Ishlah Sebagai Upaya Perbaikan Konflik dan Hutang Piutang

0 16

Ishlah Sebagai Upaya Perbaikan Konflik dan Hutang Piutang. Kata ishlâh sebagaimana tertulis dalam surat An Nisa ayat 114 dikaitkan dengan pembisikan sehingga seolah- olah ia bagian dari profokatif dan hipokratif. Hal ini seperti hadits yang bersumber dari Ummi Kultsum:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ حُمَيْدَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَهُ أَنَّ أُمَّهُ أُمَّ كُلْثُومٍ بِنْتَ عُقْبَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمِي خَيْرًا أَوْ يَقُولُ خَيْرًا. (رواه البخارى)

Ummu Kultsum binti Uqbah ia pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bukanlah sang pendusta yang mendamaikan antara manusia. Sebab dia dituntut untuk menyampaikan atau mengucapkan kebajikan”

Kata يَنْمِي dalam hadits tersebut (yang difathah awalnya dan dikasrah mim-nya) berarti يبلغ . Hal ini jika informasi yang sampai dan datang tersebut dalam bentuk ishlâh dan sesuatu yang mengajak kebaikan. Tetapi jika informasi yang datang tersebut dalam bentuk perusakan dan profokatif, maka hal tersebut akan diungkapkan dengan kata  نمّى (dengan menggunakan tasydid).

Ibnu Hajar memberikan catatan bahwa dalam matan hadits tersebut terjadi syk perawi yaitu dengan adanya ungkapan أَوْ يَقُولُ خَيْرًا . Para ulama’ berpendapat seperti yang dikutip oleh Ibnu hajar bahwa yang dimaksud oleh  ungkapan  فَيَنْمِي خَيْرًا أَوْ يَقُولُ خَيْرًا adalah bahwa ia menyampaikan segala kebaikan yang ia ketahui dan mendiamkan kejahatan yang ia ketahui. Hal ini tidak dikatagorikan sebagai kebohongan karena kebohongan adalah menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kejadiannya. Padahal dalam peristiwa ini si informan adalah no comment.

Berbeda dengan pendapat sebagian ulama’ bahwa dalam hal-hal tertentu boleh bohong jika diniati dengan niat baik. Tetapi menurut hadits tersebut sekali bohong tetap bohong dalam kondisi apa dan bagaimanapun. Adapun peristiwa dalam hadits tersebut tidak dikatagorikan kebohongan karena ia hanya mendiamkan bukan menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan faktanya.

Ishlah dalam Hutang Piutang

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ وَقَالَ اللَّيْثُ حَدَّثَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ كَعْبٍ أَنَّ كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ تَقَاضَى ابْنَ أَبِي حَدْرَدٍ دَيْنًا كَانَ لَهُ عَلَيْهِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا حَتَّى سَمِعَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي بَيْتٍ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمَا حَتَّى كَشَفَ سِجْفَ حُجْرَتِهِ فَنَادَى كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ فَقَالَ يَا كَعْبُ فَقَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَشَارَ بِيَدِهِ أَنْ ضَعْ الشَّطْرَ فَقَالَ كَعْبٌ قَدْ فَعَلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُمْ فَاقْضِهِ. (رواه البخارى)

 Pada masa Rasulullah Ka’ab bin Malik pernah cekcok dengan  Ibn Abi Hadrad atas hutangnya di dalam masjid dengan suara yang lantang sehingga didengar oleh Rasulullah SAW. Ketika beliau di rumah, lalu Rasulullah SAW keluar menjumpai mereka berdua sehingga terbukalah tirai dindingnya lantas beliau memanggil Ka’ab bin Malik seraya menyeru: Ya Ka’ab, lantas Ka’ab menyahut dengan mengacungkan tangannya sehingga di atas tirai lalu Ka’ab mengatakan; telah saya lakukan ya Rasulullah, maka Rasulullah SAW bersabda; berdirilah dan seleseikan.

Hadits di atas menceritakan ishlâh dalam masalah perselisihan hutang piutang. Menurut pendapat Ibnu Hajar bahwa orang yang berhutang (gharîm) boleh mengadakan ishlâh dengan orang yang dihutangi dengan membayar nominal yang lebih sedikit dari yang semestinya jika waktu pelunasannya telah jatuh tempo dan disetujui oleh yang dihutangi. Tetapi jika belum jatuh tempo, maka tidak boleh mengadakan ishlâh bahkan ia wajib untuk menyelesaikan.

Ishlah dalam Masalah Wan Prestasi

Jika masalah wan prestasi merupakan salah satu kasus dari kriminal yang menyita hak orang lain dengan tidak sah. Maka pencurian dan yang semisalnya adalah merupakan induknya (dlulm). Dalam hal ini al-Qur’an memandang bahwa ishlâh dalam kasus tersebut identik dengan taubat. Oleh karena itu ia tidak menghalangi dari pertanggungan jawab atas kedlaliman yang telah dilakukan. Sementara ishlâh nya adalah merehabilitasi moralnya yang telah cedera dan kembali kepada kesuciannya. Konsekwensi ishlahnya adalah bukan ia tidak dituntut pertanggungan jawab di dunia, melainkan ia hanya akan dibebaskan pertanggungan jawab di akhirat nanti jika ia memang bertaubat dan berishlah.

Oleh Dr. Ahmad Munir, M.Ag [Dosen Ushuludin STAIN Ponorogo]

Bahan Bacaan

Shahih Muslim: 2605, At-Tirmidzi: 1938, Abu Daud: 4920, 4921, Ahmad: 26727.

Al-Imam Al-Sayyid Muhammad Al-Zarqany, Syarh Al-Zarqâny Alâ Muwath-tha’ al-Imam Malik, Beirut: Dâr al-Fikr, tt, Juz. 4

Al-Hâfid Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalany, Fath al-Bâry, Beirut: Dâr al-Fikr, tt, J. 5

An-Nawawi Syarh Muslim, Beirut: Dâr al-Fikr, tt, J. 4

Muhammad Ali Al-Shabuny, Shafwah Al-Tafâsîr,Beirut: Dâr al-Fikr, tt, J.I

Komentar
Memuat...