Kapal itu Akhirnya Tenggelam

0 9.742

Tenggelamnya Kapal. Tepuk tangan seluruh penonton bergemuruh hebat, saat Nakhoda menyalakan kapal. Kapal yang sengaja disiapkan untuk mencari harta Karun di tengah lautan yang maha luas. Sang Nakhoda yang mungkin dinanti kehadirannya, agar pencarian harta karun itu, hanya dapat dilakukan mereka. Dan tidak ada yang lain. 

Kadang tak terasa, lelehan air mata mengalir di banyak muka penonton yang hendak menyaksikan kapal itu bergerak menuju lautan yang hampir tanpa tepi. Mereka tentu saja bangga bukan pada kapalnya, tetapi, pada Nakhoda yang lama dianggap sebagai juru selamat. Atau pembawa berkah baru bagi kemakmuran penduduknya. Karena melalui kapal inilah, harta Karun dapat diperoleh mereka. 

Begitu lama waktu yang dinantikan mereka atas kehadiran kesempatan untuk menjadi nakhoda. Maklum sudah puluhan tahun, kapal yang dianggap “mewah” itu, seolah hanya mampu dijalankan mereka yang yang dipandang ahli berselam.

Asumsi yang menyebut bahwa menjadi nakhoda hanya milik suatu kaum yang selama ini dituduh borjuis, harus terhempas dengan menyala dan berjalannya kapal. Sang Nakhoda  baru, secara perlahan menjalankan kapal menuju lautan dan Samudera yang maha luas.

Para penonton yang tampak terdidik bukan hanya bertepuk tangan dan melelehkan air mata, tetapi dengan pelan kadang terus mengacau dan menghasut. Menciptakan suasana agar kebencian terhadap para nakhoda dan kru kapal lama terus menjalar ke masyarakat luas.

Karena itu, tepuk tangan dan lelehan air mata, kadang diwarnai sikap histeria. Mereka merasa berhasil karena seluruh kru dan awak kapal, berhasil diganti. Diganti dan hanya diisi mereka, yang sama-sama menjadi resi pertapa di padepokan. Mereka yang sudah terlatih menahan nafas dalam batas waktu tertentu, untuk persiapan pencarian harta karun di lautan bebas.

Sikap Para Kapiten dan Kru kapal 

Kaum yang dituduh borjuis, pembuat luka umat dan perompak yang selama ini merusak ekosistem lautan, sediktpun tidak marah. Mereka justru tersenyum dengan melepas seluruh seragam Kapiten dan kru kapal yang selama ini menempel di tubuh mereka.

Mereka hanya mampu berdo’a, semoga kapal dapat kembali ke daratan. Mereka juga berdo’a, agar seluruh penumpang yang ada didalamnya selamat. Lautan adalah misteri dan tidak ada seorangpun yang tahu, bagaimana sebuah lautan bergerak secara dinamik.

Alam yang terdapat didasar lautan, begitu sulit diterka. Kadang banyak longsor dan seringkali terjadi gempa kecil didalamnya. Belum lagi kalau mengingat betapa sulitnya, mengangkat harta karum yang sudah tertumpul pasir membatu.

Setelah tidak menjadi nakhoda dan kru kapal, mereka justru menemukan syurga baru. Mereka bukan saja dapat berkumpul dengan keluarga setiap saat, tetapi, juga dapat bercocok tanam, berbisnis dan menjadi konsultan kapal pesiar. Kegiatan yang tingkat resikonya sangat rendah dengan akselerasi personal yang sangat tinggi.

Mereka juga tidak peduli atas semua skenario yang sedang dibuat para penasehat nakhoda dan kru baru. Sebetapapun informasi masuk ke telinga yang cenderung menyesakkan itu, mereka tetap tegar pada sikapnya. Dingin … Ya, dingin.

Sikap yang sama mereka ambil, ketika banyak informasi yang masuk ke telinga, bahwa kapal mengalami gangguan cukup serius. Dan mereka diminta kembali agar menyelematkan kapal di tengah lautan. Mereka sedikitpun tidak tertarik, karena sudah menarik diri. Mereka tetap memilih berada di daratan.

Nakhoda Terhibur

Setelah sekian jauh berjalan ke lautan, tiba-tiba, kapal goyah. Suara berbunyi kreuk … kreuk mengganggu telinga Sang Nakhoda. Ia memanggil sang asisten yang dianggapnya ahli. Ia meminta petunjuk langkah apa yang harus dilakukan atas situasi yang terasa mulai mengganggu.

Sang asisten yang di masa lalu selalu memakai topi karena rambutnya yang keras dan lurus itu, menyebut bahwa kapal baik-baik saja. Ia meminta Sang Nakhoda tetap tenang. Ia menyebutnya sebagai gangguan alami. Wataknya yang so tahu itu, berhasil meyakinkan. Sang Nakhoda. Mereka kembali tenang dan merasa mampu menakhodai kapal.

Sang asisten bahkan menghibur Nakhoda dengan menyebut bahwa dirinya sejajar dengan Michael Hatcher atau setidaknya seperti Luc Heymans. Dua tokoh legendaris karena dianggap lihai mengendus keberadaan barang berharga di dasar lautan. Nakhoda terhibur dan dia tampak sangat bahagia. Sekali-kali, tawa kecil tersungging dari bibir mereka.

Nakhodapun semakin percaya diri. Ia bertanya kepada asisten yang disuruh mengumpukan harta Korun itu, sudah berapa banyak emas, intan dan barang berharga lain yang berhasil dikumpulkan.

Dengan pelan sang asisten berkata, bahwa sudah cukup lumayan. Dan aku menyisakan sedikit banyak kekayaan itu, untuk kita berdua. Nakhoda berkata: “Itu para kru tahu tidak sisihan itu? Dengan senyum simpul, Asisten berkata, tenang saja. Itu semua aman. Nakhoda tampak sangat bangga pada kelihaian pembantunya.

Sikap Para Kru kapal 

Tak diduga, ternyata kru kapal yang sering terjun ke dasar lautan, mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Dan hal ini, disampaikan ke sesama kru lain yang menghabiskan banyak waktu di dasar lautan.

Merekapun akhirnya sepakat untuk kembali terjun ke dasar lautan dan menyimpan sebagian besar temuan mereka, untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak ingin menyetor seluruh barang temuan berharganya.

Di waktu yang sama, suara kreuk … kreuk itu, semakin keras. Mereka mulai kalut. Akhirnya, asisten kesayangannya itu, menyarankan agar Sang Nakhoda segera mengirim telegram khusus kepada para resi pertapa yang masih ada di daratan untuk melakukan do’a massal.

Dengan sigap sang Nakhoda menulis di atas secarik kertas yang berisi perintah untuk berdo’a. Setelah telegram itu sampai, konon do’apun bergemuruh di seantero desa.

Sesaat setelah do’a dikumandangkan, kapal itu tampak kembali tenang. Sementara para kru kapal dan pencari harta Karun, kembali terjun ke dasar lautan. Dengan maksud, agar mereka memiliki bekal yang cukup untuk kehidupan mereka di daratan.

Kapal terus berjalan dengan nyanyian sunyinya. Tetapi, karena  Sang Nakhoda dan asisten kesayangannya itu, tidak tahu cara mengukur kedalaman laut, tidak tahu tingkat pengaruh arus dan angin dan tidak tahu pengaruh lebar alur pelayaran, goyangan kapal mulai sangat terasa

Hal ini semakin parah, karena Nakhoda tidak tahu jenis-jenis dasar laut apakah berpasir, berlumpur atau berkarang dan cuaca yang sedang mereka hadapi. Karena kapal mempunyai kecepatan, maka permukaan air pada sisi kanan pasti akan lebih rendah dari sisi kirinya. Dalam susana seperti ini,  kapal akan tertekan ke daratan sisi kanan. Seharusnya Nakhoda mengurangi kecepatan kapal atau bahkan berhenti sesaat. Tetapi, mereka malah meningkatkan kecepatan.

Akhirnya, kapal itu benar-benar goyah dan miring. Kemiringannya semakin parah. Perlahan kapal itu, menungging dan karam. Karam ditelan lautan luas. Sejak saat itu, mereka malah menjadi harta Karun baru.

Para penyelam yang sedang mencari harta Karun juga kaget, ternyata kapal mereka tenggelam. Akhirnya mereka mengambang … menunggu datangnya pertolongan. Tetapi karena lautan itu, ekstrem dan sangat dingin, mereka mengapung di tengah lautan. Hanya arwah mereka yang diangkat Tuhan, tetapi, entah ke mana …. Prof. Cecep Sumarna

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.