Inspirasi Tanpa Batas

SPONSOR

SPONSOR

Jalan Menuju Kesempurnaan Diri Yang Paling Hakiki

0 0

Konten Sponsor

Manusia memiliki ruang untuk salah dan lupa. Tapi jangan lupa, tak sedikitpun ada rongga dalam tubuh manusia untuk diisi oleh apa yang disebut dengan kata dusta. Jujur sekalipun pahit, adalah obat segala obat yang dititpkan Tuhan dalam hati manusia. Kita sering lupa bahwa apa yang dilakukan dan apa yang didapatkan, sebenarnya selalu bersipat sementara. Karena itu, apapun yang dilakukan dan didapatkan, seharusnya dapat menjadi jalan menuju kesempurnaan diri yang paling hakiki. Tak elok jika segala sesuatu yang bersipat segmentasi malah dijadikan alat untuk melakukan agitasi kepentingan diri. Jika kita hari ini berada dalam posisi seperti itu, maka, segeralah berlari agar kita memiliki kesempatan untuk melakukan pembenahan diri.

Kita akan selalu menjadi apa yang kita percayai. Jika tidak pernah memiliki keyakinan akan apa yang kita percayai tentang diri kita sendiri misalnya, maka, kita tidak mungkin pernah menjadi diri kita. Sebutir telur elang yang dierami induk ayam yang kemudian tumbuh dalam kultur ayam, yang tidak memiliki kepandaian untuk terbang tentu saja, maka, selamanya, ia tidak akan memiliki kemampuan terbang. Hanya jika akhirnya, keturunan elang itu sadar bahwa dia berasal dari keturunan burung elang, lalu ia mencoba untuk terbang, maka, kemungkinan untuk bisa terbang itu dapat ia wujudkan.

Jika tidak pernah sadar, maka, selamanya ia tidak akan pernah bisa terbang. Karena disadari sepenuhnya bahwa induk sosiologisnya tidak pernah memiliki budaya terbang apalagi untuk melatihnya. Aku klhawatir, banyak di antara kita sesungguhnya merupakan keturanan burung elang, hanya sayang, kita berada dalam induk sosiologis yang tidak senafas dengan potensialitas diri kita yang sesungguhnya.

Semua yang bersipat ragawy akan sirna ditelan waktu dan keadaan. Itulah mengapa, ketika aku mendapati sesuatu yang bersipat ragawy, meski mungkin terlambat, pasti akhirnya akan kulekatkan dalam sukma terdalamku. Tujuannya tunggal agar aku mampu mengabadikan apa yang kudapatkan itu. Dengan kusimpan dalam sukma itu, ia akan selalu hidup karena ia bernafas bersama seluruh nafas keabadian. dan karena ia hidup bersama nafas keabadian, maka, aku tidak akan pernah lengah untuk terus mengabdi membangunkan jiwa kemanusiaan meski dalam ruang-ruang Tuhan yang terbatas atau dalam kacamata manusia berada dalam ruang yang sangat luas.

Kita sering bergerak dari satu titik yang dianggap dapat mentranformasikan kebaikan, tetapi, kita sering lupa, bahwa ternyata lilin terang ruang di mana kita berada, selalu kita matikan agar ruangan menjadi gelap. Kegelapan selalu dianggap dibutuhkan agar kita mampu bersembunyi dari huru hara yang kita ciptakan. Kita lupa bahwa pada akhirnya, akan ada pijar raksasa yang dapat membuat terang semuanya. Saat itu, kita tak lagi mampu bersembunyi atasnya. inilah jalan menuju kesempurnaan, semoga bermanfaat. **Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar