Take a fresh look at your lifestyle.

Jalaludin Rumi dalam Nalar Shufi Cinta Part-5

Jalaludin Rumi
0 95

Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi), dalam tulisan ini, diperkenalkan dengan Rumi. Ia adalah shufi cinta penerus pikiran dan thariqat Robiatul Adawiyah. Ia terkenal akan karya shufisnya yang menyentuh dan lebih banyak berdimensi ketuhanan  yang penuh cinta. Ia rela hidup sendiri tanpa pendamping. Baginya, yang penting bagaimana dia ramai meski hanya dalam bathin. Ia menuliskan hal seperti itu, misalnya dalam puisinya berikut ini:

“Mana yang paling berharga 
Di antara kerumunan beribu orang atau dalam kesendirian sejatimu?
Kebebasan atau kuasa atas seluruh negeri?
Sejenak, sendiri dalam bilikmu akan terbukti lebih berharga daripada segala hal lain yang mungkin kau terima”

Puisi ini sangat singkat namun memiliki makna yang sangat padat. Puisi ini mendorong jiwa manusia yang fana, gersang dan penuh kegelisahan, menuju titik ketentraman bathin yang dalam. Saat ini, fakta menunjukkan apa yang dipesankan Rumi ini menjadi nyata. Banyak orang memilih hidup dalam keramaian padahal sesungguhnya ia kesepian, dibandingkan dengan hidup dalam kesendirian yang penuh keramaian.

Perjalanan Rumi

Rumi lahir di Balkh. Peta hari ini, daerah ini masuk negara Afghanistan. Lahir pada tanggal 30 September 1207 atau bertepatan dengan tangggal 06 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriyah. Ia keturunan Abu Bakar al Shidiq. Sahabat utama Nabi Muhammad dan menjadi khalifah pertama setelah kewafatan Rasul Muhammad.

Ketika kelompok Bar-Bar dari Mongolia menyerbu beberapa daerah penting dunia Islam di Baghdad, ia pindah ke Suriah. Setelah itu, ia ke Anatoli atau Turkey. Rumi kemudian pindah ke Nishapur, dan bertemu dengan seorang futurolog bernama Attar. Attar meramal Rumi kecil sebagai calon manusia hebat dan ia akan menyalakan api Ketuhanan. Ramalannya ternyata benar, Hal ini dapat dilihat dari karya-karya puitis Rumi yang sangat spiritualis.

Ramalan Attar ini, sekali lagi ternyata benar. Salah satu buktinya adalah karya-karya puitis ketuhanan yang dia susun. Berikut akan terlihat susunan puisi dalam narasi berikut ini:

“Oh Tuhan 
Telah kutemukan cinta!
Betapa menakjubkan, betapa hebat, betapa indahnya!…
Kuhaturkan puja-puji
Bagi gairah yang bangkit
Dan menghiasi alam semesta ini
Maupun segala yang ada di dalamnya!
Ketika engkau merasa bergairah
Cari tahu sebabnya 
Itulah tamu yang tak kan pernah kau salami dua kali”

Rumi Berguru kepada Tokoh Spiritual

Banyak analis menyebut bahwa Rumi di usianya yang ke 37, berguru kepada tokoh spiritual. Guru itu bernama Syamsuddin yang berasal dari Tabriz. Ia juga berguru keoada Husamuddin Ghalabi. Dua tokoh ini dikenal ahli dalam dunia tasawuf. Disinilah Rumi memperoleh ilham untuk menulisakan pengalaman spiritualnya ke dalam suatu buku yang konon didiktekan kepada gurunya itu sampai ia mati. Karya itu berjudul Matsnawi-ye Ma’nawi.

Rumi meninggal pada usia 68 tahun. Ia meninggal pada 5 Jumadil Akhir 672 Hijriyah. Saat pemakaman berlangsung, menurut beberapa catatan sejarah, jutaan manusia hadir menyaksikannya. Sebelum dia mati, ia menulis phrase khusus dalam kalimat berikut ini: “Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia”. Pertanyaannya sekarang, sudahkan kita menancapkan diri kita di hati manusia. By. Prof. Cecep Sumarna

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar