Interpretasi Teologis terhadap Kekayaan

0 15

Manusia memegang peran penting dalam kehidupan. Kualitas kehidupan akhirat ditentukan oleh kualitas kehidupan manusia di dunia. Wajar jika orang mukmin dalam doanya selalu memohon dua kebahagiaan yang tak terpisahkan, yaitu dunia dan akhirat (al-Baqarah/2: 201). Islam adalah agama fitrah, kefitrahannya bukan sekadar mendasari romantisme hubungan antara pencipta  dan yang dicipta. Romantisme sesama makhluk pun juga dilegalkan oleh al-Qur’an. Salah satu romantisme manusia dengan makhluk adalah naluri kecintaan manusia terhadap kekayaan dan kegemerlapan dunia (Alu ‘Imrân/3: 14).  Terhadap hal-hal tersebut, al-Qur’an memberikan dorongan positif di satu sisi, dan memberikan rambu serta ancaman di sisi lain jika naluri dianggap melenceng.

Secara struktur biologis, manusia memiliki kesamaan dengan struktur makhluk hidup lainnya, khususnya yang berkaitan dengan pemenuhan hajat biologisnya. Pemenuhan hajat biologis  manusia tersentral pada kekayaan. Oleh karena itu, salah satu fungsi kekayaan yang disebut al-Qur’an   adalah sebagai qiyâman (قِيَاماً) atau sarana pokok kehidupan yang urgen, harus dijaga, dipertanggungjawabkan dan difungsikan dengan baik. Dari urgensi kekayaan, al-Qur’an memerintahkan agar para wali mengambil alih tanggung jawab kepemilikan  kekayaan seseorang yang dinilai tidak mampu mengurus dan bertanggung jawab. Ketidakmampuan tersebut baik yang disebabkan oleh kelemahan jiwa, maupun keborosan dan kecerobohan tindakannya (al-Nisâ’/4: 5).

Memandang Kekayaan Secara Positif

Al-Qur’an memandang kekayaan secara positif, sehingga kekayaan kadang-kadang disebut sebagai “kelebihan atau keutamaan” (الفَضْل) yang harus diperebutkan manusia setelah ia menunaikan kewajiban terhadap Tuhannya (al-Jumu’ah/62: 10). Suatu dianggap urgen, apabila memiliki daya tarik secara khusus.  Dalam surat al-Nisâ’/4: 5 dijelaskan, bahwa fungsi kekayaan yang fundamental adalah sebagai sarana pokok kehidupan. Dari pola struktur di atas, kata mâl dengan berbagai bentuknya  dapat diklasifikasikan:

  1. Dilihat dari kuantitas bentuknya, bentuk jamak (أَمْوَال) lebih banyak disebut dari bentuk tunggal (مَال). Hal ini mengisyaratkan bahwa permasalahan kekayaan lebih banyak menyangkut masalah sosial, baik dari segi proses pengumpulan maupun dari segi fungsi dan manfaatnya.
  2. Dilihat dari segi penisbahan pemiliknya,  kata mâl lebih banyak dinisbahkan kepada kata ganti (dlamîr) yang menunjuk pada kelompok social dan kelompok lemah seperti anak yatim. Kata mâl hanya satu kali dinisbahkan kepada pribadi (ى) yang menunjukkan penyesalan pemiliknya (al-Hâqqah/69: 28).  Penisbahan kata mâl/amwâl kepada pemilik tersebut mengisyarakan bahwa kekayaan akan berkembang dan lebih berperan sesuai dengan fungsinya jika beredar di kalangan orang banyak. Kekayaan akan memberikan fungsi, berkah, dan mencukupi hajat hidup, khususnya kelompok lemah. Mereka itu  sebenarnya yang paling butuh terhadap kekayaan, atau dalam kelompok itulah harta akan berkembang dan berperan secara optimal.
  3. Jika kata mâl/amwâl tampil secara mandiri, menunjukkan bahwa kekayaan pada hakikatnya adalah bukan di bawah kekuasaan seseorang. Secara hakiki, kekayaan adalah milik Tuhan sebagai jaminan kehidupan manusia. Atau bisa jadi karena di alam ini ada sesuatu yang gunanya belum diketahui oleh manusia,  sehingga sementara waktu  manusia tidak menganggapnya sebagai kekayaan.

Kesadaran manusia terhadap agama, tidak seluruhnya  positif. Anggapan terhadap agama sebagai beban, penghalang, serta pembatas kebebasan, baik untuk melakukan sesuatu maupun untuk meninggalkannya, sering terbesit dalam diri manusia. Al-Qur’an memandang bahwa esensi   petunjuk agama adalah untuk memandang dan mengungkap fenomena yang melingkupi kehidupan manusia melalui tanda-tanda (âyah) Allah di alam. Tanda-tanda tersebut ada yang berbentuk qauliyyah (wahyu), maupun berbentuk kauniyyah (alam).

 Manusia yang mampu memandang  wilayah esoterik dalam hidupnya, al-Qur’an mengatagorikan sebagai  kelompok kanan (maimanah). Sementara mereka yang hanya mampu menembus tataran eksoterik, al-Qur’an mengatagorikan dalam kelompok kiri (masy’amah) (al-Balad/90: 18-19).  Perjuangan untuk memenangkan sisi positif (haqq) dari sisi negatif (bâthil) dalam kehidupan, mendapat dukungan moral dari al-Qur’an. Manusia dituntut serius untuk mencari hikmah dan kebaikannya. Secara moril, Tuhan telah menjanjikan dukungan-Nya kepada manusia, bahwa Dia akan memenangkan  yang haq dan menyirnakan yang bâthil.

Mengabstraksikan Kekayaan Dengan Kondisi Yang Riil

Kekayaan dan keturunan untuk menopang perjuangan (kifâh) dalam meraih dan menegakkan nilai dan kemuliaan. Dalam posisi ini, harta berfungsi positif dan urgen. Sedang dunia hanya menjadi panggung bagi manusia untuk berjuang dalam meraih kemenangan. Ketika al-Qur’an menyebut kehidupan yang berkaitan dengan harta dengan nada negatif (al-anfâl/8: 28), pandangan tersebut sebenarnya bukan ditujukan dan diarahkan kepada kekayaan. Akan tetapi, diarahkan pada sikap manusia  agar tidak lupa terhadap fungsi dan nilai kekayaan serta lengah terhadap tugas utamanya dalam kehidupan. Dalam kondisi-kondisi tertentu, al-Qur’an mengabstraksikan kekayaan dengan kondisi yang riil, baik dari aspek manusia maupun dari aspek materinya.

Al-Qur’an memandang kekayaan secara positif dari aspek manapun. Secara ontologis, alam juga makhluk Tuhan yang memiliki derajat dan posisi kemakhlukan yang sama dengan manusia. Jika manusia diberi predikat kemuliaan karena mampu memfungsikan alam dan isinya untuk sesuatu yang positif, maka alam diberi kondite  mulia karena telah tunduk (musakh-khar) untuk memenuhi hajat hidup manusia. Dalam kondisi ini, alam lebih awal tunduk (muslim), baik kepada Tuhan maupun kepada manusia, dari pada manusia yang menggunkan alam. Jika manusia dituntut tunduk kepada Tuhan semata, maka alam dituntut tunduk kepada Tuhan dan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Islam memandang materi secara proporsional. Ketika manusia berposisi sebagai makhluk biologis, al-Qur’an melegalkan keharusan manusia untuk mencari materi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya (al-Qashash: 77). Pada waktu yang bersamaan al-Qur’an menajamkan pandangan manusia bahwa kekayaan bukanlah segala-galanya yang harus dikejar (al-Taubah/9: 38).  Al-Qur’an menganggap tindakan manusia sebagai kebodohan bagi mereka  yang mengorientasikan kehidupannya hanya untuk dunia. Orentasi tersebut hanya akan membuka jurang permusuhan akibat persaingan yang tidak mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Al-Qur’an mewajibkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya secara wajar dan normal (al-Isrâ’/17: 29). Al-Qur’an mengecam manusia yang melebihi batas-batas yang ditentukan. Pelampauan batas tersebut adakalanya disebabkan karena menahan kekayaan, maupun karena menghabiskan kekayaan secara berhamburan, terlebih merampas hak orang lain  dengan cara yang tidak dibenarkan. Kebutuhan hidup harus dipenuhi, tetapi pemenuhannya tidak selalu identik sikap boros dan foya-foya (al-Furqân/25: 67).

Dari sudut esoterik (spiritualitas), al-Qur’an berpesan kepada manusia agar mengambil jarak terhadap ketiga nafsu tersebut.  Dalam konteks ini, orang suci bukanlah mereka yang tidak bergaul dan bergumul dengan dunia materi, akan tetapi mereka yang mampu mengambil jarak dan menahan diri agar tidak terseret ke dalam tiga jebakan nafsu tersebut (tazyîn, isrâf dan tabdzîr). Pandangan al-Qur’an terhadap dunia materi atau kekayaan adalah terbuka. Al-Qur’an menghargai naluri manusia terhadap materi. Ketertarikan manusia dengan materi dan keindahan kehidupan, adalah keniscayaan yang tdiak boleh diingkari manusia. Dalam hal ini, al-Qur’an melegalkan naluri tersebut selama tidak melampaui yang dilarang, dan mengecam bagi yang mengingkarinya (al-A’râf/7: 32).

Jika dipersepsikan bahwa si fakir dengan kefakirannya dapat berpeluang untuk kufur, maka dalam waktu yang sama juga harus diakui bahwa orang kaya dengan kekayaannya lebih berpeluang untuk hal itu. Kalau kekufuran si fakir hanya menimpa dirinya, sementara kekufuran si kaya lebih berpeluang untuk mengkufurkan dirinya dan orang lain. Orang fakir  ditindas dengan kekayaan orang kaya sehingga mereka menjadi tidak berdaya.  Akhirnya si fakir juga ikut kufur akibat kefakirannya.

Dari pemaparan di atas, perlu digaris bawahi bahwa kecaman dan pujian terhadap kedua kondisi tersebut, baik fakir maupun kaya bukan masalah kefakiran dan kekayaan. Akan tetapi, kecaman dan pujian tersebut berkaitan dengan sikap  manusia terhadap harta yang terrefleksikan dalam kedua kondisi tersebut.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.