Memahami Islam Ekslusive dan Islam Inklusive

Islam Indonesia di persimpangan jalan
0 16

Islam kiri atau Islam kanan adalah produk dari wujud yang abstrak yang sulit dikongkretkan. Kreatornya mungkin sama, meski selalu tersedia ruang yang berbeda. Tidak sulit menduga jika keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni bagaimana hidup dari nalar keislaman yang dianutnya. Perbedaan dan persamaan di antara keduanya, sebetulnya sangat mudah dicari, terlebih oleh mereka yang memiliki kepekaan sosial cukup tinggi. Jika hanya berada dalam posisi yang selalu tak peduli, tak mungkin gejala dimaksud mampu ditangkap secara jelas. Mengapa? Sebab kreatornya selalu berdiri secara ajeg dalam ujung yang seolah bertentangan. Islam ekslusive dan Islam Inklusive, pada akhirnya keduanya selalu hadir dalam jiwa yang ekslusive. Itulah ciri bahwa keduanya dikreasi oleh aktor yang sama. Sudah seharusnya kita Memahami Islam Ekslusive dan Islam Inklusive

Islam radikal dan Islam toleran juga sama. Keduanya adalah produk historis politik atau setidaknya produk historis ekonomi manusia. Produk mereka yang kesulitan menyusun seri uang karena sumpek mencari nalar dalam membangun rumus keadilan. Keduanya, pada akhirnya sama, yakni  tidak dapat mewakili Islam atau mungkin sama-sama mewakili apapun kecuali mewakili diri mereka sendiri.

Sama-sama Radikalis Ekslusive

Kita hanya mungkin menangkap kesamaan tujuannya. Letak samanya, terdapat dalam ruang politik atau ruang ekonomi. Tampaknya tak pernah lebih. Tetapi, yang jelas patut diduga semuanya merupakan mega proyek dari mereka yang memiliki proyek khusus, yang tujuan dasarnya mungkin berada dalam laci rapih tak terjangkau sekalipun oleh mereka yang berada dan menjadi pegian di dua kutub gerakan dimaksud. Keduanya, menurut saya adalah sama, yakni hanya persepsi yang motifnya, sekali lagi saya nyatakan, selalu disimpan rapih entah oleh siapa. Saya tidak tahu mana yang bakal masuk syurga. Sebab ketika keduanya sudah menjadi ideologi, tak ada ekslusive dan tak ada inkkusive, semuanya sama, radikalis dan ekslusive.

Agak rancu, menurut saya karena itu, ketika kita menyatakan Islam inklusive, tetapi bertindak anarxis. Padahal seharusnya kalau benar-benar inklusive ya … berbagai aliran termasuk yang ekslusive sekalipun harus berada dalam maqam yang sama, termasuk dengan dirinya. Faktanya tidak! Yang inklusive kadang jauh lebih ekslusive dibandingkan dengan mereka yang dinyatakan ekslusive.

Atau sebaliknya. Mereka yang menyatakan diri sebagai pengikut Islam sejati, Islam kaffah, Islam Rasulullah, Islam sahabat dan Islam shalihin lainnya, sebagai suatu Islam yang sebenarnya Islam, tetapi fakta di lapangan, selalu menunjukkan karakter yang jauh dari nilai ideal Islam. Karena itu, menurut saya, seharusnya, semua umat Islam bersikap tasamuh dan menahan mulut untuk tidak gampang berbicara apalagi gampang menuduh. Bukankah kita sama-sama Muslim? Mengapa, karena masing-masing kelompok dimaksud pasti memiliki logika yang seolah benar. Soal siapa yang sebenarnya benar, hanya Allah yang tahu.  Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...