Jangan Terlalu Jauh Menduga dan Jangan Menebak Masa Depan

3 71

MASA Depan. Inilah ungkapan bapak kami, saat kebetulan liburan bareng. Sambil berjalan di pematang sawah yang biji padinya mulai menguning di sebuah desa. Kebetulan, sawah dimaksud juga berdekatan dengan kebun bambu yang ditanam bapak untuk menjaga kelestarian lingkungan. Baik padi maupun pohon bambu, dekat dengan tempat tinggal kami.

“Anaku, jika suatu hari nanti, kamu bisa menjadi orang, menjadi manusia yang terpandang di mata manusia yang lain, tolong jangan “unggah darajat” atau merasa naik derajat. Biasakan hidup apa adanya. Hiduplah secara teratur. Berpkir benar, berkata benar dan bertindak benar. Jika pada akhirnya anda menjadi pelayan umat, jangan terlalu jauh menduga dan jangan dibiasakan menebak masa depan dari jabatan yang anda sandang. Sebab jika anda terlalu jauh menduga dan menebak, akan banyak orang yang anda sakiti. Menduga hanya mampu memberi kebenaran kurang dari sepuluh persen dari total kebenaran yang ada”.

Hidup Harus Seperti Pohon Padi

Hidup Harus Seperti Pohon Bambu
Hidup Harus Seperti Pohon Bambu

Lihatlah padi. Semakin berisi semakin menunduk. Dia hanya mampu memalingkan dirinya ke bawah. Ke suatu tempat di mana tempat itu, menjadi asal tumbuh dan berkembangnya padi. Kemampuan dia merunduk itu, justru di saat dirinya mengalami tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi bagi kehidupan umat manusia dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Seolah ia menyadari bahwa kehidupannya tumbuh dari suatu tanah lumpur kotor. Pandangannya ke langit hanya difahami sebagai sesuatu yang ideal dan nyaris tidak mungkin terjadi. Ia menyadari bahwa realitas adalah apa yang ada di tempat di mana dia menginjaknya.

Hidup Harus Seperti Pohon Bambu

hidup-harus-seperti-pohon-bambu
Hidup Harus Seperti Pohon Bambu

Atau coba sekali-kali, melihat bambu. Tumbuh dari sesuatu yang kecil, kemudian membesar dan meninggi. Bertumbuh secara perlahan namun penuh kepastian. Semakin tinggi batangnya, semakin kuat kemampuan pohon dimaksud menyangga dirinya. Ia juga mampu melahirkan anak-anaknya dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada dirinya dan berkembang dalam jumlah yang jauh lebih banyak.

Induk dan anak-anak yang dilahirkannya, semakin tinggi semakin matang dengan warna yang terus menguning. Kemudian ia merunduk dan meletakkan ujung pohonnya pada tanah yang menjadi asal mula dari mana dia bermula tumbuh dan berkembang. Menarik untuk disebut, bahwa pohon-pohon di sekitar bambu tumbuh lebih besar dan lebih lurus. Tanah menjadi subur dan air mengalir dengan tingkat kebeningan yang cukup tinggi. Ia memberikan manfaat bagi diri, anak-anak dan teman-temannya sesama tumbuhan dan bermaslahat bagi manusia pada umumnya. Meskipun, mungkin ia menyadari bahwa kelak, manusia akan membinasakannya, dan memotongnya sebelum ia menua untuk kemudian mati.

Itulah ungkapan bapak kami, saat kebetulan liburan bareng berjalan di pematang sawah yang biji padinya mulai menguning di sebuah desa. Kebetulan, sawah dimaksud juga berdekatan dengan kebun bambu yang ditanam bapak untuk menjaga kelestarian lingkungan. Baik padi maupun pohon bambu, dekat dengan tempat tinggal kami. ** (Prof. Dr. H. Cecep Sumarna)

  1. lyceum
    lyceum berkata

    Untuk Mas Noto dan Mba Kiki terima kasih atas komentarnya. Tetapi yang pasti, menebak dan menduga itu selalu bermakna pejoratif. Saya lebih setuju untuk menatap masa depan. Semakin jauh kita menatap, maka, akan semakin besar ruang kita dalam menapaki setiap tatakan hidup yang sedang dan akan kita jalani. Suwun sanget

  2. Sunoto berkata

    Daripada menduga dan menebak masa depan terlalu jauh lebih baik bercita-cita yang besar dan memulai dari hal yang terkecil. Menduga dan menebak masa depan seakan-akan mendahului takdir Tuhan. Seorang anak presiden belum tentu menjadi presiden, begitupun juga seorang anak tukang kayu atau anak tukang becak. Apabila seorang presiden menduga dan menebak masa depan anaknya harus sama seperti dirinya otomatis ia akan menyakiti orang banyak bahkan bisa menyalahgunakan jabatannya karena terlalu jauh menduga dan menebak masa depan.
    Berbeda dengan seorang tukang kayu atau tukang becak yang bercita-cita menjadikan anaknya sebagai presiden, tentunya ia akan berusaha semaksimal mungkin dan akan membangun cita-citanya dari hal yang terkecil seperti menyekolahkan dan mendidiknya agar menjadi orang baik, karena ia tidak menyandang jabatan apapun. Meskipun pada hakikatnya anak itu sendiri yang menentukan masa depannya.

  3. KIKI RIZKY NUZURUL WAHYU UTAMI berkata

    Jangan Terlalu Jauh Menduga dan Jangan Menebak Masa Depan. Ini merupakan hal yang masih saya lakukan Pak. Sebetulnya ada dua komentar yang ingin saya sampaikan, terkait Judul Artikel serta Isi Artikel itu sendiri. Tapi saya rasa, Judul Artikelnya terlalu menarik untuk saya jadikan yang kedua. Bagi saya, menduga sesuatu hal jauh ke depan selama hal tersebut (dugaan tersebut) untuk hal yang baik bukanlah sebuah masalah. Hidup ini adalah sebuah kejutan untuk setiap detik yang Tuhan hadirkan untuk Hambanya. Memikirkan sesuatu hal yang mungkin belum tentu terjadi memang tak selayaknya ditanggapi terlalu serius pabila yang kita duga adalah hal yang menurut kita baik namun ketika kehidupan berkata tidak kita tak lantas begitu terpuruk dengan penolakan yang hidup berikan.
    Menebak masa depan bisa berarti adalah dugaan juga harapan yang akan terjadi. Dan bagi saya bisa di jadikan sebuah motivasi jika kita menebak di masa depan saya akan begini dan begitu, otomatis kita akan semangat memperjuangkannya dari sekarang demi masa depan yang katanya ‘ditebak’. Namun tetap, kita juga harus seimbang antara apa yang kita fikirkan serta kenyataan yang mungkin saja terjadi di luar apa yang semestinya inginkan, maka ketika kita terjatuh pun kita masih tetap dapat tersenyum penuh rasa syukur dan bangkit kembali dengan lebih baik daripada sebelumnya ?** MP

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.