Karakter Kaum Proletar dalam Al-Qurân

0 266

Karakter Kaum Proletar dalam Aqurân. Kita akan melihat bagaimana Alqur’ân memotret kaum proletar (kaum miskin seperti buruh tani, buruh pabrik, pengemis, dan lain-lain). Meskipun yang dipotret tidak harus sama persis. Dengan melihat karakter proletar akan diketahui bagaimana sebenarnya kaum borjuis memiliki watak. Hasil potretan dapat dijadikan sebagai referensi dalam menentukan gerakan apa yang dapat dilakukan atau perubahan apa yang mendekat pertama kali diharapkan dan strategi apa yang sebaiknya dirancang. Ayat-ayat yang akan diambil akan dipilah sesuai kepentingan objek ini. Karena ini, ayat-ayat yang menempatkan kaum miskin sebagai objek keimanan hanya akan diletakkan sebagai komplementer .

Kata-kata yang sering dinyatakan dalam Alqur’ân dalam menggambarkan kaum proletar adalah “المُسْتَضْعَفِيْن” Kata ini tidak dibuat tanpa makna. Ia menggunakan ism al-maf’ûl, kata benda (termasuk manusia) yang dikenai perbuatan. Ia sebagai objek dan bukan subjek. Makna harfiahnya adalah orang-orang yang dilemahkan. Mereka lemah, menjadi miskin, menjadi kaum proletar bukan karena sejak awal mereka ditakdirkan miskin, tetapi ada kungkungan struktur yang menyebabkan mereka lemah. Kata-kata al-miskîn atau al-faqîr, menurut penulis adalah akibat dari sebuah tindakan. Dua kata itu hanyalah implikasi praktis dalam kehidupan.

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.( Q.S. al-Insân/76:8.)

Masih banyak ayat yang menyandingkan kata al-miskîn. al-yatîm dengan al-faqîr atau Ibn sabîl. Kata-kata yang disandingkan dengannya adalah kata-kata yang merujuk pada kondisi tidak mampu dan tidak kuasa. Seorang yatim adalah lemah karena tidak memiliki orang tua, ibn sabîl lemah karena tidak memiliki tempat usaha dan al-faqîr, juga sama karena tidak memiliki tempat usaha dan sekaligus keterampilan. Kata-kata tersebut menggambarkan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu, karena proletariat tidaklah konstan dan melekat pada diri mereka secara terus menerus.

اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allâh tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.( Q.S. al-Ra’du/13:11.)

Kaum Proletar Lemah Secara Konsep

Kaum proletar memiliki konsep strategi hidup yang tidak memadai, mereka miskin perspektif, ancangan masa depan yang diandaikan tampak suram. Padahal dalam kajian-kajian psikologis, keberhasilan seseorang ditentukan oleh mimpi-mimpi tentang masa depan.

إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً
Artinyaa: Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),( Q.S. al-Nisâ/4:98.)

Ayat ini bercerita tentang kaum muslimin yang tidak bisa hijrah karena lemah dan tidak tau jalan. Mereka hanya pasrah ketika kaum kafir menganiaya mereka. Ada dua hal yang diungkap dalam ayat ini. pertama, mereka tidak mengetahui cara, yakni mereka tidak tahu strategi apa yang akan digunakan dalam melakukan perlawanan atau melakukan pertahanan. Ketidakmengertian mereka akan strategi disebabkan karena mereka lemah secara kongnitif. Kedua, sebagai implikasi dari lemah kognitif, mereka membutuhkan seseorang yang mampu memberi petunjuk. Mereka mengharapkan ada seseorang yang mengentaskan nasib mereka.

Dalam tradisi gerakan, pertama-tama yang harus dilakukan untuk melakukan perubahan adalah keberdayaan tiga hal. Pertama, perubahan secara kognitif. Artinya, mereka harus sadar bahwa mereka sedang ditindas dan mereka harus bangkit. Kesadaran semacam inilah yang mendorong seseorang untuk maju dan mau berubah. Kedua, kesadaran sosial, yaitu kesadaran yang tidak hanya mampu mengelola grundelan-grundelan menjadi sampah, tetapi mengubahnya menjadi isu strategis bersama untuk diperjuangkan.

Kesadaran sosial juga ditandai dengan tidak mengandalkan pada satu sosok untuk berbuat. Mereka secara individu-individu yang sadar secara kongnitif merancang apa yang harus dilakukan bersama. Dan ketiga, kesadaran struktur, suatu kesadaran bahwa relasi sosial timpang ikut andil dalam melanggengkan ketertindasan. Struktur yang memengaruhi itu karenanya harus dirubah.

Tidak ada suatu tindakan tanpa konsep dibelakangnya. Kaum miskin tidak akan mampu melakukan apa-apa tanpa konsep matang. Konsep adalah pengandaikan cita-cita yang diharapkan. Konsep juga mengandung strategi apa yang akan dilakukan. Konsep menyatukan berbagai elemen tentang perjuangan yang akan diusung. Tanpa konsep, sebuah gerakan hanya menyerahkan nyawa sia-sia. Ia ibarat bunuh diri. Kelemahan kelompok proletar secara konsep, mendorong kelompok borjuis semakin menindas, sebagaimana diceritakan oleh Allâh tentang otoritarianisme Fir’aun.

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ

Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. ( Q.S. al-Qashâh/28:4.)

Kelompok borjuis selalu menganggap kebenaran hanya dapat diproduksi oleh mereka. Kemiskinan bagi mereka disebabkan karena malas bekerja. Orang miskin tidak memiliki kebenaran. Kebenaran hanya dalam satu sumber, sumber dari borjuis.

Kaum Proletar Lemah Pendirian

Kaum proletar karena kemiskinanya gampang terpengaruh oleh sesuatu yang sebenarnya fatamorgana. Mereka gampang ditipu sebagaimana kaum nabi Musa ketika ia ditinggal oleh sang Nabi.

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلا تُشْمِتْ بِيَ الأَعْدَاءَ وَلا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan Hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim” (Q.S. al-A’rîf/7:150)

Kekuatan kaum borjuis terletak pada daya paksa dan daya tekan yang ia miliki. Ia memiliki perangkat kasar kekuasaan berupa bodyguard-bodyguard bayaran dan uang untuk menakut-nakuti kaum proletar. Di satu sisi hati kaum proletar lemah, pada sisi lain, kaum proletar merasa nasibnya di ujung tanduk. Daya pressure kaum borjuis, memaksa kaum proletar nyaris kehilangan semangat perlawanan. Hal ini dicontohkan Allâh pada kaum nabi Syu’aib ketika ia mendapat tekanan dari kelompok borjuis kafir waktu itu.

Daya paksa dan daya kekuatan inilah yang terjadi di awal masa Rasullah, banyak para sahabat yang tertekan. Para sahabat adalah kaum tertindas waktu itu. Tidak ada yang dipikirkan oleh kaum borjuis kafir kecuali menumpuk harta dan inilah kebaggaan mereka. Rasulullah tidak juga luput dari kesombongan tokoh Quraisy yang kaya, Ubay bin Khalaf.

Dalam bahasa Althusser, kaum borjuis selalu menggunakan dua perangkat dalam melakukan dominasinya atas kaum proletar. Pertama, ideological state apparatus, perangkat lunak ideologis berupa rangkaian pengetahuan yang diproduksi dan secara perlahan dimasukkan ke dalam nalar objeknya. Kedua, repressive state apparatus, yaitu alat kasar berupa kekuatan pemaksa atas aliran ataupun gagasan yang berbeda dengan kehendak borjuis. Alat paksa bermain dengan senjata dan kekerasan. Strategi perlawanan atas kaum borjuis dengan dua perangkat ini dengan menseimbangkan strategi yang sama. Artinya, perangkat ideologis harus dilawan dengan perangkat ideologis dan perangkat keras harus dilawan dengan hal serupa. Tumpang tindih strategi hanyalah akan berbalik penyerangan kepada kaum proletar.

Oleh :  Ahmad Munir

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.