Inspirasi Tanpa Batas

Jusuf Kalla Masa Kini dan Dulu Kala

0 17

JUSUF KALLA (JK) kini dan dulu kala, mulai menampakkan diri dalam gejala berbeda. Perbedaan itu bukan karena ia sudah mulai tua, tetapi, kearipan dan kecenderungannya, telah membawa dirinya dalam alam yang sulit diduga. Aktivis dan Ketua Dewan Dakwah Islam ini, kini tampaknya sedang bingung dalam mengambil sikap. Apakah menyatakan pembelaan atau penolakan atas gagasan sebagian besar masyarakat Muslim Indonesia, yang menunut Ahok bukan hanya sekedar di tersngkakan, tetapi, juga dijebloskan ke dalam penjara.

Menjadi Wakil Presiden dalam kultur birokrasi yang terlalu diametral ini, tampaknya telah membuat Kalla, mulai kehilangan arah atas sikap dan posisi yang biasa dia hadapi. Ia kelihatannya tak menyangka, jika Sang Jokowi yang menjadi Presiden RI ke 7 ini, yang dulu sempat “diragukan” kemampuannya, ternyata jauh lebih pintar, bak kancil. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana cara dirinya mengamankan adik-adiknya di HMI yang saat masuk ke dalam penjara.

Kupu-kupu yang Kehilangan Sayap

Sikap diam JK dapat difahami, mengingat basis massa yang dia miliki dari kultur NU plus KAHMI di satu sisi, dan Muhamadiyah dari istrinya di sisi  yang lain, harus berhadapan dengan realitas politik yang cenderung mereduksi dunia Keislaman ala kultur organisasi-organisasi di mana hari ini dia hinggap. Kini ia seperti kupu-kupu yang kehilangan sayap untuk terbang.

JK yang di Watampone, 15 Mei 74 tahun yang lalu itu, didapuk menjadi Wakil Presiden dalam dua jabatan yang berbeda. Tahun 2004-2009, ia menjadi Wakil SBY dan 2014-2019, mendampingi Joko Widodo. Inilah wakil Presiden terlama di Indonesia. Sejarah Indonesia, selalu menempatkan Wakil Presiden selalu dalam satu kali Jabatan. Jusuf Kalla, malah, menempatinya dalam dua waktu yang berbeda.

Keluarga dengan habit pengusaha, lahir dari bapak bernama H. Kalla dan ibu bernama Athirah ini, melabuhkan hidupnya, setelah mereka pindah dari Watamponen ke Makasar itu, dalam satu wadah bisnis bernama NV Hadji Kalla Trading Company sejak tahun 1952. Melalui induk perusahaan inilah, Jusuf Kalla memperoleh bekal entrepreneur yang cukup baik dari kedua orang tuanya. Ia lahir dari kultur pedagang yang sukses dan diapun menjadi pengusaha yang sukses juga.

Kehidupan Kalla yang kaya itu, tidak membuatnya terlena. Ia adalah sarjana Ekonomi tahun 1967 dari Universitas Hasanudin, Makasar. Di SMA ia aktivis PII dan semasa kuliah Unhas, dia mengikuti kegiatan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia juga tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Dewan Mahasiswa. Inilah asisten dosen di Unhas untuk mata kuliah ekonomi yang diajarkan Mantan Wakil Presiden RI pertama yakni Muhammad Hatta.

Dapat dibayangkan, kalau dia menjadi asisten sang wakil presiden. Meski mungkin capaian karier dosennya tak menerus, tetapi, pengaruhnya tentu cukup besar. Pengalaman sebagai asisten ini pula yang mendorongnya mengikuti kuliah lanjutan di the European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis pada tahun 1977. Wajar kalau kemudian dia diasumsikan memiliki kepandaian tertentu dalam bidang ekonomi. ** (TLI).

Komentar
Memuat...