Investor: Ciri Seorang Mukmin

0 3

Jika salah satu ciri seorang investor selalu tersenyum di masa tua, maka, ciri seorang yang bukan investor selalu menangis di masa tua. Masa lalu hanya dikenang sebagai beban hidup. Mengapa? Karena kebahagiaan yang diraihnya, tidak mampu dipertahankan. Jika kita berada dalam posisi yang demikian, maka, kita tidak memenuhi ciri sebagai seorang investor. Manusia sejenis ini, tidak akan memiliki sebagian persyaratan untuk disebut sebagai kekasih Tuhan.

Kalimat kekasih Tuhan, dalam bahasa sederhana sering disebut dengan wali. Istilah ini, di masa dulu ketika saya masih kecil, dan karenanya saya juga yakin, khususnya ketika guru ngaji menjelaskan bahwa: “Seorang wali dapat mengubah batu kerikil dan buah nira menjadi untaian emas. Karena ia menjadi emas, maka ia menjadi bernilai. Perubahan dimaksud bukan karena “kepandaian” mistik, tetapi kemampuan imaginer dalam mengubah sesuatu yang tidak berharga menjadi sangat berharga.

Para Wali Menginspirasi Kemukminan

Kisah tentang perubahan dimaksud, dapat disaksikan misalnya dalam film Wali Sanga. Khusus mengenai perubahan itu, terdapat dalam kisah Sunan Kalijaga. Diceritakan, dia memiliki kemampuan untuk mengubah buah nira menjadi emas. Namun dalam umur yang terus merayap, keyakinan itu harus dievaluasi. Evaluasi dimaksud tentu bukan pada aspek materianya, tetapi pada dimensi substansi yang mengitarinya. Seorang wali –dalam bahasa tertentu merupakan titisan para Nabi.

Manusia sejenis ini, selalu berdiri, duduk dan berbaring dalam posisi sebagai seorang pemikir yang kreatif dan imaginer. Mereka adalah seseorang atau sekelompok orang yang selalu berpikir tentang bagaimana mempertahankan barang berharga agar tetap berharga, dan selalu bercita-cita menjadikan sesuatu yang tidak berharga menjadi sangat bernilai. Nilai dimaksud, sampai menjadi seperti emas atau intan.

Batu kerikil dan buah nira sebagaimana dapat dilihat dalam sebuah sessi di film dimaksud, oleh kebanyakan orang selalu dipandang tidak berharga dan tidak bernilai. Namun dengan pemikiran kreatif dan imaginer yang dimiliki para wali itu, yang tidak berharga kemudian berubah menjadi sangat berharga. Nilainya menjadi setinggi setara dengan emas dan intan yang akhirnya diburu banyak orang.

Karena itu, sejarah menunjukkan bahwa tidak ada para salikin dan para shalihin yang dikenal dengan sebutan para wali itu, yang hidup dalam posisi miskin. Mereka justru selalu berada dalam posisi sebagai kelompok kaya baik secara sosiologis maupun ekonomis. Mereka tidak memiliki ketergantungan pada apapun, selain kepada diri dan kepada Tuhannya. Dengan nalar seperti ini, maka pemangku kekuatan ekonomi bangsa, seharusnya adalah mereka yang patut diasumsikan sebagai seorang Mukmin yang menempatkan Tuhan sebagai peack experience atau puncak segala kesemestaan.

Butuh Langkah Besar

Agak aneh, jika dalam hidup kita hari ini, ada sekelompok orang yang mengaku sebagai mukmin, tetapi selalu tergantung kepada kekuatan lain di luar diri dan di luar Tuhannya. Ada orang yang mengatakan bahwa kekuatan politik atau kekuatan budaya, akan menjadi penentu keberhasilannya.Dengan nalar semacam ini, justru akan mendorong banyak orang untuk mengejar kepentingan politik dan budaya. Politik dan budaya, menjadi “Tuhan” baru. Akibatnya, justru banyak orang yang jatuh karenanya.

Yang lebih mengherankan lagi adalah, ketika mereka yang merasa mukmin itu selalu “menuduh” kelompok kaya sebagai manusia yang tak ber-Tuhan. Mereka menyebut pengusaha sebagai kelompok penghalal segala cara. Dalam persepsi saya, kelompok kaya justru patut diduga sebagai pemilik spiritualitas tinggi. Meski mungkin cara ber-Tuhannya berbeda. Karena itu, mungkin sudah waktunya, umat Islam melakukan langkah dan sekaligus perubahan besar dalam menata dirinya.Termasuk dalam soal penataan ekonomi. Prof.  Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...