Interaksi Sosial Pesantren; Menghimpun Sebuah Komunitas Keagamaan

0 109

Interaksi sosial yang terjadi di pondok Pesantren berkaitan dengan upaya menghimpun sebuah komunitas keagamaan. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat, selalu terjadi apa yang disebut dengan interaksi sosial. Faktor-faktor dasar terjadinya proses interaksi sosial tersebut adalah imitasi (meniru), sugesti (menerima), identifikasi (menempatkan diri) dan simpati (turut merasakan).

Semua sifat itu, secara psikologis hanya akan dilakukan dan tercermin apabila kumpulan orang tersebut (yang kemudian disebut masyarakat) mampu menciptakan iklim kesamaan dan keadilan. Masyarakat yang demikian itulah, yang dalam istilah atau teori moderen sering disebut sebagai masyarakat demokratis dan sekaligus bertanggungjwab. Sebab satu sama lain dalam setiap anggota masyarakat, turut terlibat dalam menangani masalah-masalah yang hidup di sekitarnya.

Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Syarat terjadinya interaksi sosial adalah kontak sosial (social contact) dan komunikasi sosial (social communication). Bentuk-bentuk interaksi sosial dimaksud antara lain, kerjasama (cooperation), kompetensi (competention), pertentangan (conflict) dan akomodasi (accomodation). Bentuk kontak sosial, dapat dilakukan antar orang per orang, perseorangan dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok.

Struktur Sosial Demokratis

Kondisi sosial masyarakat yang demikian, seperti disebut Soerjono Soekanto, disebut pula dengan struktur sosial demokratis. Hal demikian akan dicirikan dengan:

  1. Kepercayaan yang merupakan pemahaman terhadap segala aspek alam semesta yang dianggap sebagai suatu kebenaran;
  2. Perasaan, yakni keadaan kejiwaan manusia yang menyangkut alam sekelilingnya, maupun rekan-rekannya sesama manusia;
  3. Tujuan, yang merupakan suatu cita-cita yang harus dicapai melalui perubahan atau dengan jalan mempertahankan sesuatu (status quo);
  4. Kaedah, yakni pedoman-pedoman tentang perikelakuan yang diharapkan atau yang pantas;
  5. Kedudukan dan peranan yang mencakup hak-hak dan kewajiban-kewajiban serta penerapannya di dalam proses interaksi sosial;
  6. Pengawasan, yakni kekuasaan untuk mempengaruhi pihak lain, agar berbuat sesuai dengan pemegang kekuasaan;
  7. Jenjang dalam masyarakat yang menyangkut posisi sosial seseorang, yang menentukan alokasi hak-hak dan kewajiban-kewajibannya;
  8. Saksi, yakni persetujuan atau penolakan terhadap perikelakuan tertentu yang imbalannya adalah hukuman atau hadiah;
  9. Fasilitas, yang merupakan sarana untuk mencapai tujuan;
  10. Kelestarian dan kelanggengan hidup, dan;
  11. Kesesuaian antara kualitas hidup dengan kualitas lingkungan.

Kesatuan Individu, Komunitas dan Masyarakat

Setiap individu, dengan demikian adalah bagian dari setiap komunitas. Begitupun dengan komunitas. Ia adalah bagian dari masyarakat yang lebih besar dari hanya sekedar sebagai komunitas. Komunitas mengutip Betrand Russel dicirikan dengan: a). Adanya sistem sosial yang meliputi sejumlah struktur sosial yang tidak terlembagakan dalam bentuk kelompok atau organisasi. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan anggota masyarakat yang kemudian melahirkan hubungan kerjasama struktural; b). Komunitas adalah unit struktur sosial terkecil dan memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri, dan; c). Komunitas dapat berdiri sendiri dalam hubungan dengan fungsi-fungsi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga sosial yang lebih besar.

Pesantren Menghimpun Sebuah Komunitas Keagamaan

Sebagai sebuah institusi, Pesantren menghimpun sebuah komunitas keagamaan. Didalamnya terdapat sekumpulan orang-orang yang berusaha mendistribusikan pemikiran keagamaan, mencari nilai-nilai keagamaan, mencari nilai-nilai ketenangan dan berusaha mencari keadilan.

Pesantren menyuguhkan peran sertanya dalam mendinamisir sistem nilai yang dibangun dalam suatu komunitas masyarakat keagamaan. Salah satu nilai yang dibangun oleh agama dimaksud adalah bagaimana agar mereka mampu menerapkan dan menanamkan jiwa-jiwa keagamaan, yang berhubungan dengan sesama manusia, maupun dengan masyarakat yang lebih luas.

Lembaga pendidikan, termasuk lembaga pendidikan pesantren, terdiri dari berbagai unsur kependidikan yang mengitarinya. Ada unsur guru, unsur siswa, unsur staf administrasi dan unsur kepemimpinan Pesantren. Masing-masing unsur ini memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing  serta tanggungjawab yang diembannya.

Tugas dan Tanggungjawab Guru/ Kyai/ Pimpinan Pondok Pesantren

Guru memiliki fungsi pengajaran, pendidikan, dan pembentukkan moral serta nilai etik peserta didik. Selain itu, guru juga bertugas untuk mendinamisir pendidikan dan pengajaran di dalam kelas. Oleh karena itu, dalam kasus tertentu, guru dapat juga dianggap sebagai administratur kelas. Tenaga administrasi berfungsi untuk mengorganisasikan seluruh kegiatan teknis pembelajaran. Tugas mereka selain bersifat dokumentatif, yang tidak kalah pentingnya adalah manajer di dalam pengadministrasian kantor pendidikan.

Pusat seluruh aktivitas guru dan tenaga administrasi Pesantren, digerakkan pemimpin lembaga dimaksud, yang kemudian dikenal dengan Pimpinan/kyai utama Pesantren. Pimpinan/kyai utama Pesantren selain berfungsi memanage seluruh jalannya aktivitas guru, juga ia manajer penting dalam mendinamisir seluruh kegiatan pembelajaran di dalam maupun di luar kelas.

Dilihat dari sisi tanggungjawab, pimpinan/kyai utama Pesantren jelas lebih tinggi dan kompleks masalahnya dibandingkan dengan tenaga kependidikan lainnya, di tingkat perPesantrenan. Oleh karena itu, baik buruknya sebuah lembaga pendidikan, sebagian besarnya akan ditentukan oleh sejauhmana pimpinan/ kyai utama Pesantren dalam satu satuan dan satu jenjang pendidikan mampu menggerakan seluruh komponen kependidikan yang tersedia. Semakin dia mampu mendinamisir guru, maka semakin besar pula peluang dirinya untuk tampil menjadi pengelola lembaga pendidikan yang lebih baik.***H. Edeng Z.A

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.