Kamar Merah Muda

0 3

Detak Jarum Jam Tangan


Kamar Merah Muda. Siang ini dengan matahari yang tetap menganga, debu masih mengebul membuat kumuh wajah kota, dan kebisingan masih tetap jadi musikalisasi pengiringnya. Aku menempelkan telingaku tepat diatas jam tangan perak yang melingkar ditangan kiriku, lamat-lamat kudengarkan setiap detaknya. Detik pertama masih terasa biasa, sangat biasa. Detik demi detik dan detik selanjutnya detak jarum jam itu serasa menyentuhku, menyentuh hati dan fikiranku. Lelehan hangat akhirnya terasa disudut kelopak mata. Ah..bagaimana ini.

Sekilas tentang senyuman, tentang tangisan, tentang teriakan, dan tentang semua yang kunikmati dalam perjalanan ini. Tentang persahabatan yang bergelombang, tentang kisah cinta yang berbadai, tentang relasi yang membara, dan cita-cita yang mengombak. Terlena, tersadar, dan gamang sudah menjadi hal biasa. Aku tetap seperti ini. Bagaimana dengan selainku? Ntahlah lebih berwarna lagi mungkin. Banyak asa yang tertunda, apalagi hati yang menyakiti dan disakiti.

Berjalan dengan kehendak atau aturan, pada dasarnya bukan hanya sebatas pilihan. Karena hidup tidak berhenti disitu. Mencoba mengerti itu yang selalu kulakukan, berusaha menerima itu yang kujalani, dan terus membangun kenyamanan itu yang membuatku bertahan. Merasa itu tidak terbalas, sering. Membingkai pemikiran tanpa alasan apalagi “mengapa”, melainkan “bagaimana”. Namun rupanya tetap saja, aku egois sekali rupanya, tidak mau dimengerti atau mungkin tak ada yang mengerti.

Detik Hati

Banyak diam yang kutawarkan, bukan karena tidak ada keinginan melainkan berusaha mengikuti jalan dunia meski tak sesuai kehendak hati. Bukan tentang pembelaan, ini tentang  yang selalu terperangkap labirin yang kuciptakan sendiri. Sendiri dan menyepi selalu itu penawarnya. Meski berkali menangis setidaknya itu membangun asa baru.

Sering menjadi opsi, aku bertahan untuk sebuah persaan. Membunuh setiap kali lamunan menghampiri, mengalihkan pandangan pada hentakan-hentakan hari yang begitu padat hingga akhirnya aku lelah dan terlelap. Meski sulit, dini hari selalu jadi saksi bahwa aku seorang pengembara yang mencari. Tuhan maafkan atas seluruh keluhku, bukan tak bersyukur. Kau lebih mengerti Tuhan. Tidak ingin menyalahkan siapapun, aku rasa itu tidak ada gunanya. Terus memperbaiki diri itu lebih baik.

Baik dan benar kadang tidak berlaku apa-apa, namun manfaat. Pada akhirnya semuanya akan dilupakan begitu saja, olehku dan selainku. Itu bagian dari perjalanan ini. Lalu mati tujuan utamanya, supaya bisa kembali ke akhirat. Berbicara tentang waktupun akan tetap jadi misteri, apalagi cinta. Biarlah, selagi mau selagi mampu jalani saja. Bisa jadi yang dicari justru ditemukan dalam proses ini. Cukup nikmati dan syukuri saja.

Akhir Waktu

Tidak mencari pada selain Tuhan dan diri sendiri, berharap pada orang lain adalah salah satu pintu kekecewaan. Kebahagiaan ada pada diri sendiri, bukan pada, dari, dan oleh orang lain. Itu intinya. Bercermin pada diri sendiri itu lebih efektif dari pada bercermin pada orang lain. Bukan tentang egoisme namun tentang belajar mengenal diri, karena kekuatan terbesar ada pada diri sendiri.

Detak jarum jam masih tetap menggetarkan. Waktu yang berlalu semenjak tadi tak bisa diulang. Apalagi yang telah lama, sayang sekali jika dibiarkan dalam kesiasiaan. Tidak bermaksud untuk menyudutkan, hanya sedikit refleksi untuk diri sendiri. Jika ada yang berkenan memetik sedikit kata dari tulisan ini tidak ada larangan, atau merasa ada kemiripan itu hanya perasaan saja. Silahkan untuk dinikmati. (Mozza)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.