Jadikan Sekolah sebagai Laboratorium Akhlak Peserta Didik

Jadikan Sekolah sebagai Laboratorium Akhlak Peserta Didik
0 76

Jadikan Sekolah sebagai Laboratorium Akhlak. Pernahkah anda menjadi seorang guru, dan ternyata anda juga menjadi incaran murid-murid yang anda ajar. Jika pernah, maka, berita soal kematian Ahmad Budi Cahyono, sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Banyak guru hari-hari ini, yang mungkin terserang penyakit jantung, gagal ginjal, TBC atau jenis penyakit mematikan lainnya, yang langsung ataupun tidak langsung, dipengaruhi oleh profesinya sebagai tenaga pendidik. Penyakit-penyakit itu muncul, atas kebimbangan teoretiknya ketika berhadapan dengan peserta didik.

Sebut misalnya, jika guru kewalahan menghadapi peserta didik yang nakal. Baik di dalam maupun di luar kelas jika kenakalan itu dilakukan peserta didik. Mereka berkeras menegakkan disiplin, sebut misalnya menjemur murid seperti umumnya guru di masa lalu, tidak lama kemudian, pasti akan bermunculan wartawan, LSM atau lembaga-lembaga lain yang menyudutkan guru. Jika tidak, maka, sekolah dalam fungsinya sebagai pusat pendidikan menjadi terabaikan.

Saya sulit membayangkan jika fenomena murid dan guru masa kini, dikorelasikan dengan guru masa lalu. Mungkin habislah guru di Indonesia, dianggap melanggar HAM. Bagaimana guru-guru kita di masa lalu menegakkan disiplin dan moral peserta didik. Bukan hanya bentakan, kadang juga tamparan sering melayang kepada peserta didik.

Hari ini, situasinya berbeda. Guru dalam soal yang begini, bahkan cenderung tak berdaya. Inilah problem seriusnya pelaksanaan pendidikan di sekolah hari ini. Karena itu, bicara dunia pendidikan pesekolahan hari ini, kita akan menemukan duaAi??mainstrem penting terkait dengan soal pendidikan di dalam sekolah. Kedua Mainstrem itu adalah sebagai berikut:

Sekolah sebagai Pusat Belajar

Pendidikan persekolahan sering difahami hanya sebagai tempat di mana peserta didik, diatur dan dikelola agar menjadi manusia yang cerdas. Ukurannya, adalah hasil belajar. Dalam ukuran tertentu, standar keberhasilan pembelajaran, adalah nilai dalam raport, atau ijazah. Dalam pengertian ini, sekolah yang baik adalah mereka yang mampu menghasilkan output pendidikan, dengan indikator masuk ke jenjang berikut yang lebih pavorite.

Sebut misalnya, Sekolah Dasar yang baik, adalah lembaga pendidikan yang berhasil mendorong peserta didiknya masuk ke SMPN Pavorite. Yang SMP juga sama! Mereka dianggap membanggakan ketika berhasil memasukan peserta didiknya ke SMA Pavorite. Yang SMA juga sama! Mereka yang disebut baik, karena lembaga pendidikan ini mampu memasukkan alumninya ke Perguruan Tinggi [Universitas] Pavorite baik di dalam maupun di luar negeri.

Sekolah dengan adagium seperti itu, seringkali “memaksakan” posisi dan seluruh potensi peserta didik dalam model pembelajaran agar eksistensinya dapat terus terpertahankan. Akhirnya, tidak sedikit di antara guru sekolah yang nyambi menjadi tenaga private, meski dalam pelajaran yang dia ampu. Akibatnya, tidak sedikit juga, biaya yang harus dikeluarkan orang tua, meski sekolah dimaksud menyatakan diri sebagai lembaga pendidikan yang bebas biaya.

Pernah ada sekolah yang mempromosikan misalnya, keluaran sekolah ini, berhasil mencetak peserta didik yang berakhlak kariemah. Rata-rata alumni pendidikan ini, misalnya akhlaknya seperti ini, atau itu dan lain sebagainya. Saya kira, sampai saat ini, kayaknya belum ada sekolah dengan promosi semacam itu. Sampai di sinipun, inilah persoalan serius yang kita hadapi.

Sekolah sebagai Pusat Pendidikan

Pendidikan persekolahan, seharusnya ditempatkan sebagai pusat pendidikan. Bukan hanya sebagai pusat pembelajaran. Sekolah bukan sebagai tempat kursus yang hanya berfungsi untuk mengajari peserta didik akan sesuatu. Tetapi, lebih pada bagaimana sekolah justru menjadi tempat efektif dalam posisinya sebagai penjaga dan pelatih kepribadian. Itulah sesungguhnya yang membedakan antara pendidikan dan pembelajaran. Dan secara fungsional, sekolah seharusnya mengambil peran sebagai pusat pendidikan, dibandingkan sebagai pusat pembelajaran.

Sekali lagi, apa yang menimpa Ahmad Budi Cahyono, dalam kaca mata tertentu, menunjukkan bahwa betapa pendidikan justru mengalami krisis yang sangat akut. Gagasan Jokowidodo yang menginginkan adanya revolusi mental, dengan apa yang terjadi di Madura, menjadi indikasi gagal dimainkan perannya pada tingkat akar rumput. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...