Israel Kehilangan Amerikat sebagai Sekutu Utama

0 20

ISRAEL Kehilangan Amerikat sebagai Sekutu Utamanya. Berbagai berita internasional menyebutkan bahwa, Perdana Menteri Israel Benjamin Natenyahu, saat ini sedang sakit hati terhadap sekutu terdekat dan paling setia kepadanya. Yakni Amerika Serikat, Mengapa? Sebab pemerintahan USA yang masih dipimpin Barack Obama, melakukan abstain pada pungutan suara anggota dewan keamanan PBB pada 23 Desember 2016.

Inilah kali pertama dalam sejarah, Amerika tidak melakukan hak veto atas suatu resolusi yang digagas Venezuela, Senegal, Selandia Baru, dan Malaysia, yang butir utamanya meminta kepada pemerintah Israel agar menghentikan pembangunan kawasan perumahan di wilayah Palestina.

Tuduhan Israel Terhadap Washington

Pemerintahan Amerika Serikat yang masih dipimpin Barack Obama, ternyata mengambil sikap berbeda dengan masa lalunya yang selalu membela Israel. Hal ini, tampaknya juga menjadi satu-satunya sejarah Amerika yang tidak mendukung negeri zionis ini. Tampak bahwa pasca Obama, yakni Donald Trump, masih akan meneruskan tradisinya yang menempatkan Israel sebagai sekutu utama pemerintahannya.

Bukti bahwa Trump akan menjadikan Israel sebagai sekutu adalah sikap negeri Mesir yang semula menjadi negara pertama yang mengusulkan Rancangan Undang-undang itu. Tiba-tiba menarik kembali usulanya Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi melakukan komunikasi maya dengan Presiden Terpilih Amerika, Donald Trump.

Resolusi atau kepercayaan diri dan tekad bulat untuk mencapai tujuan, harapan, cita-cita atau perencanaan. Dalam konteks menata bangunan kehidupan masyarakat dunia yang damai, khususnya di Timur Tengah, seperti dipertontonkan dalam beberapa hari terakhir ini oleh PBB, sesungguhnya sangat menarik.

Beberapa alasan mengapa hal ini menarik dianalisa Karena menurut saya event itu telah menunjukkan dua hal. Kedua hal itu adalah: Pertama. Amerika untuk pertama kalinya dalam sejarah soal Timur Tengah, mengambil sikap hati-hati dengan tidak lagi memerankan diri sebagai pembela utama Israel. Kedua. Inilah suatu resolusi pertama yang disetujui PBB dalam delapan tahun terakhir atas apa yang dimossikan masyarakat Timur Tengah dengan bukti bahwa 14 dari 15 anggota dewan keamanan PBB, menyetujui resolusi ini. Suatu tekad kesepatan bulat yang menyerukan agar Israel “segera dan sepenuhnya menghentikan kegiatan pembangunan permukiman di daerah Palestina yang diduduki, termasuk di Yerusalem Timur.”

Sikap Israel atas Resolusi

Sudah patut diduga, bahwa resolusi ini tidak akan dipakai Israel. Duta Besar Israel untuk PBB bahkan menyebut resolusi dimaksud sebagai langkah “memalukan”. Karena harapan akan dukungan seperti biasanya dari Amerika, tidak mampu mereka dapatkan. Dikabarkan, Perdana Menteri Israel akan memanggil Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel yakni Daniel Shapiro.

Terkait dengan sikap Washington DC yang memilih abstain dalam voting Dewan Keamanan (DK) PBB yang mendesak dihentikannya pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Israel tentu patut bersedih, karena kawan dekat dan setianya, meninggalkan dirinya. Ia kehilangan mitra utamanya, yakni Amerika Serikat.

Kementerian Luar Negeri Israel, bahkan telah memanggil 10 duta besar berbagai negara. Seperti Dubes Inggris, China, Rusia, Prancis, Mesir, Jepang, Uruguay, Spanyol, Ukraina, dan Selandia Baru. Saking dianggap daruratnya situasi yang dihadapi negeri para zionis ini, hari minggu yang menjadi hari libur di Israel dan kebetulan minggu ini sedang berlangsung Natal. pemanggilan utusan asing dimaksud dianggap sangat tidak lazim.

Netanyahu sendiri dikabarkan marah besar dalam rapat cabinet pemerintahan yang dipimpoinnya. Ia menyebut bahwa pemerintahan Obamalah yang memulai, mendukung, mengkoordinasikan dan menuntut (resolusi) itu untuk dilanjutkan “Masa” Teman tidak akan membawa temannya ke DK’. kata Netanyahu dalam pertemuan kabinet seperti dilansir Reuters, Senin (26/12/2016).

Masih dalam laman berita itu, disebutkan bahwa Netanyahu memerintahkan untuk menghentikan pendanaan kepada lima lembaga PBB yang nilainya mencapai US$ 8 juta dana bagi lembaga-lembaga PBB yang tidak disebutkan namanya. Ia menegaskan, masih ada langkah yang akan diambilnya. Sebelumnya, ia juga telah memanggil pulang duta besar Israel di Selandia Baru dan Senegal, dua dari empat negara sponsor resolusi. Netanyahu mengancam menghentikan program bantuannya ke Negara Afrika Barat tersebut. ** (TLI)

 

Komentar
Memuat...