Ishlah Dalam Bentuk Adjective | Perspektif Al-Quran dan AL-Sunnah

0 29

Ishlah Dalam Bentuk Adjective | Perspektif Al-Quran dan AL-Sunnah: Bentuk ini dalam al-Qur’an terulang sebanyak tujuh kali, yang indikasinya dapat diklasifikasikan menjadi beberapa hal:

a.  Upaya yang Berkaitan dengan Masa Depan Anak Yatim

Al-Qur’an memerintahkan agar anak yatim yang berada di bawah tanggungannya dapat dikembangkan baik pribadinya sehingga menjadi orang yang shâlih, maupun hartanya sehingga berkembang untuk kebaikan kehidupan masa depannya. Hal ini seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 220:

فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ishlâh pada ayat ini  adalah upaya untuk memelihara, mendidik, mengajari untuk mempersiapkan kedewasaan si yatim. Serta memelihara dan mengembangkan apa yang ia miliki dari peninggalan orang tuanya sebagai modal kehudupan masa depannya.

b. Berbuat Baik Kepada Sesama Manusia

Firman Allah dalam QS. Al-Nisâ’: 114:

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Al-Thabari menuturkan sebab turunnya ayat tersebut mengenai keinginan seseorang (Thu’mah) untuk membela keluarganya meskipun bersalah dengan membisikkan masalahnya kepada Nabi, masalah ini acap terjadi di kalangan masyarakat sesuai dengan kepentingan dan interes masing-masing.

Perintah bersedekah, melakukan ma’rûf dan upaya melakukan perbaikan di antara manusia yang dikecualikan dari pembicaraan rahasia yang buruk. Menunjukkan bahwa amalan-amalan menjadi terpuji bila dilakukan dengan rahasia. Ketiga hal tersebut pada hakekatnya tidak keluar dari memberi manfaat dan menolak madlarat, pemberian manfaat dapat bersifat materi yang disimbulkan shadaqah. Sementara yang bersifat immateri disimbulkan dengan ma’rûf, sementara yang menolak madharat disimbulkan dengan perbaikan (ishlâh) antar manusia.

Kata ishlâh dalam ayat tersebut dikaitkan dengan pembisikan yang seolah-olah ia bagian dari profokatif dan hipokratif. Hal ini seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang bersumber dari Ummi Kultsum:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ حُمَيْدَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَهُ أَنَّ أُمَّهُ أُمَّ كُلْثُومٍ بِنْتَ عُقْبَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمِي خَيْرًا أَوْ يَقُولُ خَيْرًا. (رواه البخارى

Ummu Kultsum binti Uqbah ia pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bukanlah sang pendusta yang mendamaikan antara manusia. Sebab dia dituntut untuk menyampaikan atau mengucapkan kebajikan

Kata يَنْمِي dalam hadits tersebut (yang difathah awalnya dan dikasrah mim-nya) berarti يبلغ  . Hal ini jika informasi yang sampai yang datang tersebut dalam bentuk ishlâh dan sesuatu yang mengajak kebaikan, tetapi jika informasi yang datang tersebut dalam bentuk perusakan dan profokatif, maka hal tersebut akan diungkapkan dengan kata  نمّى (dengan menggunakan tasydid).

Ibnu Hajar memberikan catatan bahwa dalam matan hadits tersebut terjadi syk perawi yaitu dengan adanya ungkapan أَوْ يَقُولُ خَيْرًا . Para ulama’ berpendapat seperti yang dikutip oleh Ibnu hajar bahwa yang dimaksud oleh  ungkapan  فَيَنْمِي خَيْرًا أَوْ يَقُولُ خَيْرًا adalah bahwa ia menyampaikan segala kebaikan yang ia ketahui dan mendiamkan kejahatan yang ia ketahui. Hal ini tidak dikatagorikan sebagai kebohongan karena kebohongan adalah menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kejadiannya, padahal dalam peristiwa ini si imforman adalah no comment.

Berbeda dengan pendapat sebagian ulama’ bahwa dalam hal-hal tertentu kebolehan sikap bohong jika diniati dengan niat baik, tetapi menurut hadits tersebut sekali bohong tetap bohong dalam kondisi apa dan bagaimanapun. Adapun peristiwa dalam hadits tersebut tidak dikatagorikan kebohongan karena ia hanya mendiamkan bukan mengyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan faktanya.[9]

c.  Ishlâh Dalam Keluarga

Ishlah dalam konteks ini merupakan upaya pendamaian konflik individu (keluarga), yang prosesnya harus melalui juru diplomatik, seperti yang ditegaskan dalam QS. al-Nisâ’:35.

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Al-Marâghi menjelaskan bahwa khitab dalam ayat tersebut secara dhahir ditujukan kepada suami isteri, tetapi juga mencakup semua orang yang menyaksikan peristiwa tersebut. Terlebih khusus adalah kaum kerabatnya agar berupaya untuk menyeleseikan masalah tersebut jika menyaksikannya. Pengupayaan damai oleh pihak ketiga dari masing-masing keluarga suami isteri tersebut. Diharapkan agar antara satu pihak dengan yang lain tidak terlalu mudah untuk melanggar dan mengingkari hasil kesepakatan  yang telah dicapai.

d. Upaya Perbaikan Lingkungan Agar Tidak Terjadi Ketidakseimbangan

Munculnya kesemerawutan dan kondisi caus dalam tatanan kehidupan ini, disebabkan karena ketidak-seimbangan lingkungan sebagai konsekwensi dari perilaku/sikap dhulm. Ketidak seimbangan tersebut baik berupa fisik (alam dan lingkungan), maupun psikis. Dalam hal ini adalah hilangnya moral (keadilan, kejujuran, amanah dan tanggung jawab) yang menyebabkan munculnya sikap brutal. Perbaikan keseimbangan lingkungan ini diisyaratkan oleh firman Allah dalam QS. Al-A’râf: 56:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Sementara perbaikan keseimbangan moral ditunjuki oleh firman Allah dalam QS. Al-A’râf: 85:

قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya.

Kedua ayat tersebut mengisyaratkan bahwa manusia dalam mencari  keteraturan (kedamaian) hidupnya, ia harus mengikatkan dirinya kepada dua ikatan yang kuat yaitu. Pertama dengan alam lingkungan sekitar sehingga akan tercipta populasi  dan ekologi yang  serasi, nyaman dan indah. Kedua dengan Tuhan dengan mentaati segala aturan yang telah ditetapkan, khususnya aturan bermu’amalah dengan sesama manusia. Oleh karena itu manusia sebagai khalifah dituntut untuk selalu menciptakan keteraturan (ishlâh) sesamanya.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbâh, Ciputat: Lentera Hati, Vil. I, 2000

Abi Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Thabary, Jâmi’ Al-Bayân ‘An Ta’wili Ayi Al-Qur’an, Beirut: Dâr Al-Fikr, 1988,J.1,

Al-Imam Al-Sayyid Muhammad Al-Zarqany, Syarh Al-Zarqâny Alâ Muwath-tha’ al-Imam Malik, Beirut: Dâr al-Fikr, tt, Juz. 4

Al-Imam al-Hâfid Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqâlany, Fath al-Bâry, Beirut: Dâr al-Fikr, tt, J. 5

Al-Nawawi Syarh Muslim, Beirut: Dâr al-Fikr, tt, J. 4, hlm.139.

Muhammad Rasyid Ridha, Tafsîr al-Qur’an al-Hakîm, Juz. 7, Beirut: Dâr al-Fikr, tt

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.