Ishlah dalam Bentuk Affirmasi | Perspektif Al-Quran dan Al Sunnah

0 20

Ishlah dalam Bentuk Affirmasi | Perspektif Al-Quran dan Al Sunnah: Kata ishlâh  yang berasal dari kata dengan segala bentuk derivasinya dalam al-Qur’an terulang sebanyak 146 kali. Berbentuk fi’il sebanyak 30 kali, berbentuk shulh sebanyak 2 kali, berbentuk ishlâh sebanyak 7 kali dan berbentuk mushlih sebanyak 5 kali dan selebihnya berbentuk shâlih, dan shâlihât. Dari data tersebut, selanjutnya penulis klasifikasikan berdasarkan bentuk (shîghah) retoriknya yang dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu; bentuk affirmative (khabary), imperative (insyâ’i), adjective (mashdar) dan subjec (isim fail).

Bentuk affirmasi ini dapat diklasifikasikan dan dianalisa dalam beberapa indikasi diantaranya adalah:

Sikap Pro Aktif Juru Dakwah untuk Menyikapi Segala Bentuk Gejala Sosial Maupun Individu

Hal ini dilakukan semata-mata untuk menjaga agar tidak terjadi konflik yang lebih besar dan berkepanjangan. Dalam konteks ini, ishlâh yang diupayakan adalah pencegahan dari segala sesuatu yang berpotensial untuk berkembang. Baik perkembangan tersebut menuju kepada konflik hanya karena tidak segera diatasi, maupun potensi yang berkembang untuk mencapai kedamaian dan kesentosaan jika mendapatkan perhatian secara serius dan segera. Potensi yang pertama seperti yang ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 182:

فَمَنْ خَافَ مِنْ مُوصٍ جَنَفًا أَوْ إِثْمًا فَأَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

(Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Jika dilihat dari kronologi dan penunjukannya, ayat di atas berkaitan dengan masalah wasiat, di mana tidaklah berdosa bagi orang yang berinisiatif berupaya untuk mendamaikan dengan meluruskan isi wasiat si mayit, hanya karena pertimbangan kalau wasiat tersebut tidak diluruskan, maka dikhawatirkan akan terjadi perselisihan bagi ahli waris yang diwasiati sehingga akan membawa kepada pertikaian. Dengan catatan bahwa pelurusan tersebut tidaklah bertentangan dengan niat baik si pewasiat dan juga tidak menyalahi aturan syara’ yang ada. Potensi yang kedua seperti yang diisyaratkan oleh QS. Al-An’âm: 48:

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ فَمَنْ ءَامَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS. Al-An’âm: 48)

Al-Qur’an memberikan pujian terhadap orang yang mau menerima, mendengarkan dan melaksanakan apa yang disampaikan oleh para Rasul yang selanjutnya ditindak- lanjuti oleh para da’i. Lalu mereka mengadakan perbaikan terhadap kesalahan yang mereka kerjakan setelah datang petunjuk.

Ishlah Kolektif

Upaya perbaikan tersebut merupakan potensi dasar yang akan berkembang dan akan memberikan jaminan keamanan serta terhindar dari rasa ketakutan dan kesedihan. Ringkas kata keimanan dan upaya perbaikan (ishlâh) akan membebaskan diri manusia dari rasa takut dan sedih. Karena dari rasa takut dan sedih inilah yang selalu menghalangi dinamika dan kreativitas manusia.

Jika kejahatan tersebut dilakukan secara kolektif, maka taubat dan ishlah-nya pun juga harus dilakukan secara kolektif dari kelompok yang bersalah. Hal ini seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 160:

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Ayat di atas berkaitan dengan ayat yang sebelumnya yang mengecam masalah upaya pembohongan ajaran dan publik opini yang menyebabkan mereka akan dikecam oleh Allah dan seluruh makhluk yang dapat melaknati. Proses pengampunan kesalahan tersebut harus dilakukan secara kolektif dengan mengembalikan segala apa yang selama ini mereka bohongi dan mereka sembunyikan. Oleh karena itu seorang da’i, pemimpin dan lain-lain selalu dituntut untuk ekstra tanggap dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang timbul di masyarakat. Hal ini seperti yang  telah dilakukan oleh Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari yang bersumber dari sahl bin Sa’ad:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأُوَيْسِيُّ وَإِسْحَاقُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَرْوِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ أَهْلَ قُبَاءٍ اقْتَتَلُوا حَتَّى تَرَامَوْا بِالْحِجَارَةِ فَأُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ فَقَالَ اذْهَبُوا بِنَا نُصْلِحُ بَيْنَهُمْ.(رواه البخارى)

Dari Sahl bin Sa’ad ra. Menceritakan bahwa penduduk Quba telah terjadi percekcokan sehingga di antara mereka telah terjadi lempar-melempar dengan batu, lalu rasulullah diberi tahu hal tersebut seraya beliau bersabda: Mari pergi bersama kami untuk mendamaikan mereka.

Komentar
Memuat...