Jualan itu Bernama Rakyat Miskin | Novel Filsafat Part – 4

Jualan itu Bernama Rakyat Miskin | Novel Filsafat Part - 4
0 78

Rakyat miskin, terbelakang, rural dan kumuh, itulah komoditas. Suatu produk Tuhan yang paling mudah diperjual belikan. Diperdagangkan bukan hanya di Valas, tetapi, di tepi jalan dan di emper toko. Lapak-lapak yang kumuh, harus diberangus dengan kejam dengan alasan demi ketertiban. Suatu pola hidup masyarakat moderen, butuh kata tertib, meski untuk ketertiban itu, sesungguhnya mereka hidup dalam keropos ekonomi akut.

Leuxiphos bertanya terus dalam bathinnya, dalam ungkapan kalimat, sampai kapan. Ya sampai kapan, kata-kata itu diperdagangkan. Aku tak mungkin menghentikannya! Mengapa? Karena pembelaan pada apa yang disebut dengan kata miskin, telah dipidatokan di pegunungan yang sangat jauh dari balutan peradaban. Mereka tumbuh dalam gumpalan yang terus menyeruak ke permukaan dan didorong secara massif oleh para anti Dewa. Mereka dipaksa melawan kekuasaan sehebat apapun kekuasaan itu bercokol.

Melawan demi menjaga dan membela keadilan, itulah kata kuncinya. Karena kalimat-kalimat sakti ini pula, Wealthy harus terjungkir. Ia tak lagi kuasa menjaga kekuasaannya, dan bahkan menjaga wilayah privatnya sebagai penjaga Dewa. Wealthy dipaksa rakyatnya hanya untuk menjaga Dewa hanya dalam bathinnya.

Dengan katupan mata yang sedikit memejam, dan tangan bergerak kecil memukul-mukul Mobil Volvo kesukaannya, Wealthy  merelakan semuanya. Dalam bathinnya ia berkata: “Biarlah aku sendiri yang menjaga-Mu”. Lirih Wealthy  di mobil kesayangannya. Volvo kecintaannya itu ia tunggangi dengan pelan. Saat itu, ia diapit seorang wanita semata wayangnya.

Eheeeem … ah aku makin kacau. Bahkan berada dalam puncak kekacauan yang tak berhingga. Bathin  Leuxiphos terus menggerutu dan berlari dalam putaran pemikiran yang sulit dijangkau siapapun, termasuk oleh dirinya.

Bagaimana mungkin aku tidak kacau. Sebab dalam banyak sessi kemiskinan atau apapun istilah yang disandingkan kepadanya, adalah juga musuh Dewa. Tetapi, menjual kemiskinan untuk kekuasaan, juga adalah sama-sama musuh Dewa.

Ke Mana  Aku Bertanya

Dalam lamunan panjangnya, Leuxiphos berusaha mencari jalan keluar untuk bertanya, atas situasi kebathinan yang menghimpitnya. Tetapi ia merasa sangat sulit. Ia bingung mencari figur yang pas untuk mempertanyakan segala bentuk keluh kesahnya. Mau datang ke para petinggi Mandataris Dewa, Leuxiphos ragu. Mengapa? Sebab mereka kini diam.

Mereka dalam anggapan Leuxiphos seperti sedang meralat perjalanan masa lalu, yang sebenarnya berdiri di balik semua penjaga gawang Wealthy. Mengapa aku harus bicara? Aku ini siapa? Aku bahkan tak pernah memperoleh embel-embel sebagai Mandataris Dewa. Mengapa aku yang bingung dan mengapa aku yang kacau.

Di sini aku harus sadar bahwa aku tak mengenal apapun. Surat-surat Dewa yang terakhir dikirim-Nyapun, yang berisi 114 Surat dan 30 Sub Pokok Bahasan itu-pun aku tak mengenal dan tak menguasainya dengan baik. Apalagi atas surat-surat Dewa lain  yang Dia kirim beberapa milenia sebelumnya.

Tetapi aku mengerti mengapa Dewa mengirimkan demikian banyak surat. Sesungguhnya, karena Dia hanya ingin dikenal, diakui dan dijadikannya sebagai tempat segala ketergantungan. Tuhan … atas nama mereka yang kini sedang mabuk menolak eksistensi-Mu, maafkanlah aku. Biarkanlah aku tetap mengenal-Mu, meski milyaran umat-Mu, tak lagi peduli atas-Mu. By. Prof. Cecep Sumarna. Bersambung

Komentar
Memuat...