Jengkol dan Fenomena Ekonomi Indonesia Temporer

0 44

Adakah rumah makan di Indonesia yang tidak menyajikan masakan jengkol? Masakan dalam bentuk balado, digoreng kering atau mentahan. Jawabannya pastilah tetap ada. Tetapi jika ada pertanyaan, rumah makan mana yang tidak mengenal jengkol? Nah ini yang sulit. Saya kira, bangsa Indonesia pasti mengenal minimal pernah mendengar kata jengkol. Dari itu, selayaknya kita tahu Jengkol dan Fenomena Ekonomi Indonesia Temporer

Sewaktu saya masih kecil, makan jengkol dianggap sebagai kampungan dan dianggap sebagai makanan orang miskin. Ia bukan saja memberi efek bau pada mulut dan wc, tetapi, juga sering dianggap memberi racun ke dalam tubuh.

Jengkol, yang tumbuh serabut di lereng-lereng gunung, dalam wikipedia disebutkan bahwa, ia adalah khas tumbuhan Asia Tenggara. Beberapa negara di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar dan Brunei Darusalam, pohon ini tumbuh meski tanpa ditanam secara khusus.

Nama pohon ini memang tidak sama. Ada yang menyebut dengan kata jering, jaring dan ering. Dalam bahasa ilmiah, jengkol dikenal dengan istilah Pithecollobium Jiringa atau Pithecollobium Labatum. Inilah jenis tanaman khas tropis.

Racun Jengkol Kini Jinak

Yang cukup mengherankan, dulu ketika masih kecil, makan jengkol harus ekstra hati-hati. Sebab salah-salah, bisa kena “jengkoleun”. Jengkol dianggap memiliki racun berbahaya. Jika ditimpa racun jengkol, akan sangat sulit kencing. Air kencing dengan warna putih, harus terpaksa keluar dengan irisa-irisan berbentuk batu kerikil. Sakitnya minta ampun.

Perut terasa sangat mual. Pinggang sangat sakit. Kencing seperti “anyang-anyangan”. Itulah ciri orang terkena racun jengkol. Keracunan ini, hanya akan sembuh jika memperbanyak minum air putih, atau minum dicampur dengan garam. Maklum obat kimiawi waktu itu sangatlah langka.

Hari ini, saya tidak mendengar cerita ada orang terkena racun jengkol. Entah bagaimana ceritanya. Jengkol ko bisa menjadi ramah. Bisa dimakan kapan saja dan oleh siapa saja. Beda dengan masa lalu yang jika ingin makan jengkol, ia harus “disepi” atau dikubur ke dalam tanah. Hari ini yang kita dengar di berbagai pemberitaan nasional, harga jengkol melambung tinggi. Ia bukan saja mengalahkan harga beras, tetapi, juga mengalahkan harga daging ayam atau telor.

Jika ingin membuat semur jengkol, tentu untuk masa lalu, jengkol harus digodok dengan air sangat mendidih. Proses penggodogannya sendiri, dicampur dengan tanah berwarna merah. Setelah itu, dipukul-pukul sampai lembek. Baru dimasak. Tujuan semua proses itu adalah agar racun dalam jengkol dpat dijinakan. Semur jengkol semacam itulah, yang saat ini hampir sudah tidak dapat ditemukan.

Hari ini, jengkol malah tumbuh menjadi komoditas yang cukup lumayan mengganggu inflasi. Jengkol memang sudah tidak mengganggu perut dan ginjal manusia, tetapi, ia malah mengganggu komoditas pasar konsumsi yang jika tidak hati-hati, malah berdampak terhadap inflasi. Jengkol kini tumbuh malah menjadi fenomena ekonomi Indonesia. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.