Inspirasi Tanpa Batas

SPONSOR

SPONSOR

Jangan bermimpi Imaman lil muttaqin sebelum qurrota a’yun

0 9

Konten Sponsor

HIDUPLAH dengan semangat sebagai penyejuk hati (qurrota a’yun) dan baru berpikir tentang bagaimana menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa (Imaman lil Muttaqin). Itulah kalimat yang meluncur dari orang tua bijak yang telah dikenal penulis sejak tahun 1990-an. Ungkapan itu, dia lontarkan beberapa saat setelah penulis diberi amanah untuk menjadi salah satu skoci di Perguruan Tinggi Negeri Cirebon.

Keluarga yang qurrotaayunin itu sulit. Sebab ia mengharuskan bukan hanya enak dipandang mata, indah didengar telinga, tetapi juga menuntut dinamis dan konstruktif dalam membina umat. Keluarga yang demikian, persis seperti keluarga Nabi Muhammad dan keluarga Imran yang karena terkenal dengan kesalehannya diabadikan dalam al Qur’an. Problemnya dapatkah itu dilakukan, di tengah segenap arus modernism yang telah memporak-porandakan dinamika keluarga, bahkan harmonisme keluarga?

Qurrota A’yun (Penyejuk Hati)

Keluarga yang enak dipandang mata, tentu bukan hanya keluarga yang diisi oleh mereka dengan wajah cakep dan cantik, ekonomi baik dan sejahtera, tetapi, juga keluarga yang mampu memperagakan Islamic conduct dalam berbagai lapis kehidupan. Waktu shalat tiba misalnya, semua anggota keluarga dimaksud menghentikan segala aktivitas dengan sejumlah arogansi sosialnya. Berkhidmat hanya kepada Allah dengan segenap kekurangan dan kelemahan yang terdapat pada dirinya. Begitupun pada saat bulan puasa tiba. Mereka dengan kerelaan hati mengi’tikadi ibadah puasanya untuk melatih dirinya agar menjadi orang yang humanis dan dermawan. Agar puasa dapat menumbuhkan semangat kemanusiaan yang membunuh segenap nafsu kebinatangan.

Shalat dan puasanya juga tidak hanya dalam pengertian literal. Ia mampu meng-implementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika ada saudara atau tetangga yang memperoleh kesulitan, ia langsung memberikan bantuan. Ketika teman-temannya memiliki hajat, dipinta atau tidak dipinta, ia datang memberikan pertolongan. Ketika dicaci dan dimaki, ia diam sambil merenungkan kemungkinan kebenaran terhadap cacian yang diberikan kepadanya.

Begitupun pada saat ia memperoleh keuntungan dan keberkahan hidup. Ia menjadi lebih berusaha untuk mampu bersabar dalam menghadapi berbagai godaan. Ia menyadari bahwa godaan akan semakin terasa dahsyat datangnya, justru di saat berbagai kemudahan datang menghampirinya. Ia menjadi lebih santun, lebih bermurah hati, menjadi lebih penyabar dan menjadi lebih penyayang terhadap setiap orang yang datang menghampiri dirinya. Ia menjadikan berbagai keberkahan hidup yang dia peroleh sebagai kesempatan terbaik untuk menolong umat dan sesama manusia yang lain. Dengan demikian, qurrota a’yun hanya akan lahir dari sosok yang tenang sekaligus solutif terhadap persoalan yang menghinggapi diri dan keluarga serta umat yang menjadi asuhannya.

Tidak terlihat sedikitpun sosok yang menampilkan gejala penuh angkara dan dendam. Ia menyadari dendam hanya akan melahirkan petaka. Ia justru merengkuh semua potensi keluarganya, baik atau buruk. Ia nasehati dengan penuh langgam kewibawaan dan diam untuk memberi ketentraman.

Qurrota a’yun dengan bahasa lain dapat pula diterjemahkan dengan keluarga yang mampu membuat semua anggota yang ada didalamnya hidup sejajar, serasi dan harmonis. Tidak ada apa yang disebut dengan pelayan dan majikan. Tidak ada yang memiliki otoritas mutlak dalam menentukan sebuah keputusan. Jikapun ada, lebih karena mempertajam fungsi-fungsi kerja dengan job deskripsinya masing-masing. Ia menyadari dengan setulus hati, bahwa kemutlakan hanya ada pada Tuhan, Pencipta dan Pemelihara seluruh alam.

Qurrota a’yun dengan demikian berarti keluarga yang mampu memancarkan cahaya ilahi. Keluarga yang mampu menciptakan susasana di mana semua orang merasa menjadi bagian dan merasa memiliki atas apa yang terjadi didalamnya. Keluarga yang mampu menerangi jalan kebaikan bagi anggota keluarga yang ada di dalamnya. Menjadi contoh bagi siapa saja yang berkesempatan untuk menyaksikan dan melihat segenap aktivitas yang dilakukannya.

Imaman lil Muttaqin (Imam bagi orang-orang yang bertakwa)

Imam bagi orang-orang yang bertakwa (Imaman lil Muttaqin) seharusnya ke luar dari anggota-anggota keluarga yang mampu memancarkan semangat Imran yang hidupnya penuh dengan semangat ilahi. Keluarga yang mampu mendesain ketertiban diri, ketertiban anggota keluarga dan baru ketertiban ummah.

Tidak mungkin ketertiban keluarga, harmonisme keluarga, dapat dijamin hadir dari sosok diri yang tidak mampu memancarkan semangat ilahi. Lebih tidak mungkin lagi, jika ia dituntut untuk mampu menertibkan umat yang banyak, jika diri dan keluarganya tidak mampu memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai keluarga yang qurrota a’yun.

Manajemen tersulit dalam hidup dan terus menghimpit manusia moderen, sebenarnya bukan terletak pada bagaimana manusia mampu mengumpulkan uang yang banyak, membentuk  pusaran bisnis yang melimpah, mengalahkan orang lain dalam setiap event politis, tetapi justru pada manajemen diri dan manajemen keluarga. Mengutif salah seorang guru besar di IAIN Syekh Nurjati –yang lama menjadi mentor saya—politik tingkat tinggi justru terletak pada bagaimana seorang suami mampu menjadi leader yang baik bagi anggota keluarga, terlebih istrinya.

Fungsi dan tujuannya, agar ia dapat memposisikan dirinya sebagai figur bagi dirinya, figur bagi keluarga dan sekaligus figur bagi masyarakat yang kosmopolit. Tupe yang demikian, sekaligus mengadagiumkan dirinya sebagai sosok yang lahir dengan semangat untuk mencintai umat. Yang dengan cintanya itu, tidak ada lagi lahan kecuali berbagi dengan umat yang demikian banyak itu. Jika itu terjadi … itulah yang disebut dengan imaman lil muttaqien. **(Cecep sumarna)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar