan, peramalan dan sihir. Instruksi wahyu mengarahkan akal kepada penelitian pada sesuatu yang benar-benar ada karena akal tidak bisa mencapai pengetahuan tentang materi yang tidak konkrit. Mengenai hal ini Ibnu Taimiyah menjelaskan.

“Ilmu tentang wujud dan sifatnya adalah asal, ilmu tentang yang tidak wujud mutlak dan terikat adalah mengikuti dan merupakan cabang darinya. Juga ilmu tentang yang tidak wujud tidak ada faidah bagi orang yang mengetahuinya bukan karena kesempurnaan pengetahuannya tentang yang ada… kesempurnaan wujud dalam dirinya, jika menjelaskan ‘tidak ada sesuatu pun’ maka orang yang berilmu tidak bisa mengambil manfaat darinya”.

Faidah kedua adalah bahwa instruksi wahyu menjaga akal agar tetap sadar akan tujuan penelitian dan pengetahuan dan tujuannya adalah mengetahui Allah dan menyembah kepada-Nya bukan menyombongkan diri dan tinggi hati, dan menjadikannya sadar bahwa sumber pengetahuan adalah Allah maka manusia tidak boleh mengklaim dan bersifat arogan, sombong dan melampaui batas.

Wahyu menuntut pembelajar untuk masuk laboratorium ayat afaq dan anfus

Wahyu menuntut pembelajar untuk masuk “laboratorium ayat afaq dan anfus” kemudian menggunakan kekuatan akal dan penglihatannya yang disebut Qur`an dengan istilah sam’ (pendengaran), bashar (penglihatan) dan fu`ad (hati) untuk mengadakan studi terhadap objek yang ditunjukkan ayat wahyu dan mengarahkan kepada bidangnya, kemudian membandingkan hasil yang telah diperoleh dari laboratorium ayat afaq dan anfus dengan instruksi yang “dibacakan” oleh ayat wahyu. Jika pembelajar tepat dalam mengaplikasikan metode ini dalam pengetahuan maka hasil obeservasi indera yang empirik membuktikan kebenaran instruksi berita wahyu sehingga timbullah iman dan mendalamnya keyakinan.

Karakter Mendasar Dalam Metode Pengetahuan Islam

Integrasi antara ayat wahyu dan ayat alam dan jiwa ini adalah karakter mendasar dalam metode pengetahuan Islam. Orang yang mengadakan eksperimentasi alam ini adalah para Rasul dan Nabi. Ibrahim AS meminta kepada Allah untuk memberi pengalaman ilmiah dengan cara menunjukkan kepadanya bagaimana Allah menghidupkan yang mati sehingga Allah bertanya kepadanya:

“Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)” (Qs. Al Baqarah [2]: 260). Kemudian Allah memenuhi permintaannya dan memerintahkannya agar menyembelih empat burung dan memisah-misahkannya menjadi beberapa bagian yang saling dijauhkan satu sama lain agar setelah itu ia melihat bagaiman bagian-bagian itu saling menyatu dan kemudian hidup kembali. Allah menyingkapkan kepada orang-orang yang mengadakan penelitian kedokteran bagaimana sel-sel merapat dan kehidupan berkembang dan berjalan.

Uzair menyaksikan fenomena penciptaan, kematian dan kebangkitan dengan pengalaman proses biologis yang materinya adalah dirinya sendiri dan keledainya.

Musa AS meminta bisa melihat Allah secara nyata maka Allah memberinya eksperiman alam yang materinya adalah gunung yang hancur karena takut kepada Allah.

Ketika kaum Quraisy meminta mu’jizat material kepada Rasullah SAW, maka datang perintah Allah untuk menghadap kepada laboratorium alam untuk menyaksian mu’jizat ini.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (Qs. Ali Imran [3]: 190). Jika generasi Quraisy pertama tidak melakukannya dengan baik maka generasi Islam –setelah itu- menghadapkan kepada laboratorium alam dan membuka pintu yang dilalui oleh Eropa setalah itu tanpa mengambil maksud dan tujuannya.

Syarat-Syarat Integrasi Antara Wahyu, Akal Dan Indera

Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk integrasi antara wahyu, akal dan indera sehingga akan memberikan akibat yang diinginkan dalam aplikasi pengetahuan. Syarat-syaratnya adalah sebagai berikut:

Kedalaman Dalam Ilmu

Syarat pertama, kedalaman dalam ilmu, maknanya kedalaman dalam dimensi waktu terhadap objek pengetahuan, yakni pendalaman yang diberikan dalam mengadakan studi  terhadap sejarah objek dan kemungkinan memahami evolusi yang dilaluinya yang mula-mula dari pertumbuhannya hingga keadaan sekarang. Terhadap kedalaman ini terdapat isyarat Quran:

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. (Qs. Ali Imran [3]: 7).

“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu’min, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur’an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu” (Qs. An-Nisaa [4]: 162).

Sebaliknya, Qur`an meminimalisir kedangkalan dalam pendidikan yang berhenti pada keadaan yang ada sekarang ini terhadap objek pengetahuan dan yang direfleksikan dalam akhir lingkaran evolusi sementara dan kedangkalan fenomena dalam perkembangan yang panjang.

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia” (Qs. Ar-Ruum [30]: 7)

Komprehensifme Dengan Objek Pengetahuan

Syarat kedua, komprehensifme dengan objek pengetahuan. Maksudnya adalah komprehensifme terhadap rincian tema dan fakultas yang tersebar dan tercerai berai. Yakni pendalaman yang sempurna dalam mengadakan studi terhadap dimensi tempat terhadap objek pengetahuan. Dan waspada akan ilmu yang parsial dan pengetahuan yang parsial karena parsialisme mengarah kepada dusta terhadap pengetahuan. Juga mengarah kepada kesalahan dalam memberikan kesimpulan dan hukum.

“Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna” (Qs. Yunus [10]: 39).

“Allah berfirman: “Apakah kamu telah mendustakan ayat-ayat-Ku, padahal ilmu kamu tidak meliputinya?” (Qs. An-Naml [27]: 84).

Menjaga Keutuhan Pengetahuan

Syarat ketiga, menjaga keutuhan pengetahuan. Pengetahuan –dalam pendidikan Islan- adalah satu kesatuan meskipun cabangnya mungkin beraneka ragam dan bidangnya mengalami perluasan. Ini berhak mendapatkan sifat dari tiga perkara: pertama, kesatuan sumber pengetahuan yang adalah Allah SWT. Kedua, kesatuan bidang pengetahuan yang adalah alam –atau wujud yang ada. Ketiga, kesatuan tujuan pengetahuan yang adalah mengetahui Allah.

Dari ketiga sifat ini timbul kesatuan sarana-sarana pengetahuan, kesatuan orang yang bekerja dalam bidang pengetahuan.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar