Inspirasi Tanpa Batas

Jangan Terlalu Jauh Menduga dan Jangan Menebak Masa Depan

0 79

MASA Depan. Inilah ungkapan bapak kami, saat kebetulan liburan bareng. Sambil berjalan di pematang sawah yang biji padinya mulai menguning di sebuah desa. Kebetulan, sawah dimaksud juga berdekatan dengan kebun bambu yang ditanam bapak untuk menjaga kelestarian lingkungan. Baik padi maupun pohon bambu, dekat dengan tempat tinggal kami.

“Anaku, jika suatu hari nanti, kamu bisa menjadi orang, menjadi manusia yang terpandang di mata manusia yang lain, tolong jangan “unggah darajat” atau merasa naik derajat. Biasakan hidup apa adanya. Hiduplah secara teratur. Berpkir benar, berkata benar dan bertindak benar. Jika pada akhirnya anda menjadi pelayan umat, jangan terlalu jauh menduga dan jangan dibiasakan menebak masa depan dari jabatan yang anda sandang. Sebab jika anda terlalu jauh menduga dan menebak, akan banyak orang yang anda sakiti. Menduga hanya mampu memberi kebenaran kurang dari sepuluh persen dari total kebenaran yang ada”.

Hidup Harus Seperti Pohon Padi

Hidup Harus Seperti Pohon Bambu
Hidup Harus Seperti Pohon Bambu

Lihatlah padi. Semakin berisi semakin menunduk. Dia hanya mampu memalingkan dirinya ke bawah. Ke suatu tempat di mana tempat itu, menjadi asal tumbuh dan berkembangnya padi. Kemampuan dia merunduk itu, justru di saat dirinya mengalami tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi bagi kehidupan umat manusia dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Seolah ia menyadari bahwa kehidupannya tumbuh dari suatu tanah lumpur kotor. Pandangannya ke langit hanya difahami sebagai sesuatu yang ideal dan nyaris tidak mungkin terjadi. Ia menyadari bahwa realitas adalah apa yang ada di tempat di mana dia menginjaknya.

Hidup Harus Seperti Pohon Bambu

hidup-harus-seperti-pohon-bambu
Hidup Harus Seperti Pohon Bambu

Atau coba sekali-kali, melihat bambu. Tumbuh dari sesuatu yang kecil, kemudian membesar dan meninggi. Bertumbuh secara perlahan namun penuh kepastian. Semakin tinggi batangnya, semakin kuat kemampuan pohon dimaksud menyangga dirinya. Ia juga mampu melahirkan anak-anaknya dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada dirinya dan berkembang dalam jumlah yang jauh lebih banyak.

Induk dan anak-anak yang dilahirkannya, semakin tinggi semakin matang dengan warna yang terus menguning. Kemudian ia merunduk dan meletakkan ujung pohonnya pada tanah yang menjadi asal mula dari mana dia bermula tumbuh dan berkembang. Menarik untuk disebut, bahwa pohon-pohon di sekitar bambu tumbuh lebih besar dan lebih lurus. Tanah menjadi subur dan air mengalir dengan tingkat kebeningan yang cukup tinggi. Ia memberikan manfaat bagi diri, anak-anak dan teman-temannya sesama tumbuhan dan bermaslahat bagi manusia pada umumnya. Meskipun, mungkin ia menyadari bahwa kelak, manusia akan membinasakannya, dan memotongnya sebelum ia menua untuk kemudian mati.

Itulah ungkapan bapak kami, saat kebetulan liburan bareng berjalan di pematang sawah yang biji padinya mulai menguning di sebuah desa. Kebetulan, sawah dimaksud juga berdekatan dengan kebun bambu yang ditanam bapak untuk menjaga kelestarian lingkungan. Baik padi maupun pohon bambu, dekat dengan tempat tinggal kami. ** (Prof. Dr. H. Cecep Sumarna)

Komentar
Memuat...