Ishlah Dalam Bentuk Imperatif Perspektif Al-Quran

0 41

Ishlah Dalam Bentuk Imperatif Perspektif Al-Quran. Bentuk ini dalam al-Qur’an diulang sebanyak enam kali, dengan dua model bentuk subjeknya, yaitu menggunakan subjek tunggal sebanyak dua kali, dan bentuk jama’ sebanyak empat kali. Dari ke- enam bentuk tersebut jika dilihat dari isyaratnya, dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:

Ishlah Sebagai Do’a dan Permohonan Kepada Allah

Dalam konteks ini permohonan hamba kepada Allah agar Dia memberikan kebaikan kepadanya dengan memberikan kebaikan kepada keturunannya. Hal ini seperti firman Allah dalam QS. Al-Ahqâf: 15:

قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Ayat di atas berkaitan dengan masalah keharmonisan kehidupan dalam keluarga, di mana Allah mewajibkan agar manusia berbuat kebajikan kebada kedua orang tuanya dengan cara menceritakan kebajikan orang tuanya yang telah didermakan kepadanya yang diakhiri dengan permohonan ishlâh terhadap anak cucunya.

Berangkat dari ayat ini jika diperhatikan secara seksama bahawa kerukunan masyarakat berangkat dari kerukunan keluarga. Oleh karena itu sebelum meng-ishlah-kan masyarakat, terlebih dahulu harus meng-ishlah-kan keluarganya.

Ishlah Sebagai Perintah untuk Mendamaikan Pertikaian

Dalam konteks ini, upaya perdamaian suatu kelompok diisyaratkan oleh al-Qur’an dengan dua bentuk yaitu bentuk tunggal dan bentuk jama’; bentuk tunggal menunjukkan kekuasaan tindakan yang harus dilakukan oleh para da’I dan pemimpin ketika melihat kerusakan. Sehingga ishlâh di sini identik dengan tindakan represip (penumpasan) ketika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan. Hal ini seperti firman Allah dalam QS. Al-A’râf: 142:

وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً وَقَالَ مُوسَى لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ

Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.”

Sementara yang berbentuk jama’ menunjukkan upaya perdamaian antara kelompok yang bersengketa secara persuasif. Jika ada yang tidak menghendaki adanya perbaikan, maka barulah tindakan yang bersifat represif agar kembali kepada perbaikan (). Firman Allah dalam QS. Al-Hujurât: 9:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu. Sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Oleh: Ahmad Munir

Komentar
Memuat...