Jakarta Pesta Demokrasi “ Siapa Dalang Siapa Wayang ”

1 14

Pilkada Jakarta 2017 Siapa Dalang Siapa Wayang. Indonesia merupakan negara satu kesatuan dari berbagai pulau, ras , suku dan agama. Negara yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 ini diproklamatorkan oleh bapak Ir. Soekarno dapat menggambarkan harapan rakyat Indonesia yang benar-benar merdeka. Negara Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang sangat melimpah dan memiliki ciri khas tiap daerah yang terdapat di segala penjuru kepulauan. Itulah sekilas tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam hal ini, penulis hanya ingin menyebutkan beberapa analisis dan fenomena tentang pesta demokrasi di Indonesia. Seperti pemilihan Presiden dan pemilihan kepala daerah. Salah satu tahapan dalam pemilihan kepala daerah yaitu mendapatkan rekomendasi partai. Dan penulis ingin mengkhususkan pada pembahasan pilkada di daerah khusus Ibukota Jakarta yang sedang hangat-hangatnya menjadi perbincangan disetiap kalangan masyarakat maupun mahasiswa.

Setelah beberapa nama yang sudah mulai muncul sebagai calon kepala daerah dan sebagai tanda pengenalan ada pula yang sudah mulai kampanye dengan ikut serta dikegiatan-kegiatan masyarakat. Nama yang akhirnya bertarung dengan menggadang – gadangkan atas nama rakyat, kemiskinan, pendidikan dan lain sebagainya ini mulai terpublikasikan diberbagai media.

Pilkada Jakarta 2017 Siapa Dalang Siapa Wayang

Calon kepala daerah yang tampil adalah bapak Ahok bersama dengan Djarot, Agus Harimurti Yudhoyono bersama dengan Sylviani, Anies Baswedan bersama dengan Sandiaga Uno, dan dibalik tiga nama ini adapula nama yang sebenarnya bertarung karena beberapa sosial media pun suda ramai dengan karikatur-karikatur wayang dan dalang.

Dalam analisis sederaha bahwa negara Indonesia sudah merdeka selama 71 Tahun. Namun, selama itu pula kampanyeyang selalu digadang-gadang hanyalah kemiskinan rakyat. Beberapa tahun kepala daerah berganti tetap saja kemiskinan menjadi isu hangat. Isu yang sagat menarik dan mudah diangkat untuk menarik simpati masyarakat. Seolah janji kampanye mereka hanya cara dan taktik saja tanpa realisasi, kepala daerah yang dipercaya tidak sedikit yang terjerat kasus korupsi, makin memperkaya diri, koalisi-koalisi partai hanya kemunafikan belaka dengan alasan demokrasi dan politik walaupun pada dasarnya politik yang menurut mereka hari ini kawan bisa menjadi lawan dan lawan bisa menjadi kawan.

Mempertanyakan Komitmen Para Pemimpin

Namun, pertanyaannya kapan mereka belajar arti komitmen? Apakah komitmen hanya untuk pemenangan dan bagi-bagi jabatan?. Berlanjut pada nama yang bertarung di Jakarta ternyata dibalik semuanya ada nama yang sudah asing lagi seperti bapak Susilo Bambang Yudhoyono, Bapak Prabowo dan Ibu Megawati. Lagi-lagi nama itu yang selalu bertarung, seolah kepala daerah yang dicalonkan hanya boneka yang dig anti-ganti saja untuk pengamanan jabatan koalisi.

Jadi apakah nasib negara ini bila kepala daerah hanya mereka bertiga yang mengkonsep, apakah ada nama lain lagi diatas mereka?, tapi semoga rakyat masih cerdas untuk memilih walaupun sedikit sekali kepala daerah yang benar-benar mengatas namakan kepentingan rakyat. Kemiskinan rakyat hanya kambing hitam pencitraan. Janji-janji hanya menarik simpati. Mereka menang kalah tertawa dan rakyat yang saling murka, Mereka kaya dan rakyat tetap terhina. Kampanye tak segan menyapa ketika menjabat menolehpun mereka lupa. Dan selalu mereka lupa, siapa dalang dan wayang negara Indonesia?

Oleh : Apandi G Handayasari

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Khavid Khalwani/1415104050/T.IPSB/3/IAIN SNJ CIREBON berkata

    Khavid Khalwani/1415104050/T.IPSB/3/IAIN SNJ CIREBON

    Faktanya kejadian seperti ini adalah hal sangat lumrah dengan isu-isu pilkada di Indonesia mulai dari kalangan remaja hingga dewasa kampanyekampanye di Indonesia seolah-olah menarik siapapun yang mendengarnya tidak sedikit kontroversi saat kegiatan pilkada ini berlangsung. Menurut saya kegiatal pilkada, pilgub, pilpres dan golongannya itu merupakan layaknya sebuah pertarungan kekuasaan. Visi atau misi dari mereka hanya suatu pemanis belaka. Coba dari kaum politisi yang berperan ini sadar akan kemajuan serta keinginan bangsa dan masyarakatnya tanpa mementingkan keindahan dunianya sendiri pasti pemerintahan di Indonesia sudah maju. Tapi faktanya apa? Pemerintahan di negara ini masih di jadikan sebagai tonggak perpacuan perebutan kekuasaan serta kepuasan pribadi.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.