Jusuf Kalla dan Toyota di Indonesia

0 24

AIR jatuh tidak akan jauh dari sumber di mana air itu turun. Pepatah itu, cocok juga untuk Jusuf Kalla. Ia lahir dalam kultur pebisnis dan sukses merengkuh hidup dalam dunia bisnis juga. Melalui tangan dia juga, NV Hadji Kalla, berhasil mengembangkan sayapnya dalam berbagai bisnis multi nasional yang cukup kompleks. Pengalaman bisnis dalam keluarga, terasa semakin sempurna, karena ia mendalami teori ekonomi di Universitas Hasanudin (Unhas) Makasar.

Dua kekuatan itu, semakin menguat terlebih ketika ia juga berguru langsung dengan ekonom pertama Indonesia, yakni Muhammad Hatta. Tiga faktor inilah, tampaknya telah membuat dirinya memiliki kemampuan lebih dalam pengembangan dunia usaha. Melalui NV Hadji Kalla, ia kemudian berani mengambil resiko dengan mengubah cakupan usaha ini, dari hanya perbengkelan sederhana pada awalnya, menjadi usaha raksasa dalam posisi strategis sebagai pengimport mobil Toyota.

Kita tahu kalau Toyota adalah Produk Jepang. Dan pada tahun-tahun di mana Kalla mengimport kendaraan dimaksud, sentimen masyarakat Indonesia justru sedang berada dalam skala massif melakukan penolakan. Berbagai demontrasi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, belum beranjak jauh waktunya saat di mana Kalla untuk pertama kali melakukan kegiatan bisnis dimaksud.

Pebisnis itu Harus Mampu Spekulasi

Melalui Kalla ini, kita dapat melihat bahwa dalam sisi tertentu, yang namanya bisnis memang butuh spekulasi. Dan itu sudah ditunjukkan Kalla saat dia masih murni menjadi pengusaha, dengan salah produk import mobil Toyota. Karena itu, jika hari ini ada pertanyaan siapakah orang pertama yang melakukan importir mobil Toyota ke Indonesia dari Jepang itu? Jawabannya, dalam konteks Indonesia adalah Jusuf Kalla melalui CEO NV Hadji Kalla yang berbasis di Makasar.

Inilah suatu CEO yang berhasil mengembangkan sayap-sayap perusahaan sehingga menjangkau dalam bidang perhotelan, konstruksi, penjualan kendaraan, perkebunan kelapa saeit, perkapalan, perhotelan, real estate dan transportasi.

Tampaknya, Karena kekayaannya yang besar ini pula, ia kemudian menjadi demikian mudah masuk dalam dunia politik. Karier politiknya-pun sangat cemerlang dan pesat. Ia menjadi kader Golkar dan kemudian menduduki pos-pos penting dalam organisasi politik pohon beringin ini, bahkan sempat menjadi Ketua Golkar tahun 2004. Melalui Partai politik ini pula, ia kemudian didapuk menjadi anggota MPR tahun 1988, dan menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan merangkap ketua Bulog di era pemerintahan Abdurachman Wachid (1999-2001). Di pemerintahan Megawati, 2001-2004, JK menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat atau Menko Kesra.** (TLI)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.