Inspirasi Tanpa Batas

Islam Pada Masa Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan Indonesia

Islam Pada Masa Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan Indonesia
0 590

BPUPKI lahir pada tanggal 4 April 1945 sebagai wadah para pemimpin Indonesia untuk membicarakan persiapan kemerdekaan Indonesia. Selain itu juga membicarakan tentang perlengkapan kemerdekaan  yang lain, seperti cabinet, Parlemen dan dasar negara. Nama panjang BPUPKI adalah Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

BPUPKI terdiri dari 68 anggota. Delapan orang dari Jepang dan 15 orang dari orang Islam, sisanya dari golongan sekuler dan priyayi Jawa.

Dr Rajiman Widyodiningrat sebagai  motor dalam badan ini, berhasil mengesampingkan anggota dari Jepang. Sehingga dalam BPUPKI, condong oleh dua golongan yang saling berhadapan yakni golongan Islam dan golongan nasionalis, sekuler. Sementara golongan priyayi berpihak kepada golongan Nasionalis, sekuler.

Pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI berubah menjadi PPKI yakni Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. PPKI sudah mengadakan dua kali sidang formal dan satu kali sidang non formal. Sidang formal atau resmi yang pertama membahas masalah dasar negara, kewarganegaraan serta rancangan Undang-undang dasar. Sedangkan sidang resmi yang kedua membahas masalah bentuk negara, wilayah negara, kewarganegaraan, RUUD, ekonomi dan keuangan, pembelaan, pendidikan dan pengajaran. Sidang resmi kedua berlangsung pada tanggal 10-17 Juli 1945.

Dalam membahas dasar negara itulah, sidang PPKI gadruh oleh perdebatan-perdebatan antara golongan Islam dan Nasionalis sekuler. Dimana pihak Islam menginginkan dasar negara Islam di pakai Indonesia. Tetapi menurut buku Sejarah Peradaban Islam, Tokoh-tokoh Islam tersebut justru menginginkan jaminan terhadap pelaksanaan syariat ajaran-ajaran Islam. Pelaksanaan Syariat ajaran-ajaran Islam yang menunjukan identitas orang Islam. Singkatnya, orang-orang Islam harus dijamin secara konstitusional. Maka lahirlah Piagam Jakarta. (Dedi Supriyadi : 200)

Islam Pasca Kemerdekaan

Setelah satu hari proklamasi kemerdekaan, muncul permasalahan baru, yakni dimentahkan kembali piagam Jakarta. Padahal sebelumnya Piagam Jakarta tersebut sudah dengan susah payah dikemas oleh sidang PPKI. Ditambah lagi kedudukan golongan Islam yang tidak ada peningkatan sama sekali. Terutama setelah Soekarno dan Hatta disahkan sebagai presiden dan wakil presiden.

Kemudian dibentuklah KNIP. Dari 137 anggota KNIP, hanya 20 orang dari golongan Islam. Sedangkan dari 15 anggota BPKNIP yang dibentuk pada bulan Oktober 1945, hanya 2 orang wakil dari golongan Islam.

Dengan kekalahan yang di alami golongan Islam atas dihapuskannya Piagam Jakarta. Mereka bersatu dan mulai memikirkan suatu partai politik yang menjadi payung bagi organisasi mereka. Dengan dikeluarkan Maklumat Pemerintah no 10 tanggal 3 November 1945, tentang dibolehkannya membentuk partai politik. Mereka kemudian membentuk partai politik Islam bernama Masyumi. Dikemudian hari kelompok yang dinaungi Masyumi tersebut seperti Nu, Perti, PSII dan sebagainya memisahkan diri dari tubuh masyumi.

Dalam peranan masyumi terhadap naik dan turunnya cabinet masa revolusi sangat beragam. Seperti ketika masa cabinet Syahrir antara tahun 1945-1947, masyumi bertindak sebagai oposisi, sampai akhirnya masyumi membentuk cabinet Amir Syarifuddin I.

Tapi sayang, pada saat Kabinet Amir Syarifudin, persatuan Umat Islam yang diwadahi Masyumi mulai mengalami keretakan. Hal itu disebabkan oleh bujukan Amir Syarifudin terhadap PSII untuk berkoalisi.

Kemudian dalam cabinet Amir Syarifuddin II, Masyumi ikut serta mempengaruhi P.M Amir Syarifuddin dalam perundingan-perundingannya dengan pihak Belanda. Namun, akhirnya usahanya gagal, disebabkan kesepakatan perjanjian Renville.

Setelah timbul perpecahan Internal, Amir Syarifuddin menyerahkan mandatnya kepada presiden. Lalu, dibentuklah cabinet Mohammad Hatta yang merupakan cabinet paling lama memerintah dalam masa revolusi.

Tekad masyumi untuk bersatu menentang segala bentuk penyelewengan pemerintah gagal. Masyumi malah mendapatkan sandungan ditengah jalan, dengan keluarnya PSII tahun 1947 dan NU pada tahun 1955.

Sumber : Dedi Supriyadi. 2008. “Sejarah Peradaban Islam”. Bandung : Pustaka Setia

Komentar
Memuat...