Intelektualisme M. Natsir | Tokoh Politik Islam Indonesia– Part 2

0 163

Pemikiran Politik Islam M. Natsir. Intelektualisme Politik Islam Indonesia, dikenal sangat dipengaruhi salah satunya oleh pemikiran Natsir. Sosok ini dikenal memiliki kemampuan berbahasa asing yang cukup komplet.

Ia bukan saja menguasai Bahasa Belanda, sevagai bahasa akademik Indonesia waktu itu, tetapi juga menguasai bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Arab dan Spanyol.

Karena itu, tidak heran jika banyak analis politik dunia, yang menyebut pemikir politik Islam Indonesia, dikesankan sangat akademis dan intelektualis. Salah satunya, tentu terhadap Natsir.

Mengapa Natsir terkesan sangat akademik. Karena Natsir sekolah di lembaga pendidikan Belanda. Pendidikan inilah yang memperkenalkannya menjadi demikian faham terhadap konsep modernism.

Selain itu, karena ia juga mendalami pendidikan keislaman, khususnya terkait dengan Islam dan politik, serta relasinya dengan negara, termasuk tentu Indonesia, tampaknya, pemikiran keislamannya menjadi demikian modern untuk ukuran waktu dan jamannya.

Pemikiran keislaman yang kompromistik ini, ternyata dipengaruhi pemikiran Agus Salim dan A. Hassan. Dua tokoh yang menjadi mitra sekaligus guru pemikiran keislamannya ini, dikenal kritis terhadap pemikiran Soekarno, meski tetap bersahabat dengannya.

Natsir menikah pada 20 Oktober 1934, dengan Nurnahar di Bandung. Ia termasuk tokoh yang sering melakukan dialektika pemikiran masa depan Islam dan Indonesia sebelum negeri ini merdeka. Diketahaui bersama bahwa pada waktu itu, pemikiran ke-Indonesiaan yang dicitrakan Nasionalis, banyak didominasi pemikiran Soekarno.

Mereka umumnya menganggap bahwa apa yang dibawa Soekarno, berjarak dengan semangat keislaman. Soekarno dianggapnya terlalu nasionalis sekular yang mengabaikan dimensi keislaman. Karena itu, perjuangan mereka seolah menjadi dua blok yang berbeda satu sama lain.

Natsir dan Dunia Seni

Natsir yang menjadi pemikir keislaman dan nakhoda bagi pergerakan politik Islam Indonesia, ternyata memiliki hoby seni yang cukup tinggi. Ia memiliki watak yang relative sama dengan Douwes Dekker.

Dengannya ia sering bersama untuk memainkan musik. Natsir dikenal pandai memainkan biola dan Dekker diketahui menyukai bermain gitar. Keduanya tampak rukun dalam permainan musik, khususnya ketika keduanya berada di Bandung.

Eduard Douwes Dekker, adalah sosok Belanda. Tokoh ini dikenal kritis terhadap pemerintahan Belanda terhadap kaum pribumi di Hindia Belanda. Tokoh ini lahir di Amsterdam, Belanda 2 Maret 1880. Ia meninggal di Ingelheim am Rhein, Jerman pada 19 Februari 1887.

Dua tokoh ini, selain dipertemukan dalam hobi yang sama, keduanya juga memiliki pemikiran yang sama. Kesamaan dimaksud, khususnya terkait dengan politik Belanda yang menindas kaum pribumi.

Dekker karenanya,  memperkenalkan namanya dalam dunia pena dengan sebutan Multatuli [bahasa Latin] yang mengandung arti banyak yang aku sudah derita. Di Belanda ia juga dikenal dengan sebutan Max Havelaar. Sebutan ini karena dengan Novel yang diterbitkan pada tahun 1860 yang Satir.

Novel satirisnya, yang berisi kritik pedas atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi di Hindia Belanda, termasuk Nusantara. Nama ini, di Indonesia popular juga dengan sebutan Danudirja Setiabudi.

Melalui Douwes Dekker inilah, Natsir banyak memperdalam Bahasa Belanda. Keduanya sering menggunakan bahasa penjajah ini dalam percakapan ringan dan serius. Keduanya juga dikenal sering mengulas musik Ludwig van Beethoven dan novel Boris Leonidovich Pasternak.

Karena saking dekatnya antara Natsir dengan Dekker, pernah suatu waktu, tokoh Belanda ini hendak masuk partai politik Islam Masyumi. Gagasan Natsir soal perjuangan kemerdekaan, demokrasi, dan keadilan, dianggap Dekker sejajar dengan semangatnya.

Natsir bergabung dengan Partai Islam Indonesia pada tahun 1928. Ia menjadi Ketua Cabang Bandung [1940-1942] dan bekerja sebagai Kepala Biro Pendidikan Bandung hingga 1945. Dalam Kiprah organisasi pergerakan, ia memilih bergabung dengan Majelis Islam A’la Indonesia. Beberapa tahun kemudian, organisasi ini berubah menjadi Majelis Syuro Muslim Indonesia [Masyumi].

Suatu Partai Politik Islam yang cukup disegani, di masa awal kemerdekaan Indonesia dan cukup ditakuti pada awal berdirinya Orde Baru. By. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.