Inspirasi Tanpa Batas

Isu Penistaan Agama Memasuki Anarkisme Mulai di Penjaringan Jakarta Utara

0 17

Tampaknya tak diduga sebelumnya, gerakan massa mulai menunjukkan anarkisme baru dengan gaya yang sesungguhnya biasa. Anarkisme itu dimulai justru di sekitar rumah di mana Ahok tinggal. Pelakunya, diduga bukan dari kelompok massa yang selama hampir 10 jam berdemo di sekitar istana. Yang melakukan aksi itu, justru dari kelompok masyarakat setempat. Mereka melakukan pengrusakan terhadap Indomart dan Alfamert yang ada di sekitar Sunter, Jakarta Utara.

Jika berita tentang pelaku pengrusakan itu benar dilakukan masyarakat setempat, dengan tidak melibatkan unsur-unsur demonstran yang selama 10 jam melakukannya di seputar istana negara, maka, kebencian atas isu penistaan agama Islam (alQur’an) yang didugakan kepada Ahok ini, sudah mulai masuk dalam domain-domain baru di kehidupan masyarakat lokal (setempat), yang secara populatif, lepas dari soal kesalehan dan tidak, adalah Muslim.

Situasi semcam ini, sesungguhnya yang jauh lebih memiliki resiko dalam konteks penangan isu-isu buruk dalam konteks masyarakat lokal di Nusantara. Jika dalam soal yang terakhir ini, lambat diantisipasi, maka, sangat mungkin fenomena Sunter ini, akan menjadi penyulut kebencian baru bagi masyarakat lokal di daerah-daerah Indonesia, tentu luar Jakarta. Yang menjadi kekhawatiran baru adalah terjadinya kebencian massif masyarakat atas warga masyarakat yang tidak tahu menahu tentang masalah yang sesungguhnya dihadapi.

Presiden Jokowi Dinanti tetapi Tak Kunjung Hadir

Memang patut disayangkan, sampai pukul 10.40 ini,  Presiden RI ke 7, Joko Widodo, belum sempat menjumpai mereka yang ingin menemuinya. Padahal dengan jumlah demonstran yang sebesar itu, cara penangan semacam ini, telah memungkinkan melahirkan banyak tafsir. Misalnya, suatu tafsir yang mempertanyakan ada apa sesungguhnya di balik semua fenomena ini?  Pertanyaan semacam ini, akan melahirkan suatu spekulasi baru dalam memandang wujud sesungguhnya dari model pemerintahan yang dimainkan Jokowi yang akhirnya dapat ditamsilkan, apakah Ahok ini diuntungkan –karena dianggap dibela Jokowi– atau malah ia menjadi korban baru dalam konteks kepolitikan Indonesia, karena ia dibiarkan.

Dalam perpektif lain, jumlah demonstran yang hadir dalam jumlah puluhan ribu itu, di sisi lain seolah menyuguhkan suatu asumsi yang kadang dalam benak tertentu seperti berlebihan. Sebesar apakah sesungguhnya Ahok dalam konstelasi politik nasional Indonesia, sehingga harus diatraksi dalam gerakan yang to demonstration   se massif itu. (ALY)

Komentar
Memuat...