Inspirasi Tanpa Batas

Cerpen Jiwa yang Muda – Krisis Moral

Jiwa yang Muda adalah sebuah Cerpen Krisis Moral yang Inspiratif

0 36

“Di, akhirnya kita sampai juga kemari…” Alif memegang pundakku seraya berkata demikian layaknya seorang musafir yang telah menemukan telaga ditengah dahaganya. Aku hanya ersenyum simpul, memang sudah berjam-jam kami menghambiskan waktu dengan terduduk di kursi bus, sangat menjemukan bukan? Maka wajarlah pabila Alif bertingkah demikian.

Kulemparkan pandangan kesegala sudut kota besar ini, dari mulai gedung-gedung yang menjulang, jalan-jalan raya yang ramai, market-market yang besar serta rumah hunian penduduk yang megah. Namun, hal demikian tak banyak menyita perhatianku.

Pandanganku fokus tertuju pada sosok lelaki tua renta yang tengah memegang sapu, yang batang sapunya sedikit lebih panjang dari sapu-sapu yang biasa digunakan ibuku di rumah.

Ia menyisiri sepanjang sisi-sisi jalan kota ini dengan menyapu sampah-sampah yang berserakan lalu memasukkannya ke dalam tong sampah yang ia bawa.

Tubuhnya selalu membungkuk ketika ia sedang memungut sampah, namun ketika tidak memungut sampah pun ia tak dapat berdiri dengan tegap.

Betapa malangnya.

Aku membayangkan betapa seringnya ia memikul beban berat di punggungnya di kala masa mudanya. Seharusnya di masa lansianya ia dapat menikmati duduk santai sembari menyeruput Teh hangat di kala pagi tanpa diganggu oleh rengekkan anak kecil yang menangis dihadapanya.

Namun, nasib orang memang berbeda.

Tak beberapa lama kemudian terlihat beberapa  gerombolan muda-mudi berjalan sempoyongan dari arah yang berlawanan di mana lelaki tua renta itu berada

Mereka terus berjalan dengan bersenda gurau mencercau tak karuan, ia tak pedulikan alam sekitarnya, bahkan dengan tong sampah miilik lelaki tua yang telah ia tabrak.

Tong sampah terjatuh.

Sampahnya pun berserakan kemana-mana lalu berhamburan kerana dihembus semilir angin. Lelaki tua itu memandang sedih, karena sampahnya yang berhamburankah?

Bukan!

Melainkan ia memandang sedih pada geromboam muda-mudi yang meintas dihadapanya beberapa menit yang lalu. Dimana yang wanita mengenakan pakaian bawah hanya sebatas sampai di atas lutut saja, sedangkan pakaian atas yang terbuka dengan memperlihatkan lengannya yang jenjang. Mata lelaki tua itu beralih pandang pada para pemuda yang menenteng sebuah botol minuman anggur.

Sungguh ironi bukan?

“Lif, apakah bisa hal yang tidak biasa, dianggap biasa?”

Kataku sembari menoleh kepada teman karib yang berada disebelahku

“Jangan mudah tertipu hanya pada satu sisi, Di.”

“Tapi, akan lebih baik jika merubah segala sisi menjadi baik, bukan?”

Alif memandangku malas

“Siapa yang peduli, Di? kau peduli apa hanya sekedar berempati?”

Ia lantas melongos pergi dengan mempercepat langkahnya, aku segera cepat-cepat menyusul. Alif beberapa lama terdiam, lantas menghembuskan nafas beratnya seraya berujar

“Jiwa muda, akan mudah goyah Di.”

Lagi-lagi aku hanya tersenyum kecil atas ucapan Alif yang terlontar tadi.

“Memang, untuk membentuk jiwa yang kuat perlu modal yang banyak, bukan”

Ia memandangku sekilas, dan mengangguk setuju.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar