Islam Anti Kemiskinan

Islam Anti Kemiskinan
0 99

Kata miskin [adjective] dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan tidak memiliki harta benda. Tidak memiliki harta dimaksud, menyebabkan dirinya tidak cukup menutupi  kebutuhan  pokok sehari-hari. Lebih parah dari miskin, sering disebut fakir. Fakir adalah mereka yang berpenghasilan sangat rendah bahkan dibandingkan dengan kata miskin itu sendiri.

Fakir  secara umum sering diterjemahkan dengan mereka yang berpenghasilan kurang dari setengah kebutuhan pokoknya. Dua kata di atas [miskin dan faqir] sering diperlawankan dengan kaya yang dalam kamus tadi diterjemahkan dengan mereka yang memiliki banyak harta dalam bentuk uang dan barang, seperti: emas, tanah dan bangunan.

Pertanyaannya, benarkah Islam anti kemiskinan? Jika benar, mengapa dari 8 besar pengikut agama di dunia, umat Islam justru berada diurutan ke 7 sebagai kelompok pengikut agama terbelakang. Pertanyaan ini yang akan dikaji dalam tulisan ini.

Ayat-ayat Al Qur’an tentang Anti Kemiskinan

Banyak ayat Al-Quran yang memuji seseorang yang memiliki ketercukupan dalam hidupnya Al-Quran  menganjurkan  umat-Nya untuk  memperoleh kelebihan rezeki. Misalnya Allah memerintahkan umat manusia untuk bertebaran di muka bumi, mencari keunggulan Tuhan, khususnya setelah mereka selesai melaksanakan shalat (Jumat) agar mereka mendapatkan kelebihan kekayaan (Al-Jum’ah [62]: 10)

Kitab Suci ini juga telah mengingatkan Nabi Muhammad Saw. tentang betapa besar anugerah Allah kepada beliau, yang antara lain  menjadikannya berkecukupan  (kaya)  setelah sebelumnya papa. Bukankah Allah telah mendapati kamu dalam keadaan miskin, kemudian Dia menganugerahkan kepadamu kecukupan? (QS Al-Dhuha [93]:  8).

Seandainya kecukupan atau kekayaan tidak terpuji,  niscaya  ia tidak  dikemukakan  oleh  ayat di atas dalam konteks pemaparan anugerah llahi. Berupaya untuk memperoleh kelebihan. Di musim haji sekalipun,  Allah tidak menyebut adanya dosa bagi mereka yang mencari fadhl (kelebihan) dari Allah (di musim haji). (Al-Baqarah    [2]: 198).

Allah sendiri menyebut bahwa Dialah yang menjadi pencipta dua naluri manusia yang memiliki relevansi dengan pentingnya penguasaan ekonomi. Hal ini tercermin dari firman-Nya (ali Imran [3]: 14) yang menyatakan: “Dijadikan indah dalam (pandangan) manusia, dalam bentuk kesenangan kepada syahwat, berupa wanita (lawan seks), harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan,  binatang ternak dan sawah serta ladang. Ayat ini, menurut saya adalah ayat kemanusiaan yang mengalaskan pentingnya penguatan asset ekonomi.  Para fakar Muslim tertentu, bahkan menyebut kedua  naluri  tadi sebagai naluri pokok manusia.

Naluri kepemilikan itu, mengutif Ibnu Khaldun  dalam  Muqaddimah-nya, akan mendorong manusia untuk bekerja  dan berusaha dengan sekuat tenaga.  Hasil kerja mereka yang mau berusaha itu, apabila mencukupi kebutuhannya disebut  rizki,  dan  jika hasil usahanya itu melebihi kebutuhan hidupnya disebut dengan kasb (hasil usaha). Apabila engkau telah menyelesaikan satu pekerjaan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (pekerjaan yang   lain, agar jangan menganggu), dan hanya kepada Tuhanmu sajalah hendaknya kamu mengharap (al Insirah [94]:   7-8).

Rasulullah pernah bersabda: “Salah seorang di antara kamu mengambil tali, kemudian   membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya lalu   dijualnya, sehingga ditutup Allah air mukanya, itu   lebih baik daripada meminta-minta kepada orang, baik ia   diberi maupun ditolak (HR Bukhari). Kalau  di  tempat  seseorang  berdomisili,   tidak   ditemukan lapangan   pekerjaan.

Definisi Kemiskinan

Al-Quran   menganjurkan  kepada  orang tersebut untuk berhijrah mencari tempat lain, dan  ketika  itu pasti dia bertemu di bumi ini, tempat perlindungan yang banyak dan keluasan, barangsiapa berhijrah di jalan Allah niscaya mereka   mendapat di muka bumi tempat yang luas lagi rezeki yang   banyak (QS Al-Nisa’ [4]: 100).

Quraisy Shihab (1991), menyebut bahwa Al Qur’an, tidak memberi definisi yang pasti akan makna fakir dan miskin. Al-Quran juga tidak menetapkan  ukurannya. Ia tidak  memberi petunjuk operasional tentang cara pengentasannya. Inilah, menurut fakar Tafsir Indonesia tersebut, yang menjadi sebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan fakar Muslim dalam mendefinisikan dua kata dimaksud.

Sekalipun demikian, masih dalam tulisan Quraisy Shihab yang mengutif Yusuf Qardhawi, al Qur’an tidak membenarkan  seseorang yang hidup di tengah masyarakat Muslim, mengalami derita lapar, tidak berpakaian, tidak bertempat tinggal dan membujang, sekalipun mereka itu ahl Al-Dzimmah (non-Muslim).

Secara bahasa, menurut M. Quraisy Shihab (1991) kata miskin berasal dari bahasa Arab, terambil  dari  kata sakana yang  berarti diam atau tenang. Sedangkan fakir berasal dari kata faqr yang berarti patah tulang punggung akibat beratnya beban yang dipikul, sehingga beban itu dapat “mematahkan”  tulang punggung mereka.

Padahal al-Quran mengecam mereka yang mengharamkan hiasan  duniawi  yang  diciptakan  Allah bagi umat manusia (QS Al-A’raf [7]: 32). Allah  menjanjikan ampunan  dan  anugerah yang berlebih, sedang setan menjanjikan kefakiran (QS Al-Baqarah [2]: 268). Tidak mengherankan, jika dalam berbagai literatur agama ditemukan ungkapan yang menyebut: “Hampir saja kekafiran itu menjadi kekufuran”.  Nabi Muhamad Saw. Berdoa:  “Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran (HR Abu Dawd).  Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan dan kehinaan, dan Aku berlindung pula dari menganiaya dan dianinya (HR Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Islam dan Materialisme

Meskipun demikian,  bukan berarti Islam itu materialistik. Ajaran Islam  tidak  mengajarkan banyaknya harta sebagai  tolokukur kekayaan, karena kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan bathin.  Di sini letak pentingnya hidup dalam rumus keseimbangan. Apa yang difirmankan Allah dalam (Q.S. Al-Qashash: 77) yang secara jelas menyatakan bahwa: “Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dalam surat Al-Isra’ [17]: 26-27) Allah menyatakan: “Berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. Di surat al Baqarah [2]: 43 Allah menyatakan: “Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku”.

Disebut miskin, karena mereka mengambil sikap berdiam  diri,  tidak  mau bergerak untuk melakukan usaha. Padahal, ketidakmauan untuk berusaha itu, termasuk ke dalam teori penganiayaan diri sendiri. Harus juga diakui bahwa ada orang yang bergerak berusaha, hanya mereka tidak memiliki kemamampuan berusaha yang disebabkan adanya penganiyaan yang dilakukan manusia lain. Kemiskinan yang timbul atas situasi yang demikian, sering disebut dengan kemiskinan struktural.

Simpulan

Berdasarkan narasi di atas, saya menyimpulkan bahwa, jika manusia mau bergerak dan berusaha, dan jika pergerakannya itu memiliki ruang dinamis yang sama, maka, semua manusia tidak mungkin hidup kurang. Kesan ini lebih jelas apabila memperhatikan ayat al Qur’an yang menjaminan rezeki kepada makhluk yang dinamainya  dabbah. Kata Dabbah secara harfiah berarti  bergerak.

Tidak ada satu dabbah pun di muka bumi kecuali Allah yang menjamin rezekinya (QS Hud [11]: 6. Surat Ibrahim [14]: 34, menyebutkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada manusia segala apa yang diminta (butuhkan dan inginkan). Jika kamu mengitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak mampu  untuk menghitungnya. Sesungguhnya manusia sangat aniaya lagi sangat kufur. Dalam ayat dimaksud, sebelumnya Allah menyatakan bahwa: “Nikmat-Nya,  seperti  langit, bumi, hujan, laut, bulan dan matahari.

Sumber daya alam yang disiapkan Allah untuk umat manusia tidak terhingga  dan tidak terbatas. Seandainya sesuatu telah habis, maka ada alternatif lain yang disediakan Allah selama  manusia berusaha.  Oleh  karena  itu,  tidak  ada alasan untuk berkata bahwa sumber daya alam terbatas, tetapi sikap manusia terhadap pihak lain, dan  sikapnya  terhadap  dirinya  itulah  yang menjadikan sebagian manusia tidak memperoleh sumber daya  alam tersebut dengan baik. Inilah yang disebut dengan butuhnya keseimbangan hidup.

Faktor lain yang menyebabkan seseorang menjadi miskin adalah, pandangannya yang keliru tentang kemiskinan itu sendiri.  Misalnya banyak orang –khususnya umat Islam– yang berpandangan  bahwa kemiskinan adalah sarana pensucian diri. Pandangan ini masih dianut sebagian masyarakat hingga kini. Inilah mungkin yang menyebabkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “fakir” didefinisikan sebagai orang yang sengaja membuat dirinya  menderita  kekurangan  untuk  mencapai   kesempurnaan batin. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...