Ishlah dalam Terminologi Al-Quran dan Al Sunnah

1 188

Ishlah dalam Terminologi | Perspektif Al-Quran dan Al Sunnah: Al-Qur’an adalah dustur bagi orang Islam yang tidak hanya sekedar mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Al-Qur’an juga mengatur hubungan manusia dengan sesama dan lingkungannya, baik antar individu maupun kelompok (sosial).

Dalam sejarah kehidupan manusia, senantiasa diwarnai dengan konflik. Konflik dimaksud mulai dari level komunitas terkecil seperti konflik rumah tangga, hingga ke tingkat komunitas menengah seperti konflik antar partai, kelompok dan golongan. Bahkan sampai komunitas yang sangat besar yaitu konflik antar bangsa dan negara.

Konflik tersebut sering dilatarbelakangi oleh berbagai motif dan kepentingan. Salah satu sebabnya adalah hilangnya nilai-nilai kebajikan dan kemanusiaan, kedamaian serta persaudaraan, baik antar individu maupun antar kelompok.

Oleh karena itu upaya-upaya yang menuju kepada rekonsiliasi dan perbaikan kembali hubungan antara pihak- pihak yang bertikai sangatlah diperlukan. Hal ini demi tercapainya kembali tatanan kehidupan yang harmonis, damai dan saling pengertian. Dalam konteks inilah salah satu fungsinya Nabi diutus oleh Allah ke dunia ini untuk menabur dan menebarkan rahmat dan kesentosaan di kalangan manusia di alam ini.

Kebutuhan Asasi Manusia

Kebutuhan keamanan, ketenteraman dan kedamaian adalah merupakan kebutuhan manusia yang asasi. Oleh karena itu pengupayaan kepada nilai tersebut adalah merupakan kebajikan yang sangat dimuliakan. Dalam hal ini dakwah yang merupakan wadah dan format penyampaian informasi keagamaan yang ditujukan kepada ummat manusia adalah sangat strategis jika informasi tersebut disampaikan dengan format yang mampu mereda dan menghindari konflik. Baik konflik antar individu maupun kelompok, sehingga kedamaian dan ketenteraman dapat dirasakan kembali.

Tulisan ini akan mengkaji bagaimana hakekat ishlâh yang diajukan oleh Islam baik melalui al-Qur’an maupun al-Hadits yang dilihat dari perspektif aktivitas dakwah. Dari asumsi dasar ini, maka dalam pembahasannya penulis akan melihat secara langsung baik ayat (al-Qur’an) maupun al-Sunnah (al-Hadits) yang memberikan isyarat terhadap masalah- masalah tersebut. Baik secara konotatif maupun secara denotatif, yang selanjutnya penulis temakan untuk memudahkan menganalisa secara sistematis.

Makna Ishlah

Secara bahasa, kata ishlâh berasal dari kata صلح  yang berarti baik dan bagus. Kata صلاح  sering diantitesakan dengan kata سيّئة \ فساد (rusak/ buruk). Dalam pemakaiannya kedua kata tersebut dipakai dalam konteks verbal, sementara kata الصلح biasanya dipakai khusus untuk menghilangkan persengketaan di kalangan manusia, tetapi jika dipakai oleh Allah, maka إصلاح الله الناس  kadang- kadang dilakukan melalui tiga cara yaitu; melalui proses penciptaan secara sempurna, kadang- kadang dengan menghilangkan suatu kejelekan atau kerusakan setelah keberadaan manusia dan kadang- kadang dilakukan melalui penegakan hukum (aturan) terhadap manusia itu sendiri.

Ibrahim Madakûr dalam Mu’jam-nya ia berpendapat bahwa kata ishlâh  yang berasal dari kata صلح mengandung dua makna yaitu; manfaat dan keserasian serta terhindar dari kerusakan, sehingga jika kata tersebut berbentuk imbuan: أصلح بينهما maka berarti menghilangkan segala sifat permusuhan dan pertikaian antara kedua belah pihak, dan berarti menghilangkan dan kata الصلح berarti menghentikan segala bentuk permusuhan. Sementara Ibnu Mandzûr dalam Lisan-nya berpendapat bahwa kata صلح bermakna sebagai antitesa dari kata فسد, dan kata أصلح الشيئ  biasanya mengindikasikan suatu rehabilitasi dan rekonsiliasi  setelah terjadi kerusakan sehingga kata tersebut lebih tepat bermakna أقامه.

Ishlah dalam Makna Genetik

Di samping makna dari sisi genetiknya, kata tersebut juga memiliki sinonim, di antaranya adalah tajdîd  (pembaruan), btagyîr (perubahan), yang keduanya mengarah kepada kemajuan dan perbaikan kondisi. Maka dalam hal ini ishlâh akan selalu bertalian dengan tugas para Rasul yang ditindak- lanjuti oleh ummatnya hingga saat ini. Di samping itu ishlâh juga merupakan bentuk kesepakatan antara kedua belah pihak yang mengadakan perbaikan dengan jalan damai, baik dalam  keluarga, sosial maupun dalam peperangan dan lain-lain.

Dalam sosialisasi pergaulan, sikap emosi antara satu individu  dengan yang lain relatif variatif. Ada yang bertemperamen rendah (sabar), ada yang bertemperamen sedang dan ada yang tinggi. Sehingga wajar kadang- kadang terjadi perselisihan dalam bersosialisasi. Dalam hal ini Islam telah menyadari tipe watak dan variasi temperamen manusia tersebut. Sehingga, ia memberikan fasilitas lembaga ishlâh  jika ternyata di kemudian hari terjadi perselisihan dan persengketaan yang tidak dapat dielakkan.

Dalam menyeleseikan masalah konflik, Islam tidak mengedepankan sikap panish  bagi yang merasa tindakannya benar atas yang salah. Ia lebih mendorong dan memfasilitasi proses penyeleseian dengan memberikan prestasi bagi siapa dari orang yang terlibat dalam sengketa yang lebih dahulu mengedepankan sikap kesatriaannya yaitu dengan mengedepankan ishlâh atas gep yang telah terjadi. Hal ini seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang bersumber dari Abi Ayyub bahwa:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَصُدُّ هَذَا وَيَصُدُّ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ وَذَكَرَ سُفْيَانُ أَنَّهُ سَمِعَهُ مِنْهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Abi Muhammad Ibnu Ahmad al-Ainy, Al-Binâyah Fi Syarhi al-Hidâyah, Beirut: Dâr al-Fikr, Juz. 9

al-Râghib al-Asfahâny, Mu’jam Mufradât Alfâdz al-Qur’an, Beirut: Dâr al-Fikr, tt

Ibrahim Madzkur, Al-Mu’jam al-Wajîz, tp, tt

Al-Allamah Abi al-Fdhal Jamaluddin Muhammad bin Mukarram Ibnu Mandzûr, Lisân al-Arab, Beirut: Dâr al-Fikr, tt

John, O. Voll, Pembaharuan dan perubahan dalam sejarah Islam dalam “Dinamika Kebangunan Islam, Jakarta: Rajawali Press, 1987, Cet. I

Hasbi al-Siddiqiey, Al-Islâm, II, Jakarta: Bulan Bintang, tt

  1. Andri kohar berkata

    Bagus dan menarik untuk dikaji dan di diskusikan .

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.