Inspirasi Tanpa Batas

Kajian Hermeneutika dalam Pendidikan Islam

Kajian Hermeneutika dalam Pendidikan Islam
0 8

Konten Sponsor

Kajian hermeneutik terhadap ayat-ayat al-Quran, tentu sangat dekat dengan pendidikan Islam. Jika dikaitkan dengan pendidikan Islam, maka, kajian hermeneutik, setidaknya mewakili lima persoalan penting. Kelima persoalan dimaksud adalah:

Al Qur’an Sumber Utama Pendidikan Islam

Pendidikan Islam selama ini selalu menisbatkan diri pada al-Quran dan al sunnah Nabi sebagai sumber rujukan utama. Kondisi ini mengharuskan adanya aktualisasi diri dalam konteks kekinian. Mengapa? Sebab disadari sepenuhnya bahwa al-Quran memiliki muatan sosiologis yang memungkinkan terjadinya pergeseran tafsir atasnya. Karena itu, upaya melakukan kontekstualisasi pesan moral al-Quran dan sunnah Nabi dalam membangun keterampilan dan moralitas masyarakat [baca: pendidikan] hari ini, menjadi demikian penting.

Kondisi sosial yang dinamis, secara langsung akan mendorong penafsiran yang juga dinamis. Termasuk tentu dalam mengkaji soal pendidikan. Pendidikan Islam penting melakukan mempertimbangkan dimensi sosiologis yang terjadi pada konteks kekinian agar pendidikan Islam juga tetap up to date

Mungkin dalam beberapa nalar, apa yang dinyatakan Nabi Muhammad yang menyebutkan: “Didiklah anakmu sesuai dengan kepentingan jamannya”. Hal ini, diperlukan untuk kepentingan masa depan anak dimaksud atau agar sesuai dengan karakter komunitas masyarakat di mana anak itu akan berkembang. Hadits ini, seharusnya memberi inspirasi bahwa modernisasi dalam berbagi bentuk kependidikan, menjadi syarat mutlak dalam pelaksanaan pendidikan. Titik berangkat persoalan tadi tentu berawal dari pemahaman dan pemaknaan yang mendalam terhadap ayat- ayat al-Quran dan hadits Nabi.

Pergeseran Sosial Budaya

Al-Quran, secara historis telah menunjukkan suasana yang berbeda dalam menatap kondisi sosiologis Arab dan Madinah. Al-Quran menunjukkan diri dari yang semula “keras” [Arab] bergerak ke arah baru yang lebih lembut [Madaniyah]. Hentakan vulkanik Mekkah yang berorientasi akidah dan akhlak, mengharuskan kita untuk menjadikan landasan akidah dan akhlak itu sebagai basis utama pelaksanaan pendidikan Islam.

Dalam perspektif pendidikan Islam, ilmu menjadi tidak berguna jika secara fungsional tidak memberi sesuatu bagi hajat hidup manusia. Pemberangkatan pendidikan Islam yang dalam beberapa tulisan sebelumnya membawa dua pesan [keterampilan dan keimanan], agar pelaksanaan pendidikan diarahkan pada sikap ketuhanan yang kemudian bergerak ke wilayah yang lebih operasional dalam menerjemahkan pesan moral keislaman. Inilah saya kira yang penting untuk dijabarkan.

Perubahan Bahasa Lisan ke Bahasa Tulisan

Pesan moral etik al-Quran dan al sunnah, awalnya terbentuk dalam bahasa lisan.  Secara umum, jika kita mengkaji filsafat bahasa, ujaran lisan  itu umumnya bersifat terbuka dan dinamik. Sementara bahasa tulisan sering menampilkan diri dalam bentuknya yang tertutup.

Umat Islam hari, menggunakan al Qur’an dalam posisi yang kedua, yakni bahasa tulisan. Kondisi ini, ecara tidak langsung mengharuskan kalangan terdidik Muslim untuk mengejawantahkan pesan moral al-Quran dimaksd dalam suasana kebatinan yang dialogis sesuai dengan tuntutan kemasyarakatan yang berlaku. Tentu untuk kepentingan keumatan itu sendiri.

Artinya, jika benar pendidikan Islam mendasari diri pada al Quran dan al sunnah, maka bagaimana pendidikan Islam mengawali diri melakukan upaya dialogis dengan al-Quran. Dengan sikap dan sifatnya yang dialogis itu kita dapat menanamkan dengan segera nilai-nilai universal yang terkandung dalam al-Quran. Konstruksi aI-Quran tentang kejujuran, keadilan, etika sosial dan berbagai perenungan kemanusiaan lainnya, seharusnya menjadi upaya diaolog kemanusiaan kontemporer.

Universalisme al Qur’an

Universalisme al Qur’an sebagai tindak lanjut dari persoalan ke satu sampai ketiga, akan mendorong kita untuk menyebut bahwa konsep al-Quran yang sering disebut pengkajinya shalih Ii kulli zaman wa makan, memberi isyarat adanya kontekstualisasi. Itu  semua secara hermeneutik tidak akan mengganggu kredibilitas al-Quran sebagai patokan dalam rujukan hukum Islam termasuk dalam soal-soal pendidikan Islam.

Artinya, pendidikan Islam seharusnya tidak terjebak oleh romantisme dan fragmentasi sejarah masa lalu. Suatu konteks dinamis masyarakat yang kering akan nilai- nilai up to datenya. Jika itu yang terjadi, maka, di situlah justru al Qur’an kehilangan ruhnya.  Melalui pengkajian ini diharapkan pemahaman baru terhadap al-Quran bisa lebih terasa dan bermanfaat bagi umat Islam.

Perbedaan Penafsiran

Al Qur’an menampilkan suatu gejala dinamis dalam penafsiran. Kajian hermeneutika sendiri, mensyaratkan terjadinya perbedaan penafsiran dalam memahami ayat- ayat al-Quran. Termasuk tentu jika ayat- ayat itu terkait dengan soal- soal kependidikan. Asumsinya, tidak ada orang yang secara benar persis memahami benar apa yang dimaksudkan Tuhan tentang ayat per ayat al-Quran. Di sisi dan dalam konteks ini, pendidikan Islam seharusnya menawarkan prinsip persamaan dalam perbedaan [toleransi] dan memahami perbedaan sebagai bagian dari sejarah hidup manusia dan itu diabsyahkan agama.

Dengan berbagai soal seperti digambarkan di atas, strategi yang tepat untuk dikembangkan dalam pengembangan pendidikan ke depan adalah: pertama, pembongkaran aspek teologis umat di mana persoalan pengembangan pendidikan sama wajibnya (sama fardlu ainnya) dengan misalnya membangun Masjid untuk dikembangkan dikalangan masyarakat muslim, dan pendidikan Islam yang wajibnya demikian, dituntut mengembangkan prinsip kebhinekaan. Kedua, pentingnya transformasi manajemen pendidikan Islam yang bukan hanya profesional dalam setiap lini dan unit lembaga kependidikan, namun juga dituntut memulai mempertimbangkan aspek perbedaan ideologis dan ras di kalangan umat. Demikian, semoga ada manfaatnya..Amiin… By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar