Ishlah Berlaku untuk Semua Kelompok

0 9

Ishlah Berlaku untuk Semua Kelompok. Ishlah bukan hanya berlaku untuk urusan yang berkaitan individu dengan individu, tapi juga kelompok dan kelompok. Maka, ishlah dapat dilakukan oleh siapapun yang berkeinginan untuk melakukan penyelesaian masalah dengan ishlah.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مُعْتَمِرًا فَحَالَ كُفَّارُ قُرَيْشٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ فَنَحَرَ هَدْيَهُ وَحَلَقَ رَأْسَهُ بِالْحُدَيْبِيَةِ وَقَاضَاهُمْ عَلَى أَنْ يَعْتَمِرَ الْعَامَ الْمُقْبِلَ وَلَا يَحْمِلَ سِلَاحًا عَلَيْهِمْ إِلَّا سُيُوفًا وَلَا يُقِيمَ بِهَا إِلَّا مَا أَحَبُّوا فَاعْتَمَرَ مِنْ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فَدَخَلَهَا كَمَا كَانَ صَالَحَهُمْ فَلَمَّا أَقَامَ بِهَا ثَلَاثًا أَمَرُوهُ أَنْ يَخْرُجَ فَخَرَجَ. (رواه البخارى

Dari Ibnu Umar ra. Rasulullah SAW keluar mengerjakan umrah, lalu dihalangi oleh orang- orang kafir Quraisy untuk ke ka’bah, kemudian beliau menyembelih binatang kurbannya dan mencukur kepalanya di Hudaibiyah, kemudian beliau memberi keputusan kepada mereka bahwa beliau akan melakukan umrah pada tahun mendatang dengan tidak membawa senjata kecuali pedang dan tidak boleh tinggal kecuali diizinkan maka ia melakukan umrah pada tahun mendatang seperti yang telah disepakati, setelah mereka tinggal tiga hari, mereka disuruh keluar lantas keluar.

Jika dilihat dari isyarat hadits di atas serta tabi’nya, maka perjanjian yang menuju kepada ishlâh harus ditepati. Tidak pandang siapa yang mengadakan perjanjian. Baik dikalangan orang muslim maupun non muslim. Sehingga diharapkan ishlâh tersebut betul- betul objektif dan jauh dari pengaruh subjektifitas masing-masing. Hal ini semata- mata adalah tujuan utama dari ishlâh itu sendiri yaitu  kemashlahatan. Hal ini sebagaimana Musa ketika hendak membela dan memenangkan kelompoknya yang berkelai atas yang lain. Tindakan Musa dikatagorikan sebagai tindakan yang semena- mena yang hanya mencari kemenangan bukan kemaslahatan dan kedamaian. Hal ini seperti disebutkan dalam QS. al-Kahfi:19:

فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَهُمَا قَالَ يَامُوسَى أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالْأَمْسِ إِنْ تُرِيدُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ وَمَا تُرِيدُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمُصْلِحِينَ

Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang- orang yang mengadakan perdamaian”.

Ajaran Islam yang bercirikan rahmatan li al-a’lamîn yang berdimensi universal nampak dan dapat di rasa oleh bukan saja oleh orang Islam, melainkan juga orang non muslim, di mana syari’at yang dibawanya bukan pengeblokan yang bersifat fanatis etnis dan lain-lain, melainkan semata-mata kemaslahan asasi kehidupan manusia itu sendiri.

Dalam hal ini konsep islam tentang ishlâh bukan saja diperuntukkan orang Islam, tetapi juga melindungi smua kelompok dan golongan yang mengikat dan melibatkan dalam proses tersebut, tanpa memberikan kekhususan dan perbedaan konsekwensi. Islam akan senantiasa menjaga dan mengikat kedua belah fihak yang telah melakukan ishlâh tersebut serta melindungi keberadaannya tanpa melihat salah satu fihak secara diskriminatif.

Oleh Dr. Ahmad Munir, M.Ag [Dosen Ushuludin STAIN Ponorogo]

Bahan Bacaan
  • al-Ainainy, Abi Muhammad Mahmud Ibnu Ahmad, Al-Binâyah Fi Syarhi Al-Hidâyah, Beirut: Dâr Al-Fikr,tt.
  • al-Asfahâny, al-Râghib, Mu’jam Mufradât Alfâd Al-Qur’an, Beirut: Dâr Al-Fikr, tt.
  • al-Asqalany, Abi Fadlal Ahmad bin Ali Ibnu Hajar, Bulug Al-Marâm, Surabaya: Dâr Al-Ilmi,tt.
  • —————-, Fath al-Bâry, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.
  • al-Bukhari, Muhammad bin Ismail, Shahih al-Bukhari, jilid III, Kairo: Dar Ihya al-‘Arabiyyah, t.t.
  • Ibnu Mandzûr, al-Allamah Abi al-Fadlal Jamaluddin Muhammad bin Mukarram, Lisân al-Arab, Beirut: Dâr Al-Fikr, tt.
  • Madkur, Ibrahim, Al-Mu’jam Al-Wajiz, tp, tt.
  • al-Maraghi, Ahmad Mushthafa, Tafsir al-Maraghi, Beirut: Dâr al-Fikr, tt,

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.