Inspirasi Tanpa Batas

Jagoan di Kampus dan Kantor tapi Bukan Apa-apa di Masyarakat

1 27

Konten Sponsor

Jagoan di Kampus dan Kantor tapi Bukan Apa-apa di Masyarakat – Sejatinya bersosialisasi dalam kehidupan sangatlah penting, karena manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang tidak bisa hidup sendiri.

Manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, sangat membutuhkan teman, tetangga atau masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Sosialisasi juga berguna untuk mengembangkan potensi kemanusiaannya, sehingga bisa menjadi pribadi yang baik dan bisa hidup bermasyarakat dengan baik.

Sosialisasi bisa digunakan untuk sarana belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan orang lain dan juga menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal ini dilakukan agar kita sebagai manusia bisa bermasyarakat dengan baik. Apabila seseorang kurang bersosialisasi dengan orang lain dan lingkungannya maka orang itu tidak bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Selain itu juga potensi yang ada di dalam diri orang tersebut tidak berkembang sebab dia hanya bisa berdiam diri atau sibuk dengan kegiatan ditempat kerja atau sekolahnya.

Jadi apa kita di masyarakat?

Jagoan Di Kampus Dan Kantor Tapi Bukan Apa-Apa Di Masyarakat

Sekarang mari kita renungkan bersama berapa banyak yang membesar di kampus, tapi mengecil di masyarakat. Menjadi jagoan di kampus, tapi menjadi sandera di masyarakat. Kampus itu tempat berlatih, masyarakat medan tempurnya. Jangan terbalik, kita aktivis BEM? HIMA? UKM? Tanyakan pada diri kita, Jadi apa kita di masyarakat? Ukuran kontribusi tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Tapi bisa jadi hal sederhana dan mendasar.

Kita aktif di ROHIS? Senior di lembaga da’wah kampus? Tanyakanlah pada diri kita, seberapa kenal dengan para jama’ah di mushola/masjid RT/RW atau jadi apa kita di Remaja Mesjid di Desa/kelurahan tempat kita tinggal? Kita sekretaris BEM/HIMA, Aktivis organisasi di dalam dan di luar kampus atau jagoan bikin event di kampus.

Coba sekarang kita ingat-ingat, pernahkah membuat proposal untuk acara RT/RW, Desa atau kelurahan tempat kita tinggal? Jangan salah, aktivis Karang Taruna akan lebih disayangi tetangga dibanding aktivis kampus. Lulusan SD yang aktif di kegiatan masyarakatnya, lebih berarti dari lulusan sarjana yang hanya sibuk ikutan kompetisi karya tulis atau sibuk dengan pekerjaannya.

Apakah mereka mengenal kita?

Punya follower ribuan di twitter atau instagram, punya teman ribuan di facebook? Yes. Bagaimana follower di masyarakat? Banyak kenalan di kampus atau malahan kita seorang “artis kampus”? Yes, bagaimana dengan para tetangga ? Apakah mereka mengenal kita?

Pengangguran yang sibuk dan peduli dengan tetangga lebih baik daripada trainer, motivator, penulis, jagoan di twitter atau instagram yang sibuk dengan diri sendiri.

Pernah Memipin Rapat RT/RW?

Jagoan Di Kampus Dan Kantor Tapi Bukan Apa-Apa Di Masyarakat

Jadi karyawan di perusahaan besar? Jadi manager? Senior manager? Kalau di masyarakat jadi apa. Bagus saat memimpin rapat? Baik saat berargumen? Jago presentasi? Yes. Tapi apa pernah memipin rapat RT/RW? Kita dikenal sebagai pegawai yang cerdas, pintar dan banyak ide untuk kemajuan perusahaan atau lembaga tempat kita kerja.

Tapi apakah kita pernah memberikan ide kita untuk kemajuan atau kemakmuran desa/lingkungan dimana tempat kita tinggal? Orang-orang besar, dimanapun tetap akan berperan besar. Orang-orang kecil, berperan hanya sewaktu-waktu. Orang luar biasa, turut serta, mengambil peran dan berkontribusi dalam situasi dan kondisi luar biasa.

Jadikanlah keberadaanmu “cahaya” bagi masyarakat!

Mari berjanji untuk lebih mengenal para tetangga atau masyarakat sekitar. Lebih aktif di masyarakat, lebih akrab dengan tetangga, dan lebih dekat dengan orang-orang di sekitar kita.

Berjanjilahlah pada diri sendiri, jika kita adalah aktivis mahasiswa/karyawan perusahaan besar yang sukses. Yang hanya pulang sebulan sekali atau pulang selalu larut malam, jadikanlah keberadaanmu di rumah adalah “cahaya” bagi masyarakat.

Sesampainya di rumah, keluarlah, dan Berbaurlah dengan masyarakat. Kunjungi keramaian, bertegur sapalah dengan tetangga dan masyarakat sekitar, bergabung dan turut sertalah dalam setiap kegiatan di lingkungan masyarakat.

Kehadiran kita yang sesaat mungkin saja bisa jadi sangat berharga bagi tetangga dan masyarakat disekitar kita. Kesertaan kita yang sebentar mungkin juga bisa jadi penuh makna bagi mereka.

Mari, masih tersisa banyak waktu untuk kita “kembali pulang” ke masyarakat, ke rumah mu yang sesungguhnya. Saat kau melakukan itu, saat itu kita memahami makna dasar kepemimpinan. Semua bermula dari sini, dari titik terkecil.** (BK/AML)


Penulis : Beni Kuntoro, STKIP Muhammadiyah Kuningan
Editor   : Acep M Lutvi

  1. sugiarti berkata

    Lalu bagaimana kita belajar untuk melatih dirinya kita sendiri sejak awal masuk dunia perkuliahan supaya kita bisa menyeimbangkan antara eksistensi di kampus dan di masyarakat? Karena dlm kenyataannya banyak yg menjadi aktivis di kampus tapi ketika di kampung halamannya enggan untuk berbaur dengan masyarakat karena alasan jarang sekali pulang ke kampung halamannya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar