Investasi Sosial Dan Penegakan Nilai Kemanusiaan

0 23

Harta yang diwakafkan – Ada bentuk ajaran kedermawanan (philanthropy) yang tidak asing bagi ummat Islam. Ajaran tersebut dikenal dengan “‘amal jâriyah” yang diyakini balasannya melewati batas realitas. Ajaran tersebut didasarkan pada hadis Nabi:

  إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاّ مِنْ ثَلاثَةٍ إِلاّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

Apabila manusia meninggal, maka terputuslah tanggungjawab dari seluruh aktivitasnya kecuali terhadap tiga hal, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang difungsikan dan anak yang shalih yang mendoakan baginya. (HR. Muslim).

Hadis di atas, sering dipahami terlalu rigit, yang disebabkan kerancuan pemahaman kita terhadap kata “‘amal” yang terdapat dalam matannya. Kata ‘amal dalam hadis tersebut dipahami antara “perbuatan/aktivitas” dan “balasan”. Kata “‘amal” dalam hadis tersebut lebih tepat jika diartikan dengan “aktivitas/perbuatan” yang bersifat umum. Sehingga “shadaqah jariyah” adalah aktivitas manusia dalam memanfaatkan kekayaan, “ilmu yang bermanfaat” adalah aktivitas manusia dalam memfungsikan potensi akal dan intelektual dan “anak yang shalih…” adalah aktivitas manusia dalam mendidik dan membina keluarganya. Dengan demikian, sebenarnya tidak ada aktivitas khusus yang ditunjuki oleh hadis tersebut.

Para komentator dari perawi kenamaan, mulaui dari al-Nawawy hingga al-Suyuthî berpendapat bahwa kata “shadaqah jâriyah” pada hadis tersebut diartikan dengan “waqf”. Secara bahasa kata waqf berarti menahan, yaitu menahan suatu benda yang memiliki bentuk/zat yang permanent untuk diambil manfaatnya atau melindungi keberadaan suatu benda untuk diambil manfaatnya dengan menjaga eksistensi dan substansi asal benda tersebut. Term ini tidak dijumpai dalam al-Qur’an maupun hadis. Ada isyarat hadis yang senafas dengan term tersebut yaitu menggunakan kata habs (menahan). Di dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa ‘Umar memiliki tanah potensial di Khaibar yang belum difungsikan. Lalu dia meminta nasihat dari Nabi terhadap tanah potensial yang tidak dibutuhkan/fungsikan. Lalu Rasulullah  menyuruh untuk menyedekahkan hasil dan manfaatnya, sementara asal (tanah)nya tetap dibawah kepemilikannya. Tanah tersebut meskipun dalam kekuasaan pemiliknya, tetapi tidak boleh dialihkan kepemilikannya, baik melalui jual beli, warisan maupun pemberian kepada pihak lain yang bersifat personal.

Dari kronologis tersebut, wakaf tidak selalu identik dengan “buang hajat (maaf kotor: berak)” di mana yang bersangkutan tidak memikirkan, mengawasi atau ikut mengelolanya. Pemahaman “wakaf” yang seperti ini yang lazim di dalam masyarakat kita, di mana ketika si wakif mengontrol harta wakaf, dituduh atau setidaknya dicurigai adanya unsure ketidak ikhlasan dalam berwakaf. Sikap ini yang menjadikan orang kurang merespon ajaran tersebut, dan menjadikan si nadzir bertindak tidak terkontrol terhadap kelangsungan harta yang diwakafkan yang dianggap seperti pemberian tak bersyarat. Tindakan ini sama halnya dengan menahan nilai, fungsi dan manfaat kekayaan untuk difungsikan. Hal ini bertentangan dengan semangat ajaran wakaf, di mana dalam ajaran tersebut yang ditahan adalah kekekalan materinya agar tetap mampu diambil fungsinya bagi orang lain.

Harta Yang Diwakafkan

Agar ajaran wakaf mendapat respon positif, maka si nadzir harus memiliki profesionalitas untuk mengembangkan nilai/fungsi dan manfaat harta yang diwakafkan. Harta yang diwakafkan harus memiliki nilai fungsi yang lebih luas dari pada ketika berada pada kekuasaan seseorang. Fungsi tersebut bukan sekadar dirasakan oleh orang lain, tetapi juga yang bersangkutan.(wâkif). Jika ajaran wakaf dapat dikemas demikian, maka ajaran tersebut tidak kalah menarik dengan “investasi” yang akan memberikan jaminan dan kepercayaan bagi si pewakaf.

Banyak orang yang mengadopsi anak sekaligus mengalihkan seluruh kekayaannya kepada anak yang diadopsi, hanya untuk memberikan kepastian perawatan dirinya ketika telah bangka nanti. Fenomena ini perlu ditangkap dan dicermati, andaikata ada lembaga agama yang berani memberikan jaminan kelangsungan masa kepapaan seseorang, kita berasumsi bahwa orang tersebut akan memilih lembaga tersebut daripada melakukan adopsi yang belum tentu ada jaminan.

Di era modern, lembaga keagamaan yang mengelola wakaf sudah waktunya belajar dari manajemen lembaga keuangan. Agar wakaf tampil layaknya “investasi sosial” yang menjanjikan, di mana kekayaan yang diwakafkan   bukan hanya sekadar menghidupi pihak yang diwakafi, tetapi juga mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi pewakafya. Wakaf secara tradisional selalu identik dengan hibah tak bersyarat,  yang menyebabkan kebangkrutan bersama, di mana pewakaf telah kehilangan barang yang diwakafkan, dan si nadzir telah melenyapkan barang yang diamanatkan kepadanya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.