Ishlah Menjadi Batal Jika Didasarkan Atas Sikap Pura-pura

0 19

Ishlah Menjadi Batal Jika Didasarkan Atas Sikap Pura-pura. Ishlah merupakan lembaga penyeleseian konflik dalam kehidupan. Baik antar individu, keluarga dan masyarakat sebelum diputuskan oleh lembaga pengadilan. Jika upaya ishlah dapat tercapai, hasilnya akan lebih efektif bagi kedua belah pihak. Karena perkaranya bisa diseleseikan dengan tidak mempengaruhi hubungan moral (mental), sehingga ia lebih baik dari pada menempuh jalan peradilan. Meskipun begitu, kita tidak diperkenankan untuk melakukan Ishlah karena didasarkan pada sikap kepura- puraan.

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَزَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اقْضِ بَيْنَنَا بِكِتَابِ اللَّهِ فَقَامَ خَصْمُهُ فَقَالَ صَدَقَ اقْضِ بَيْنَنَا بِكِتَابِ اللَّهِ فَقَالَ الْأَعْرَابِيُّ إِنَّ ابْنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هَذَا فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ فَقَالُوا لِي عَلَى ابْنِكَ الرَّجْمُ فَفَدَيْتُ ابْنِي مِنْهُ بِمِائَةٍ مِنْ الْغَنَمِ وَوَلِيدَةٍ ثُمَّ سَأَلْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ فَقَالُوا إِنَّمَا عَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللَّهِ أَمَّا الْوَلِيدَةُ وَالْغَنَمُ فَرَدٌّ عَلَيْكَ وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ وَأَمَّا أَنْتَ يَا أُنَيْسُ لِرَجُلٍ فَاغْدُ عَلَى امْرَأَةِ هَذَا فَارْجُمْهَا فَغَدَا عَلَيْهَا أُنَيْسٌ فَرَجَمَهَا. (رواه البخارى)

Dari Abi Hurairah dan Zaid bin Khalid Al-Juhaini ra.berkata: Telah datang orang Arab badui seraya berkata; Wahai Rasulullah hukumilah kami ini dengan kitab Allah lalu bangunlah lawan perkaranya seraya berkata: Benar,hukumilah di antara kami ini dengan kitab Allah,lalu Arab badui berkata: Sesungguhnya anak saya telah jatuh cinta sehingga terjadi perzinaan. Setelah itu mereka mengatakan kepada saya bahwa anak saya harus dirajam,lalu anak saya saya tebus dengan seratus ekor kambing dan seorang budak perempuan, kemudian saya menanyakan kepada orang yang ahli ternyata mereka mengatakan bahwa; anakmu haru dirajam dan dibuang selama setahun, lalu Nabi SAW bersabda; Saya akan hukumi kalian berdua dengan kitab Allah, adapun budak dan kambing itu kembalikan dan ambillagi sementara anakmu harus dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun,adapun engkau (Anis) adalah hak seseorang maka pulanglah dan rajamlah,lalu ia pulang dan merajamnya.

Ishlah yang Didasarkan atas Sikap Pura-pura adalah Batal

Hadits di atas memberikan alur cerita bahwa datangnya kedua kelompok kepada Nabi. Mereka meminta supaya Nabi memberi keputusan hukum terhadap  masalah yang terjadi pada mereka. Masalah dimaksud pada hakekatnya bukan karena mereka tidak tahu hukum yang harus mereka lakukan. Akan tetapi mereka berpura- pura tidak tahu dan ingin meminta keputusan yang meringankan dan sesuai dengan keinginan mereka. Bukan keputusan yang adil sesuai dengan kitab Allah.

Maka dalam hal ini upaya ishlâh yang mereka ajukan hanyalah sikap pura-pura belaka. Mereka berharap Nabi akan menyikapi serius sikap kepura- puraan mereka. Tetapi akhirnya Nabi tetap memutuskan seperti apa yang telah ditentukan oleh Allah. Akhirnya mereka merasa kecewa, karena memang niatnya bukan untuk mencari keadilan dan kebenaran. Mereka tidak lain hanya mencari kemudahan sesuai dengan selera mereka.

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits di atas berkaitan dengan perdamaian (perjanjian) yang dilakukan atas sesuatu yang akan dijatuhi hukum had. Tetapi ia ingin berpaling/menghindar dari hukum tersebut. Dalam kasus ini ternyata ishlâh tidak dapat diterima. Hal ini karena perkara yang akan diishlahkan adalah perkara yang penyeleseiannya melalui proses hudud. Sementara motif Islahnya murni hanya untuk menghindar dari tanggung jawab hukum.

Dengan demikian ishlâh yang boleh dilakukan adalah ishlah dalam masalah kemanusiaan yang tidak dalam cakupan wilayah hudud, serta tidak untuk menghindar dari tanggung jawab hukum, dan jika ternyata hal tersebut dilakukan, maka ishlah tersebut dikatagorikan sebagai sesuatu yang jaur.

Ishlah dalam model ini dianggap jaur, karena pada hakekatnya bukan untuk mencapai kemaslahan dan menghindarkan mafsadah, tetapi murni hanya sebagai dalih untuk menghindar dari tanggung-jawab hukuman.

Komentar
Memuat...