Inspirasi Tanpa Batas

KAHMI dalam Gairah dan Wajah Baru

0 113

Konten Sponsor

Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam [KAHMI], belakangan tampak mulai bangun. Wajah ceria dan semangatnya, terpancar dalam seragam hijau hitam, khususnya ketika hari Minggu Pagi bergerak dalam iringan olah raga pagi. Di setiap minggu tidak kurang dari 160 Cabang Kabupaten/Kota membuka program KFJS. Program ini diikuti alumni HMI seantero Nusantara dan bahkan Luar Negeri. Mereja serempak bergerak ke jalan. Berjalan kaki dalam suatu program yang disebut dengan Kahmi Forever Jalan Sehat [KFJS].

Program ini, seperti telah membangunkan KAHMI dari mimpi suramnya yang berlangsung selama Orde Reformasi, khususnya dalam sewindu terakhir. KAHMI yang tidur atau ditidurkan dalam durasi yang cukup panjang, kembali disadarkan. Disadarkan akan eksistensinya dalam lakon gerakan baru bernama kesadaran kebangsaan.

Ragam tafsir atas peran alumni-alumni HMI di periode sebelumnya, khususnya di Era Orde Baru, tidak harus membuat KAHMI surut. Banyak kader KAHMI yang masih genuin dan membawa visi missi kebangsaan yang juga tetap genuin. KFJS akhirnya, mampu mendorong sikap bahwa HMI KAHMI tidak memiliki dosa apapun atas sebagian kadernya yang terjerat hukum. Jikapun ada, hal itu lebih bersipat personal, kalau bukan kriminalisasi atas lonjakan karier politik, yang kadang memang terkesan terlalu cepat.

KAHMI dan KFJS

Kader-kader KAHMI yang dalam sewindu terakhir dirasa kurang Percaya Diri, kini mulai merapihkan diri dalam barisan misterius. Dibangunkan salah satunya oleh seorang kader asal Bandung, melalui suatu Program KFJS yang berjarak dengan pertimbangan-pertimbangan politis. Gerakannya murni pertimbangan sosial dan upaya temu kangen antar warga alumni HMI.

Tidak sampai setahun, gerakan KFJS yang non politis ini, menyentuh di hampir 160 Cabang se-Indonesia. Gairah untuk kembali melakukan ukhuwah dan pembenahan di sekitar para alumni, membuat akhirnya, program ini menjadi demikian strategis dalam konteks menata umat.

Melalui program KFJS yang sebelumnya tampak sederhana, membuat kader-kader KAHMI yang dikenal intelektualis karena dianggap memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi, bekerja dalam ragam profesi, kini dipaksa kembali mendesah.

Mereka yang sudah puluhan tahun tidak mendengarkan Hymne dan Mars HMI misalnya, dipaksa untuk kembali mengernyitkan mata, mendesirkan bulu nadi dan atau bahkan mencucurkan air mata ketika “lagu suci” HMI dinyanyikan bersama. Entah mengapa, lagu itu memang mampu mendorong semua orang yang pernah menjadi anggota HMI, sedikit banyak melankolis saat bernyanyi bersama.

Karena itu, bagi saya, gerakan KFJS bukan hanya sekedar urusan temu kangen antar warga KAHMI yang lama tidak bertemu, tetapi, sejatinya, program ini dapat mengembalikan citra warga KAHMI. Citra yang kadung disematkan kepadanya sebagai kelompok Percaya Diri dengan sejumlah prestasi yang melekat pada masing-masing anggota. Terlebih adanya pengakuan bahwa alumni HMI dikenal dengan santun yang jarang dimiliki komponen lain.

Melalui program ini, warga KAHMI mulai sadar bahwa gerakan umat, tidak selalu melulu harus dalam pertimbangan politik. Di sinilah warga KAHMI menemukan ruang baru yang lebih strategis yakni penataan dimensi sosial, budaya dan ekonomi umat.

Tujuan dan Missi HMI

HMI yang dilahirkan Lafran Pane 5 Februari 1947 di Jogjakarta, memiliki tujuan mulia. Tujuan didirikannya HMI saya kira akan terus melekat ke dalam jiwa seluruh komponen KAHMI. Tujuan dimaksud adalah: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala”.

Tujuan tersebut kemudian menjadi demikian populer melalui Hymne HMI, dalam apa yang disebut dengan Yakin Usaha Sampai [Yakusa]. Inilah doktrin utama kesalehan Individual warga HMI. Ia mendasari diri pada firman Allah yang artinya:

“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum apabila kaum itu sendiri yang tidak mau merubahnya” (QS Al Ra’du [13]: 11). Ayat dimaksud memberikan isyarat bahwa kesuksesan atau hasil yang akan dicapai manusia akan sangat bergantung dari pribadi manusia itu sendiri ….

Doktrin Teologis HMI

HMI mendoktrinkan kadernya agar menjadi insan akademik [kecerdasan intelektual], dengan maksud agar ia menjadi kader yang mampu mencipta dan mengabdi. Kata mencipta dan mengabdi inilah, yang tidak memungkinkan warga HMI atau alumninya untuk tinggal diam dalam satu tepian.

Selain karena mereka memiliki tingkat kebebasan individual yang sangat tinggi, untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, juga karena memang melalui doktrin semacam ini, warga KAHMI memiliki sebaran dan hubungan kerja sama yang cukup luas. Kemakmuran yang berkeadilan itulah, yang dapat membuat warga HMI-KAHMI merasa yakin bahwa mereka akan mendapat Ridla Allah.

Karena itu, menjadi dapat dimengerti mengapa, peran serta para alumni HMI begitu tersebar ke dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Tersebarnya para alumnu HMI ke berbagai ragam profesi dimaksud, lebih disebabkan karena HMI mampu mewadahi sejumlah perbedaan yang tersedia. Inilah makna lain yang menyebabkan HMI-KAHMI sering disebut sebagai milik ummat.

HMI-KAHMI sebagai milik umat dimaksud, bagian tertentu dan dalam episode tertentu, kini digandeng oleh suatu program yang dikenal dengan sebutan KFJS. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar