Jika Tawaran Ishlah Ditolak, Maka Berlaku Hukum yang Ada

0 7

Jika Tawaran Ishlah Ditolak, Maka Berlaku Hukum yang Ada: Dalam kehidupan sehari- hari terkadang kita menyaksikan berbagai macam konflik yang menuju kepada ishlah. Namun dalam prakteknya, kadang terjadi penolakan yang datang dari orang yang berhak atas tuntutan hukum yang berlaku. Ia enggan damai kalau hanya dengan menerima keputusan lawannya yang tidak seberat sesuai dengan semestinya.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ الزُّبَيْرَ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّهُ خَاصَمَ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شِرَاجٍ مِنْ الْحَرَّةِ كَانَا يَسْقِيَانِ بِهِ كِلَاهُمَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْزُّبَيْرِ اسْقِ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ أَرْسِلْ إِلَى جَارِكَ فَغَضِبَ الْأَنْصَارِيُّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ آنْ كَانَ ابْنَ عَمَّتِكَ فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ اسْقِ ثُمَّ احْبِسْ حَتَّى يَبْلُغَ الْجَدْرَ فَاسْتَوْعَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَئِذٍ حَقَّهُ لِلْزُّبَيْرِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ ذَلِكَ أَشَارَ عَلَى الزُّبَيْرِ بِرَأْيٍ سَعَةٍ لَهُ وَلِلْأَنْصَارِيِّ فَلَمَّا أَحْفَظَ الْأَنْصَارِيُّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَوْعَى لِلْزُّبَيْرِ حَقَّهُ فِي صَرِيحِ الْحُكْمِ .(رواه البخارى)

 Zubair pernah menceritakan bahwa ia pernah mengadukan percekcokannya dengan seorang dari kaum Anshor yang pernah ikut perang Badar bersama Rasulullah s.a.w, berkaitan dengan masalah irigasi di tanah yang gersang yang diairi mereka berdua, lantas Rasulullah saw mengatakan kepada Zubair; Airi ladangmu wahai Zubair dan setelah itu alirkan kepada tetanggamu.Orang ansor tersebut marah dan berkata; Wahai Rasulullah apakah begitu perilaku keponakanmu itu? Maka muramlah muka Rasulullah s.a.w, seraya bersabda; Kalau begitu airi sampai penuh lalu tutup. Pada waktu itu Rasulullah berusaha menyadarkan kepada orang ansor tersebut bahwa haknya sebenarnya adalah milik Zubair. Padahal sebelumnya Rasulullah juga sudah memberi pandangan kepada Zubair dan Ansor tersebut. Tetapi setelah ia memarahi Rasulullah, akhirnya ia sadar bahwa yang dikuasai adalah milik Zubair sesuai dengan yang telah diputuskan.

Apabila ternyata tawaran ishlah ditolak oleh salah satu dari yang berperkara dan perkara tersebut telah sampai kepada hakim, maka akan berlaku hukum ada. Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh Abi daud yang bersumber dari Abdullah bin Amr:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعَافُّوا الْحُدُودَ فِيمَا بَيْنَكُمْ فَمَا بَلَغَنِي مِنْ حَدٍّ فَقَدْ وَجَبَ  (رواه البخارى)

Ishlah terhadap Qishash Tidak Menggugurkan Had yang Diajukan oleh Pendakwa

Suatu perkara yang telah dikategorikan oleh syara’ sebagai katagori qishash. Sementara lawan perkaranya mau berishlâh dengan membayar diyat, maka si-mushlih tidak boleh untuk mengelak. Jika ia mengelak, maka yang berlaku adalah hukum asalnya (qishash).

Hadits di bawah ini bukanlah Islam tidak mengedepankan ishlah, tetapi karena lawan perkara ingin meminta banding atas kekeliruannya. Ketika hal tersebut telah masuk dalam wilayah aduan formal, maka yang berlaku adalah hukum asalnya. Kecuali jika kedua orang yang berperkara mau kembali damai dan bersahaja membatalkan keputusan yang pertama.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي حُمَيْدٌ أَنَّ أَنَسًا حَدَّثَهُمْ أَنَّ الرُّبَيِّعَ وَهِيَ ابْنَةُ النَّضْرِ كَسَرَتْ ثَنِيَّةَ جَارِيَةٍ فَطَلَبُوا الْأَرْشَ وَطَلَبُوا الْعَفْوَ فَأَبَوْا فَأَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهُمْ بِالْقِصَاصِ فَقَالَ أَنَسُ بْنُ النَّضْرِ أَتُكْسَرُ ثَنِيَّةُ الرُّبَيِّعِ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا تُكْسَرُ ثَنِيَّتُهَا فَقَالَ يَا أَنَسُ كِتَابُ اللَّهِ الْقِصَاصُ فَرَضِيَ الْقَوْمُ وَعَفَوْا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ . (رواه البخارى)

Anas bercerita bahwa Rabi, mematahkan gigi serinya seorang budak lantas mereka menuntut diyat sementara ia meminta maaf tetapi mereka enggan, lalu mendatangi Nabi SAW lantas Nabi memerintahkan mereka untuk melaksanakan qishash, lalu Anas berkata; Ya rasulullah apakah gigi Rabi’ harus dipatahkan juga? Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, jangan engkau patahkan gigi Rabi’,lalu Rasul menjawab; Wahai Anas, kitab/hukum Allah memutuskan untuk diqishash,lalu mereka rela dan saling memaafkan, seraya Nabi bersabda; Sesungguhnya hamba Allah yang baik itu  jika ia bersumpah atas nama Allah ia akan melakukan (kebaikan) nya.

Oleh Dr. Ahmad Munir, M.Ag [Dosen Ushuludin STAIN Ponorogo]

Bahan Bacaan

Shahih Muslim: 1903, An-Nasai: 4755-57, Abu daud: 4595, Ibnu Majah: 2649, Ahmad: 1189-91.

Al-Hafid Abi Daud Sulaiman bin Al-Asy’ats, Sunan Abi Daud, Beirut: Dâr Al-Fikr, 1974, J.4, hlm.321. lihat juga An-Nasa’i ,  Sunan Nasa’i, Al-Mujtaba’ Syarh al-hafid jalaluddin Al-Suyuthi, Beirut: Dâr al-Fikr, 1995, J.4, hlm. 234.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.