Proses Penciptaan Alam dalam Nalar Ontologis| Kajian Ulang Metafisika Part – 3

Proses Penciptaan Alam dalam Nalar Ontologis Kajian Ulang Metafisika Part - 3
0 110

Proses Penciptaan Alam. Jika alam fisik merupakan ekspresi dari alam yang tidak fisik, maka, ciri utamanya pasti relatif, banyak dan sementara. Mengapa? Sebab alam fisik akan menjadi antitesa dari alam mutlak, tunggal dan abadi. Alam itu disebut dengan alam Allah, Tuhan, Maha Dewa atau Yahweh. Suatu penyebutan yang mungkin sejajar, tetapi dalam makna sosiologis, mengandung arti perbedaan alami.

Apa yang disebut dengan alam Tuhan? Tentu hal itu di luar jangkauan nalar. Eksistensinya berada di luar kategori historis kita sebagai manusia. Namun demikian, haruslah dicatatkan bahwa anggapan semacam itu, bukan hanya Socrates dan Plato sebenarnya. Keduanya memang dianggap banyak kalangan dekat dan bahkan menjadi pendiri dari teori kebenaran Universal. Di tataran Aristoteles yang dianggap banyak kalangan sebagai antitesis dari pemikiran Socrates sendiri, memiliki keyakinan yang sesungguhnya relatif sama.

Sebut misalnya, anggapan Aristoteles yang mengakuiaAi??bahwa ilmu pengetahuan itu bisa berubah. Apa yang ditemukan hari ini, di tempat tertentu, sangat mungkin berbeda dengan apa yang ditemukan di tempat lain, atau di waktu yang berbeda. Andai saja gereja memiliki pandangan yang sama seperti Aristoteles, yang dianggap sebagai organ penting yang menjadi penyalur pemikiran Aristoteles, maka, mungkin apa yang menimpa Galileogalilei tidak akan terjadi.

Inkuisi yang dilakukan Gereja terhadap Galileogalilei,Ai??ahli astronomi dan matematikawan asal Italia, yang berani menunjukkan bukti bahwa bumi mengelilingi matahari, diadili dan dipaksa untuk menyangkal penemuannya. Inkuisi dilakukan karena hasil kajian Galilei berbeda dengan keyakinan Gereja pada umumnya. Gereja menganggap bahwa bumi diam dan seluruh Planet mengitari bumi.

Padahal klaim Gereja yang menyatakan bahwa bumi diam dan hanya dikelilingi bintang-bintang itu, sesungguhnya merupakan pikiran Aristoteles. Pikiran Aristoteles seperti ini, kemudian diadaftasi dan dijadikan rujukan dalam menfasirkan al Kitab oleh Aquinas. Melalui teori ini pula, mungkin benar apa yang pernah dikatakan Charles Freeman. Ia menyatakan, bahwa klaim Gereja yang menyatakan bahwa Aquinas ai???membaptisai??? Aristoteles, harus dipandang kurang tepat. Mengapa? Sebab yang lebih tepat tampaknya, Aquinas yang menjadi pengikut Aristoteles.

Metafisikus Theologis

Anggapan bahwa alam semesta merupakan ekspresi dari alam mutlak, tunggal dan abadi, kemudian berdampak pada kerangka teologis yang dianut setiap agama. Dalam konteks yang lebih mikro, menjadi bagian-bagian tertentu dalam suatu agama. Sebut misalnya, bagaimana alam tercipta? Siapa yang menciptakan? Bagaimana proses penciptaan alam ini terjadi?

Landasan inilah yang teori penciptaan alam dalam nalar filsafat. Alam semesta, dalam anggapan ini, tercipta dari pancaran wujud tunggal, mutlak dan abadi yang dalam bahasa umat Islam disebut dengan Allah. Teori pancaran ini, oleh para filosof disebut dengan emanasi [emanation].

Secara sederhana, emanasi adalah suatu proses terjadinya wujud yang beraneka ragam. Mengapa beraneka ragam? Karena yang boleh seragam adalah Tuhan. Mengapa tidak abadi? Karena yang boleh abadi hanya Tuhan. Mengapa relatif tidak mutlak? Karena yang boleh mutlak hanya Tuhan. Selain Tuhan, maka, segalanya haruslah jamak, relatif dan sementara.

Alam, baik langsung atau tidak langsung, bersifat jiwa atau materi, harus berasal dari wujud yang menjadi sumber dari segala sesuatu, yakni Tuhan. Teori ini diperkenalkan Plotinus (204-270 M) dengan emanasi. Dalam teologis dan filosofi Muslim seperti Al-Farabi [870-950 M] menyebutnya dengan Nadhariyatul Faidl. Hal yang sama diakui Ibnu Sina dan Ibnu Miskaweih.

Mereka menyebut bahwa Yang Esa adalah Yang Paling Awal atau yang menjadi penyebab pertama. Inilah yang disebut dengan prime of causeAi??segala dinamika yang ada. Inilah teori yang menyatakan bahwa Tuhan itu tidak banyak sebanyak makhluk. Alam semesta diciptakan melalui proses emanasi yang berlangsung tidak dalam ruang dan waktu. Ia seperti cahaya yang beremanasi dari matahari.Ai?? Bersambung –Prof. Cecep Sumarna

 

Komentar
Memuat...