Take a fresh look at your lifestyle.

Integritas Seorang Pemimpin

0 411

Konten Sponsor

Kita sebagai seorang citizen (warga negara) seakan sedang berjalan menuju oase di tengah kegersangan yang amat sangat merindukan lahirnya seorang pemimpin harapan. Pemimpin yang bisa dipercaya, berkarakter, konsisten, sekaligus memiliki independensi baik etis maupun organisatoris. Karakter pemimpin yang memiliki nilai- nilai luhur yang bisa menjamin kualitas kepemimpinannya. Atas kerinduan akan karakter kepemimpinan dimaksud, penulis ingin menyampaikan bahwa yang hari ini kita butuhkan dan rindukan adalah integritas seorang pemimpin.

Apa itu Integritas ?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan Integritas sebagai mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan. Dalam pengertian lain, integritas juga bisa didefinisikan sebagai sebuah konsistensi antara tindakan dengan nilai ataupun prinsip- prinsip yang sedang dijalankan.

Seberapa pentingkah integritas pemimpin?

Berkaitan dengan pentingnya integritas bagi seorang pemimpin, Warren Bennis (2000:23) menyatakan bahwa ada tiga bentuk integritas. Ketiga bentuk dimaksud adalah: pertama, pengenalan diri, kedua, ketulusan dan ketiga, kedewasaan. Memperhatikan ketiga bentuk yang disampaikan oleh Bennis diatas, penulis berpandangan bahwa ketiga bentuk integritas tadi masih memiliki kekurangan. Kekurangan dimaksud adalah kurangnya satu kriteria yang paling krusial dan menyentuh seluruh kriteria pemimpin yang baik (good leader) yaitu kejujuran. Dengan demikian maka, sehebat dan sebagus apapun cita- cita dan misi seorang pemimpin, tentu harus dicapai dengan cara- cara dan tindakan yang baik. Mengapa demikian, karena kejujuran akan melahirkan dan menumbuhkan kepercayaan.

Integritas Melahirkan Kepemimpinan Efektif

Terdapat sebuah teori yang penulis anggap mampu menciptakan kepemimpinan efektif. Teori dimaksud adalah Teori Interaksi Harapan. Teori ini mengembangkan tiga variabel dasar dalam kepemimpinan yakni tindakan, interaksi dan sentimen. Dari ketiga variabel dimaksud, penulis mengasumsikan bahwa peningkatan kualitas tindakan seorang pemimpin dalam berinteraksi akan berbanding lurus dengan peningkatan kualitas sentimen yakni perasaan senang dan puas terhadap kinerja seorang pemimpin.

Pada tahun 1957, Stogdill menyempurnakan teori ini yang kemudian diberi nama Teori Harapan- Reinforcement. Hal ini dilakukan untuk mencapai peranan pemimpin yang jauh lebih sempurna. Bedanya, teori reinforcement ini akan menguatkan harapan untuk tetap menjalin interaksi antara seorang pemimpin dengan mereka yang dipimpinnya. Jadi, sebagai seorang pemimpin harus menampilkan harapan bersama yang dikaitkan dengan tampilnya interaksi yang dilakukan kedua belah pihak.

Pola interaksi yang dibangun harus mampu menjamin hubungan yang baik antara seorang pemimpin dengan bawahannya. Sehingga yang dibutuhkan tentu akan berkaitan dengan keteladanan. Mengapa? Karena keteladan adalah pemantik perubahan yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan kata-kata. Itulah hakikat dari sebuah kesejatian perubahan.

Mari mengadaptasi pada ruh semangat yang ditawarkan oleh Rhenald Kasali melalui konsep Re-Code Your Change DNA. Ia mengatakan bahwa membuat atmosfer perubahan itu bisa dimulai dari hal- hal yang kecil, dari sedikit orang, dan bebaskan atasan, orang tua, sahabat atau pemerintah kita dari keterbelakangan itu, sekarang juga.

Memberikan teladan sebagai seorang pemimpin yang berintegritas, akan menumbuhkan dan membumikan nilai-nilai integritas untuk melembaga dalam struktur kepemimpinan yang dijalankannya. Maka, mari menjadi pemimpin yang memberikan teladan tentang nilai integritas. **_May Ashali