Jomblo Itu Antara Pilihan dan Takdir

0 106

Sesuatu yang tabu biasanya luput dari bahasan publik. Ada satu persepsi bahwa sesuatu tabu harus dibahas dalam ranah privasi. Persepsi ini bisa saja benar namun tidak selamanya benar juga, ada kalanya keliru bahkan dalam konteks tertentu bisa terjadi kesalahan. Masalah tabu secara umum kita pahami berkaitan dengan masalah yang menyinggung ranah privat. Namun demikian, ranah ini juga mesti dijembatani agar bagi mereka yang menemukan masalah-masalah tabu ini dapat menemukan solusi.

Sebelum mengupas masalah jomblo, penulis ingin sedikit mengkonfirmasi tentang persepsi penulis bahwa jomblo itu termasuk masalah tabu atau ranah privat. Hal ini ditafsirkan bahwa ketika seseorang sudah dihadapkan pada masalah-masalah pribadi tentu publik tidak boleh turut campur dalam pemecahan masalah secara detail. Publik hanya memberikan alternatif umum sebagai pilihan solusi namun tidak memaksakan untuk menjadikan salah satu pilihan sebagai sesuatu yang paling tepat untuk dilakukan oleh seseorang yang mengalami masalah tersebut.

Jomblo dan Terminologi Kini

Dalam konteks kebahasaan sesuai dengan karakternya bahwa bahasa lahir dari aspek arbitrer-mana suka bukan suka-suka. Arbitrer atau mana suka dapat difahami bahwa hanya kesepakatan komunitas saja sebagai penggunanya bahasa itu dapat tercipta. Jika tidak ada kesepakatan dalam komunitas maka bahasa itu tidak akan terjadi atau tidak berkembang.

Berkaitan dengan terma ‘jomblo’, penulis tidak akan mengupas banyak asal-usul jomblo itu, akan tetapi penulis ingin mengemukakan bahwa istilah ini memiliki kesan variatif bagi orang yang dikenai identitas ini. Jomblo secara umum dipahami sebagai satu status yang dimiliki oleh seseorang yang belum memiliki pasangan, baik dalam konteks pacaran atau calon pendamping hidup. Dikatakan sebagai persepsi variatif ini, jomblo bisa muncul dalam bahasa perkawanan dekat sehingga bermakna biasa dan tidak bersifat menyinggung. Hal ini dapat terjadi dalam konteks komunikasi rileks dan hangat persahabatan, disamping itu juga faktor usia tidak menjadi penghambat. Maka terma jomblo akan terasa ringan dan tak berbeban jika dalam ungkapan muncul.

Variasi kedua dalam konteks kedua, jomblo akan terasa tidak nyaman dan terkesan tabu yang mengakibatkan perseteruan adalah ketika dalam kondisi menjurus sangat pribadi. Persepsi usia dan keumuman budaya dalam publik itu sendiri. Seseorang akan merasa tersinggung jika disebut jomblo jika ia ada dalam usia yang layak untuk sudah memiliki pasangan dan kelaziman di situasi itu mengatakan usia tertentu sudah memiliki pasangan. Hal ini akan tidak elok dan tidak beretika jika diungkapkan dipublik sekalipun dalam suasana pertemanan dan perkawanan.

Jomblo dan Pilihan

Dalam konteks ini, seseorang yang berada dalam posisi jomblo mesti membaca diri, memahami kriteria yang diinginkan dan menyelaraskan dengan kriteria yang ada dalam diri. Pertimbangan yang lama dan panjang, kriteria yang cukup perfeksionis dan persepsi keluarga yang sulit terjangkau akan menjadi salah satu kesulitan untuk melepas status jomblo dan menemukan pasangan.

Semua orang pasti menginginkan pasangan yang sempurna akan tetapi sedikit orang yang ingin belajar memahami potensi diri. Potensi diri yang dimaksud adalah satu gambaran pribadi yang dapat dibaca oleh lawan jenis dalam menentukan kriteria dirinya untuk diri kita. Seseorang tidak boleh memaksakan kriteria ideal untuk dirinya dari orang lain. Sementara ia belum bisa menunjukkan potensinya kepada publik untuk diukur sebagai sebuah kriteria.

Dalam konteks ini, jomblo sering menjelma sebagai sebuah pilihan. Padahal, pribadi-pribadi yang jomblo itu sesungguhnya tidak menginginkan keadaan seperti itu. Akan tetapi pribadi-pribadi itu terjebak dalam penentuan kriteria untuk dirinya dari orang lain bukan membaca dan meningkatkan potensi diri akan terukur baik kriteria dirinya oleh orang lain. Sekali lagi jomblo dalam konteks ini harus dipahami sebagai kekeliruan pribadi. Semakin mampu mengenal potensi diri, maka semakin mudah seseorang mendapatkan kriteria pasangan yang tepat untuk dirinya.

 Jomblo dan Takdir

Jika ada banyak orang yang mempersepsikan bahwa ketika seseorang belum menikah atau mempunyai pasangan maka ia belum sempurna hidupnya. Apalagi ketika sebagian orang mempolitisasi tafsir religi bahwa ketika belum menikah maka belum disebut ummat nabi. Persepsi-persepsi di atas tidak selamanya benar dan tidak selamanya salah. Yang salah adalah ketika melakukan justifikasi bahwa yang disebut orang baik hanya mereka yang sudah menikah saja. Ini persepsi yang mendakwa bahwa seseorang yang menyendiri adalah sesuatu yang buruk. Penulis sangat tidak setuju dengan hal itu.

Seseorang yang telah menguapayakan dengan berbagai usahanya untuk mendapatkan jodoh kehidupan namun pada akhirnya belum ketemu juga, maka Allah tetap akan mencatat kebaikannya dari segi usaha ikhlasnya sebagai sesuatu yang bernilai. Allah selalu menyuruh kita melakukan dan menjalani proses kehidupan, sementara kita tidak terbebani dengan kesimpulan kehidupan. Hukum kehidupan hanya mengatakan bahwa menuju sesuatu yang baik harus dimulai dari yang baik. Begitu juga ketika dalam posisi jelek harus segera menuju ke jalan yang diridhoi oleh Allah dengan tuntunan yang tertuang dalam ayat-ayat-Nya.

Kita tidak memiliki hak untuk mendakwa seseorang yang sampai saat ini masih lajang atau jomblo di suianya yang sudah layak. Kita juga tidak memiliki hak untuk menyatakan lebih sempurna bagi mereka yang sudah menikah. Karena penilaian sempurna atau tidaknya seseorang dalam konteks kehidupan sangat beragam sesuai dengan konteks bahasannya. Hargailah mereka yang sedang belajar menemukan kehidupan untuk menuju yang lebih baik. Persepsi baik menurut manusia belum tentu baik menurut Tuhan, begitu juga keputusan baik menurut Tuhan terkadang manusia menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan. Menjadi pribadi yang terus berjalan dalam ayat-ayat-Nya adalah pilihan yang harus diambil. Tidak harus disibukkan untuk menyikapi cerita dan perjalanan hidup orang lain.*** Nanan Abdul Manan


foto-nanan-abdul-mannanTentang Penulis

Nanan Abdul Manan, lahir di Kuningan tanggal 11 Februari 1982. Penulis adalah Dosen STKIP Muhammadiyah Kuningan. Untuk mengetahui lebih lengkap Lihat Biografi Lengkapnya  

Komentar
Memuat...