Isyarat Dalam Al-Qur’an Agar Manusia Dzikir Dalam Kehidupan

0 213

Dzikir Dalam Kehidupan: Bagi orang yang beriman, kehidupan tidak pernah terputus dengan Allah. Bagi mereka hampir tidak ada waktu yang kosong tanpa mengingat-Nya. Ibadah formal yang merupakan kewajiban setiap muslim/ muslimah, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan lain-lain adalah merupakan media untuk menghubungkan hamba dengan Tuhannya. Oleh karena itu setiap ibadah tersebut harus selalu didasarkan kepada niat. Bagian dari ibadah- ibadah tersebut terdiri dari ungkapan/ bacaan tertentu yang kesemuanya  ditujukan sebagai pengabdian dan hubungan manusia kepada Tuhannya. Isyarat Dalam Al-Qur’an Agar Manusia Dzikir Dalam Kehidupan.

Hal tersebut telah dibuktikan dalam ajaran Islam. Bagaimana Islam senantiasa mengajarkan agar gerak- gerik manusia tidak lepas/ putus dari Tuhan. Salah satunya adalah Islam mengajarkan untuk berdo’a yang merupakan bagian dari dzikir, baik ketika mengawali sebuah pekerjaan, maupun setelah menyelesaikan pekerjaan. Baik pekerjaan yang dirasa berat hingga pekerjaan yang dirasa ringan.

Tidur, makan, mengunjungi kamar kecil (WC) dan lain- lain yang merupakan pekerjaan yang dianggap sepele dan rutin yang sering dilakukan oleh manusia di luar perhatian. Islam sangat memperhatikan hal- hal tersebut dengan mengajari do’a setiap akan melakukan dan menyelesaikan aktivitas tersebut. Bahkan hampir tidak ada suatu aktivitas (yang bukan kategori perbuatan maksiat) yang disana tidak diawali dengan do’a (dzikir). Setidaknya adalah mengucap basmalah ketika akan melakukan, dan menutupnya dengan bacaan hamdalah setelah selesei. Dan bahkan setiap pekerjaan yang tidak diawali dengan basmalah maka pekerjaan tersebut akan terputus (dari rahmat Allah).

 كلّ عمل لا يبدأ فيه ببسم الله فهو أبتر

Al-Qur’an dan Dzikir

Al-Qur’an yang merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad yang pembacaannya merupakan suatu ibadah, sangatlah wajar jika ia datang dengan nama al-dzikr. Seperti dalam QS. Al-Hijr:9:

إنّأ نحن نزّلنا الذكروإنّا له لحافظون.

Sesungguhnya kami telah menurunkan dzikir,dan kami pulalah yang menjaganya.

Lebih dari itu nama tersebut sering dipadankan dengan ungkapan- ungkapan, seperti  al-hakim, (yang bijak), mubarak (yang diberkahi), qur’anun mubin (bacaan yang jelas) dan lain- lain. Dengan demikian al-Qur’an pada hakekatnya adalah sarat dengan dzikir. Untuk itu Allah memudahkan al-Qur’an tersebut untuk diingat. Seperti dalam QS. Al-Qamar/54: 17:

ولقد يسّرنا الفرأن للذّكر فهل من مدّكّر.

Dan sesungguhnya kami telah memudahkan al-Qur’an untuk dzikir (diingat), tetapi adakah yang berdzikir (mengingat)?

Allah menjadikan al-Qur’an mudah untuk diingat, karena ia adalah merupakan dzikir/ pesan untuk semua makhluk (dzikr li al-‘alamin). Tentu hal ini agar mereka menyadari akan pentingnya dzikir kepada Allah. Oleh karena itu nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk membacakan al-Qur’an untuk memberi ingat kepada orang yang takut akan ancaman Allah:

فذكّر بالقرأن من يخاف وعيد

Maka dzikirkanlah (ingatkanlah) dengan al-Qur’an orang yang takut akan ancaman-Ku. (QS. Qaf: 45)

Perintah Berdzikir

Perintah berdzikir yang ditegaskan oleh Allah dalam beberapa ayat yang diungkapkan dengan fi’il amr mengandung isyarat- isyarat di antaranya adalah:

  1. Perintah Tuhan agar manusia mengucap dan menyebut asma Allah, agar Allah senantiasa hadir dalam ingatan manusia yang berdzikir.
  2. Setelah Allah hadir dalam ingatan, maka manusia akan menyadari akan nikmat dan pemberian Allah yang telah ia gunakan dalam kehidupannya. Sehingga ia akan menghadirkan Tuhan dalam setiap gerak- gerik kehidupannya. Selanjutnya akan ia jadikan dasar kesadaran untuk menjalankan kewajiban sebagai hamba.
  3. Setelah muncul kesadaran bahwa Allah senantiasa dalam kehidupannya, maka manusia akan berusaha menghadirkan Allah dalam hati. Baik yang disertai dengan ucapan atau tidak.
  4. Kalau Allah telah hadir dalam ingatan, lalu diteguhkan dalam kehidupan dan akhirnya bersemayam dalam hatinya, maka Allah akan senantiasa ingat kepada hamba-Nya. Ingat Allah (ذكر الله) kepada hamba-Nya dengan melalui pembalasan kepada kebajikan dan mengangkat harkat dan derajat mereka.

Sedang dzikir  yang dalam bentuk kata kerja sering menunjukkan kepada kondisi- kondisi tertentu di antaranya adalah:

  • Tanda Orang Beriman

Hal ini seperti firman Allah:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfal:2)

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. (QS. As-Sajdah:15)

  • Cara Membentengi Diri dari Perbuatan Keji

Hal ini seperti firman Allah:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ .

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. (QS. Ali Imran: 135)

  • Wasilah Ungkapan Rasa Syukur

Hal ini seperti firman Allah:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

supaya mereka menyaksikan berbagai manfa`at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. (QS. Al-Hajj: 28)

  • Tanda Kegiatan Intelektual Muslim

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَاب

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (QS.Ar-Ra’d: 19)

  • Hanya Dilakukan Orang Mukmin

Dzikir ini hanya dilakukan oleh orang Mukmin,jika dilakukan oleh yang lainnya hanyalah menunjukkan kemunafikan. Hal ini seperti firman Allah:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.(QS. An-Nisa’: 142)

  • Wasilah Untuk Introspeksi Diri

Hal ini seperti firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى. وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى.

Beruntunglah orang yang telah mensucikan dirinya,dan dia ingat nama Tuhannya,lalu ia sembahyang.(QS.Al-A’la: 14-15)

Sedangkan kata dzikr yang diungkapkan oleh Allah dalam bentuk isim, biasanya dikehendaki sebagai kisah/sejarah masa lalu yang seharusnya dijadikan sebagai peringatan bagi manusia.

كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ ءَاتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا

Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an). (QS. Thaha: 99)

Dengan demikian, dzikrullah bukan hanya sekedar mengingat Allah saja,akan tetapi juga ingat akan tipu daya setan yang senantiasa akan memalingkan manusia dari Tuhannya:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ.

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. (Al-Maidah:91),

Dan sangatlah wajar jika orang yang berpaling dari haltersebut,maka Allah akan menjadikan setan sebagai pendampingnya.

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Az-Zukhruf:36),

Ia akan menanggung dosa pada hari kiamat:

مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزرا.

Barangsiapa berpaling daripada Al Qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat. (Thaha:100)

Ia akan menemui kehidupan yang sempit, serta ia akan digiring dihari kiamat nanti dalam keadaan buta.

  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى.

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta“.  (Thaha:124)

Kata dzikr dalam ayat tersebut adalah segala apa yang telah diwahyukan oleh Allah kepada Rasul-Nya dari syari’at dan hukum yang mengatur kehidupan manusia itu sendiri, baik dalam hubungannya dengan khaliqnya maupun sesama manusia.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

  • Prof. Dr. Muhammad Usman  Najati, Al-Qur’an dan Psikologi, Jakarta: Aras Pustaka, 2001
  • Imam Al-Ghazali, Teosofia Al-Qur’an, Surabaya: Risalah Gusti, 1995.
  • Ar-Raghib Al-Asfahani, Mu’jam Mufradat Alfad Al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, tt.
  • Al-Bahi al-Kulli, Adam as., Falsafah Taqwim al-Insan wa Khilafatihi, Kairo: Maktabah Wahbah, 1974, Cet. 3.
  • Al-Syaikh Abi Ali Al-Fadhal Ibn Al-Hasan Al-Thabarsyi, Majma’al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur’an, J. 5,  dar al-Ma’rifah, 1986.
  • Al-Allamah Sayyid Muhammad Husain Al-Thaba’thaba’i, Al-Mizan Fi Tafsir Al-Qur’an,Beirut:, Muassasah al-A’lamy, Cet.II,1974, J.13.
  • Sa’id Hawwa, Tarbiyatuna Ar-Ruhiyyah, Kairo: Maktabah Wahbah, 1979.
  • Syamsuddin Abi Abdullah Muhammad bin Qayyim al-Jauziyyah, Al-wabl al-shayyib Wa Rafi’ al-Kalim al-Thayyib, Damaskus: Maktabah dar al-Bayan, tt.
  • Manna’Khalil al-Qath-than, Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, Mansyurat al-Ashr al-Hadits,Cet.III, 1973.
  • Dr.Rifyal Ka’bah, Dzikir dan Do’a dalam al-Qur’an, Jakarta: Paramadina, 1999.
  • Al-Imam Abi Al-Qasim jar Allah Mahmud bin Umar bin Muhammad Az-Zamakhsyari, Tafsir Al-Kasy-syaf, J.I, Beirut: Dar al-Kutub,,Cet.I, 1995.
  • Muhammad Rasyid Ridha,  Al-tafsir Al-Qur’an Al-Hakim, Beirut: dar al-Fikr, tt,.
  • Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir At-Thabari, Jami’ al-Bayan Min Ta’wili Ayi al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, Juz. 2, tt.
  • Muhammad Ali Al-Shabuni, Shafwah al-Tafasir, J.2, Beirut: Dar al-Fikr, tt.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.