Inspirasi Tanpa Batas

Karakter dan Jenis Masyarakat Pesantren

0 58

Pesantren, seperti telah dijelaskan di bagian sebelumnya adalah sub sistem dari sistem masyarakat. Karakter dan jenis masyarakat Pesantren hampir sama dengan masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, secara teoretik, masyarakat Pesantren sama dengan masyarakat lain. Ia memiliki tipikal yang dalam banyak kasus sama dengan masyarakat pada umumnya. Masyarakat sendiri, seperti digambarkan Philip Wexler, adalah: “Kesatuan umat manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh satu rasa identitas yang sama”.

Di kalangan ahli ilmu sosial Barat, seperti Sarane S. Boocock, masyarakat adalah: “setiap kelompok manusia yang hidup dan bekerja sama dalam satu waktu yang cukup lama, sehingga mereka merupakan suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang jelas”. Peter L. Berger, menyebut masyarakat sebagai “sekelompok orang yang sama identifikasinya, teratur sedemikian hingga di dalam menjalankan segala sesuatu yang diperlukan bagi hidup bersama secara harmonis”.

Robert Hofstadter, menyebut masyarakat sebagai: “Kelompok manusia yang secara nisbi mampu menghidupkan kelompoknya sendiri, bersifat independen dan mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan, serta kebanyakan kegiatannya berlangsung di dalam kelompok itu sendiri”.

Dengan nalar seperti tadi, maka apa yang disebut dengan masyarakat pesantren adalah: “Kelompok manusia yang secara nisbi (relatif-tentatif) mendiami suatu lokasi tertentu (dapat diterjemhakan dengan kondisi georafis lingkungan pesantren), mampu menghidupkan kelompoknya sendiri (dapat diterjemahkan dengan terjadinya sirkulasi ekonomis) yang bersifat independen dan mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan, serta kebanyakan kegiatannya berlangsung di dalam kelompok itu sendiri, yakni lingkungan pesantren itu sendiri.

Pembagian Masyarakat

Masyarakat, menurut ukurannya, mengutif Koentjaraningrat, terbagi ke dalam dua bagian besar, yakni masyarakat sederhana dan masyarakat majemuk. Masyarakat majemuk dapat dikembangkan menjadi lipat dua, lipat tiga dan seterusnya. Atas landasan seperti itu, dalam konteks sosial, masyarakat selalu mengalami evolusi (perubahan). Hal yang sama juga berlaku dalam pesantren. Pesantren satu sama lain saling berbeda dan secara tidak langsung telah menunjukkan “kelasnya” sendiri-sendiri yang berbeda-beda.

Jenis- Jenis Masyarakat

Spancer menyimpulkan bahwa masyarakat dapat dibentuk menurut jenisnya menjadi masyarakat masyarakat primitif, masyrakat militer dan masyarakat industri. Situasi-situasi sosial yang demikian, dalam konteks pengembangan manajemen sosial, akan mendorong usaha untuk melakukan simetri (keselarasan) dalam berbagai komponen masyarakat.

Karakter Masyarakat

Talcott Parson, dan beberapa penganut fungsionalisme-struktural memiliki tanggapan dasar dalam memahami masyarakat. Mereka mengemukakan karakter masyarakat pada: a). Setiap masyarakat secara relatif adalah tetap, struktur unsur-unsurnya relatif stabil; b). Setiap masyarakat tersusun dari unsur-unsur yang terintegrasi secara baik; c). Setiap unsur dalam masyarakat mempunyai fungsi, yakni memberikan kontribusi terhadap pemeliharaan keutuhannya sebagai sebuah sistem; d). Setiap fungsi struktur sosial didasarkan atas konsensus terhadap nilai-nilia di antara anggota-anggotannya.***H. Edeng Z.A

Bahan Bacaan

Philip Wexler. Social Analysis of Education: After the New Spciology. London and New York: Routledge & Kegan Paul, 1987.

Sarane S. Boocock. An Introduction to The Sociology Learning.  Boston: Hougton Mifflen, 1972

Peter L. Berger. Humanisme Sociology. Terj. Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985.

Robert Hofstadter. Social Darwinism in American Thought. USA: Boston Beacon, 1955.

Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru, 1980.

Talcott Parsons. The School class as a sosial System: Some it’s function in America Society.  USA: Harvard Educational Review, vil. 29. No. 4

Komentar
Memuat...