Karakter Cendekiawan (Ulu Al Albab)

0 3

Hampir setiap hari minggu, saya berziarah ke pemakaman umum yang letaknya dekat dengan rumah di mana kami tinggal. Pemakaman luas yang di kelilingi pohon rindang serta diiringi kicauan burung pagi yang menyambut hangatnya mentari di upuk Timur. Hal ini saya lalukan untuk melapas rasa rindu ingin bertemu dengan orang tua yang kurang lebih 3 tahun berpulang dan tak mungkin kembali ke dunia. Tetapi, pagi ini entah kenapa ada sedikit yang berbeda dengan langkah dan pikiranku, seperti ada kabut hitam membanyang serta kaki yang begitu berat untuk dilangkahkan. “Karakter Cendekiawan (Ulu Al Albab)”

Aktivitas yang dilakukan biasanya mengaji Yassin, berdoa sampai membersihkan rumput hijau. Setelah semua hal itu dilakukan, sejenak diri ini termenung dalam balutan dan kesepian situasi, tak terasa detik demi detik terhempaskan, lalu melihat ke gundukan – gundukan tanah yang sepi oleh sosok manusia hidup. Kemudian baru ku sadari ternyata diri ini sedang berada ditengah – tengah manusia yang terkujur kaku berbalut dan berselimut kain di dalam tanah.

Hati ini bertanya, kemanakah kita setelah hidup? Kematian, lalu apa yang akan terjadi setelah kita mati? Sampai tulisan ini saya rangkai, pertanyaan ini selalu terbayang dalam benak. Saya terus ingat – ingat, sering kita dengar ketika dibangku sekolah dulu bahwa setelah kematian kita akan dibangkitkan, ditimbang dan dibalas dengan apa yang telah kita perbuat di muka bumi ini dan menuju kehidupan kekal abadi di syurga atau neraka.

Dalam diam ku merenung bahwa kita hidup di dunia ini sebagai ‘abd (hamba) untuk beribadah dan rajanya adalah Allah SWT. Ibadah kita diproyeksikan untuk negri akhirat, sebagai pengingat bahwa ada kehidupan setelah kematian, ada akhirat setelah dunia. Allah berfirman “Akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia ini” (QS. Al-Dhuha (93) : 4). Sering kita berfikir bahwa kehidupan dunia ini lebih utama diibanding kehidupan kekal abadi di akhirat, kita sering menganggap bahwa hidup didunia adalah segala galanya.

Dunia hanyalah sebatas “ladang” yang memiliki fungsi”menanam” atau “bercocok tanam”

Meskipun akhirat itu baik (khoir) daripada dunia, kita tidak boleh meninggalkan kepentingan hidup  di dunia. Kehidupan dunia tetap saja penting, karena dunia adalah jembatan menuju akhirat. Dunia bukan tempat abadi bagi kita manusia, bukan juga sebagai kampung halaman yang hakiki. Oleh sebab itu dunia dan akhirat tidak bisa disipisahkan begitu saja. Seperti Allah berfirman dalam Al Qur’an bahwa “ Carilah olehmu sekalian kenikmatan dinegeri akhirat, tapi jangan melupakan bagianmu di dunia ini” (QS. Al – Qasas (28) : 77). Kita ketahui bahwa, kehidupan ini selalu menuntut keseimbangan, begitu pula dengan dunia dan akhirat. Maka mari kita manage kehidupan di dunia ini dengan baik agar tak sia sia.

Dunia hanyalah sebatas “ladang” yang memiliki fungsi”menanam” atau “bercocok tanam”. Kelak kita memanen diakhirat dengan apa yang kita lakukan. Tak ada yang kekal abadi selain Allah SWT. Seperti Allah berfirman “Semua yang ada di muka bumi ini akan hancur – binasa. Dan yang kekal hanya wajah Tuhanmu, yang memiliki kebesaran mulia” (QS. Al-Rahman (55) : 26 – 27).

Kita hidup di dunia ini tidaklah panjang, hanya singkat. Rosulullah pernah menasehati sahabat Umar bin Khatab “Hiduplah di dunia ini laksana orang asing atau seorang musyafir yang hanya mampir”. Artinya, jangalah kita sia-sia kan kehidupan dunia ini, ingat kita hanya mampir, kita hanya numpang disini.

Setelah manusia mati, akan ada kehidupan baru yang sipatnya kekal. Kita akan dibangkitkan kembali di akhirat, dikumpulkan dipadang yang sangat luas, setelah itu kita akan menuju fase penghitungan amal baik dan amal buruk yang disebut yaumul hisab dan kemudian fase terakhir adalah fase pembalasan (yaumul jaza), pada akhirnya tempat manakah yang akan kita tuju “Syurga atau akhirat”

Sebelum pergi dari pemakaman tersebut, saya menasehati diri sendiri bahwa kita ekspor kebaikan-kebaikan di dunia ini karena dunia ini adalah golden opportunity (kesempatan emas) untuk melakukan hal – hal positive. Jika kebaikan itu bisa dilakukan sekarang, maka segerakanlah.

**Oleh : Aldi Nurcahya

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.