Take a fresh look at your lifestyle.

Isis Pertarungan di antara Sunni dan Syiah

0 27

Dua puluh tahun yang lalu (1996), Prof. Harun Nasution menyebut Timur Tengah sebagai Negeri penuh konflik. Di auditorium Pascasarjana IAIN Ar Raniry Banda Aceh, dia menyatakan bahwa hanya Nabi Muhammadlah, yang dapat menyatukan Timur Tengah. Sebelum kelahiran dan sepeninggalnya, bahkan sampai dunia berakhir, Timur Tengah tidak akan pernah berada dalam kedamaian yang sempurna. Pernyataannya ini, tentu didukung berbagai argumentasi yang kadang kami merasa baru mendengarnya.

Menilik pernyataan tadi, kami awalnya menganggap beliau sebagai tokoh skeptis. Dalam banyak kasus, bahkan ada kesan mau melakukan perlawanan kritis terhadap berbagai keyakinan kami. Tetapi, tentu kami selalu kalah karena kehilangan logika. Terlebih yang kami hadapi adalah tokoh rasionalis Muslim Indonesia. Icon-nya sebagai rasionalis Muslim, telah membuat kami harus merasa kalah argumentasi sebelum berbuat apapun.

Bagi kami saat itu, ia menjadi figure yang tidak percaya pada suatu persepsi yang secara inderawi (sense perception), khususnya terkait dengan Timur Tengah— dalam makna positif. Kami menganggap bahwa Timur Tengah selalu berusaha untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan suatu fakta bahwa banyak sekali, masyarakat Indonesia yang belajar di sana.

Arab termasuk di antara suatu komunitas masyarakat yang percaya akan kemampuan akal budi (reason) untuk mendapatkan pengetahuan penuh agar tercipta perdamaian abadi. Termasuk didalamnya adalah perdamaian antar sesama mereka yang hidup didalamnya.

Islam dan Dunia Arab

Islam yang kami fahami, dan telah tersimpan dalam kortek otak-pun sudah cukup lama memberitahukan bahwa Islam adalah agama hanief dan pemeluknya pasti hanief. Islam mengajarkan kedamaian dan pengikutnya pasti damai. Salah satu kelebihan Islam, justru terletak pada semangatnya untuk menciptakan perdamaian dan kedamaian abadi. Timur Tengah adalah wilayah di mana Islam itu diturunkan. Jadi agak musykil jika masyarakat ini, tidak tumbuh dengan kedamaian. Begitulah logika kami.

Ternyata pemahaman yang seperti itu, tidak selamanya benar. Bukan tentang Islamnya, tetapi tentang masyarakat yang mendiami wilayah Timur Tengah. Salah satu bukti bahwa penduduk masyarakat Timur Tengah sulit akur itu, adalah adanya perang hanya karena perbedaan pemahaman antara sunni dan Syiah. Perang ini telah berlangsung; tertutup atau terbuka, sejak Nabi Muhammad Saw wafat.

Kita tidak mungkin menutup mata adanya asumsi bahwa gerakan ISIS sendiri, lahir karena perebutan kekuasaan. Perebutan pengaruh dari mereka yang memiliki basis massa sunni dan Syiah. Dalam beberapa tahun terakhir, kebetulan yang syi itu, selalu memenangkan pertarungan, khususnya di negara Suriah, Irak dan tentu yang lebih lama adalah Iran. Tiga negara inilah yang melahirkan poros ISIS. Perangpun terus membuncah sampai ke beberapa negara tetangnya. Termasuk kemungkinan membawa pengaruhnya ke Indonesia.

Dilihat dari sisi ini, Islam yang hanief cenderung telah dikotori nafsu sebagian manusia, terhadap apa yang diimpikannya dalam bentuk kekuasaan. Semoga Indonesia tidak demikian. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar