Inspirasi Tanpa Batas

SPONSOR

SPONSOR

Jadikan Buku sebagai Sahabat Utama

0 16

Konten Sponsor

Jadikan Buku sebagai Sahabat Utama. Pernah suatu hari, ketika saya berjalan bersama bapak [alm], tergeletaklah sepotong lembar kertas koran. Ia memungutnya. Ia mengatakan, ambillah itu, lalu kamu baca. Jadikanlah setiap hurup, kata dan kalimat dalam setiap lembaran kertas yang sudah tercetak itu, sebagai sahabat kamu. Jika tulisannya bersipat berita, nggak apa-apa dipakai bungkusan. Tetapi, kalau di situ terdapat tanda keilmuan, simpan dan klipinglah dengan baik. Suatu hari nanti, kamu baca lagi.

Watak ini, tentu agak sedikit berbeda dengan ibu. Ketika ia menemukan jubelan kertas koran, ia mengambilnya juga. Ia membaca lalu diakhiri dengan suatu kalimat, lumayan juga buat dipakai bungkusan. Itulah kisah akhir tahun 1970-an. Dua sosok ibu bapak itu, sama senangnya terhadap dunia kertas, meski tujuan akhirnya agak sedikit berbeda. Bapak menekankan pada semangat kliping, maklum saat itu Koran sangat langka. Sedangkan ibu pada bungkusan, meski tetap harus dibaca dulu awalnya.

Kertas itu Jendela Ilmu

Bapak bilang, kertas adalah jendela ilmu. Ia mengatakan sesuatu sebagai jendela ilmu malah lebih kecil dari buku. Ia bilang, aku tidak bangga jika perabotan rumah lengkap, sementara tidak banyak kertas [bacaan] tersedia didalamnya. Aku ingin mewariskan suatu tradisi bagi kamu kelak, bahwa di rumah kamu itu, harus lebih banyak jumlah buku dibandingkan dengan gelas, piring, sendok, garfu atau lain-lainnya.

Menurut bapak kami, mereka yang tidak memperbanyak bacaan, pastilah mereka itu adalah manusia yang tidak mungkin sanggup menatap masa depan. Masa depan hanya mungkin ditatap oleh mereka yang memiliki asa berpikir cukup perspektif ke masa depan.

Cara berpikir dia memang keren. Ia menampilkan penggalan sejarah hidup dalam suatu peristiwa yang memetamorposisikan sesuatu yang sedikit janggal dan cenderung nakal dalam konteks berpikir. Sebetulnya, dia yang relatif nakal dalam soal berpikir itu, lantaran dia memang banyak membaca.

Menurut bapak kami, membaca apapun itu yang dibaca, sama “wajibnya” dengan kegiatan shalat. Toch perintah pertama dan utama dalam umat Islam-pun adalah membaca. Mereka yang suka shalat, itupun karena mereka suka membaca. Tanpa kemampuan membaca, termasuk dalam soal teks shalat dimaksud, tidak mungkin seseorang mampu melaksanakan shalat dengan tepat. Habitkanlah membaca sama seperti terbiasanya kita menghabitkan shalat.

Jika itu mampu anda lakukan, maka, dunia pasti ada dalam genggaman anda semua. Inilah bagian lain dari mengapa usaha untuk terus membaca itu, tertradisikan sampai hari ini. Tradisi ini, semoga pula terwariskan kepada generasi kita selanjutnya. Amiin … Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar