Connect with us

Sosial

Karakteristik Perlawanan Kaum Proletar

Ali Alamsyah

Published

on

2 Sampai 2Lanjutkan

Dalam bahasa lain, hal yang harus dilakukan pada tahap-tahap awal agar kelompok proletar bergerak, adalah perubahan secara kultural yang merambah kepada perubahan struktural. Perubahan kultural mencakup perubahan paradigma dan perubahan sosial. Sementara perubahan struktural adalah perubahan pada wilayah kekuasaan atau relasi sistem. Kekuasaan tidak bisa direbut jika masyarakatnya masih berkesadaran magis atau naif. Kaum proletar selalu pada posisi oposisi biner dengan kelompok borjuis. Kelompok borjuis ingin selalu mempertahankan kemapanannya dengan menjadikan kaum proletar pada posisi rendahan. Walau ini bukan rumus pasti, namun dalam realitas, kaum borjuis ingin selalu dominan.

Berbicara masalah proletariat, kita tidak bisa lepas dari sistem kapitalisme. Karena semangat kapitalisme meletakkan kaum proletar dalam situasi terkalahkan. Banyak ahli tafsir menjelaskan bahwa masa di mana Nabi hidup adalah persis dengan zaman kapitalisme. Namun, karena kita hidup dalam masa kontemporer, kita akan melihat sedikit tentang kapitalisme ini. Pandangan kapitalisme bersumber dan berakar pada pandangan ekonomi klasik, terutama ajaran Adam Smith (1776) yang dibangun di atas landasan filsafat ekonomi liberalisme. Ideologi ini bertumpu pada kebebasan mutlak tiap individu (Personal libertyi), kepemilikan pribadi (private property) dan inisiatif individu, serta swasta (private enterprise).

Postulasi dari paham kapitalisme lebih jauh dapat dibaca dalam bentuk: pertama, pembatasan peran pemerintah dalam bidang ekonomi dan mempercayakan penuh pada mekanisme pasar, dengan asumsi bahwa ekonomi akan berjalan lancar dan selalu akan mengalami “penyesuaian diri” tanpa intervensi pemerintah. Kedua, kebebasan individu sebagai nilai dasar dengan asumsi pemenuhan kepentingan individu dengan sendirinya akan berarti memenuhi kebutuhan masyarakat (harmony interest); karenanya kapitalisme percaya pada mekanisme persaingan bebas dan memisahkan kepemilikan mutlak individu. Ketiga, ekonomi bercorak industri yang berlaku universal.

Dalam perspektif ini, bila melihat sejarahnya, istilah proletar sebenarnya dikhususkan untuk kelompok kaum buruh yang hidup di Inggris, Jerman dan Perancis, sebagai negara yang maju lebih dahulu teknologinya. Kaum proletar diharapkan mengecam dan melakukan gerakan atas upaya kelompok borjuis yang selalu menumpuk alat-alat produksi. Dengan kata lain, kelompok borjuis ingin menumpuk kekayaan pribadi.

Alqur’ân mengungkap masalah kekayaan dalam aneka kata. Alqurân menyebut dengan kata ‘aradl, zînah dan matâ’. Kata yang pertama secara bahasa bermakna, barang yang baru datang artinya bahwa kekayaan yang dimiliki hanyalah perolehan sesaat dan baru datang. Karena itu, ia akan hilang kembali. Kata kedua bermakna perhiasan, hiasan hidup agar lebih indah. Namun, bila perhiasan ini tidak diarahkan, akan menjurus pada pamer dan sombong. Kata ketiga bermakna kesenangan, memberi peringatan bahwa kekayaan yang dimiliki hanyalah kesenangan.

Kondisi kapitalisme biasanya beriringan dengan situasi riba yang mengandalkan nilai lebih dari suatu traksaksi dan merugikan satu pihak. Alqurân melarang tegas hal ini. di pihak lain, Alqur’ân ingin menjadikan harta kekayaan itu berkembang tidak hanya kepada orang kaya atau borjuis saja.

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ.

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allâh kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allâh, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. ( Q.S. al-Hasyr/59: 7.)

Kekayaan tidak boleh ditumpuk secara individual, karena hakekat harta adalah milik Tuhan. Pengecaman Alqurân untuk tidak berlaku bathil dalam menumpuk harta selaras dengan kecaman akan kapitalisme. Begitupun perjuangan untuk menegakkan keadilan bergaris lurus dengan semangat proletar.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. ( Q.S. an-Nisâ’/4: 29.)

Oleh : Ahmad Munir

2 Sampai 2Lanjutkan

Continue Reading
4 Comments

4 Comments

  1. Avatar

    Alldi Nurcahya / PPI

    24-09-2016 at 13:24

    Pertanyaanya adalah Dimana posisi kita saat ini? Apakah termasuk Proletar atau Borjuis?

    Dalam sistem ekonomi kapitalisme kamu Proletar adalah kaum dengan strata sosial paling rendah, meski demikian memiliki peranan urgen dalam produkstifitas prusahaan. Yang paling penting saat ini adalah saling menghargai akan perbedaan tanpa ada diskriminasi. Kita tahu bahwa dunia menuntut keseimbangan, saling take and give, ada tangan diatas ada dibawah atau saling membutuhkan.

    Realitas ketika demo “Hari Buruh Nasional” dalam bahasa kerennya may day para kaum proletar sudah banyak yang pakai “Ninja 4 Tax”.

    Thanks

  2. Avatar

    Imam Bukhori - PPI

    22-09-2016 at 22:51

    Sangat menarik ketika kita membaca maupun berbicara mengenai proletar. Yah, karena kita semua manusia pekerja yang tidak lain kita berusaha mendapatkan suatu bentuk benda yang disebut uang, duit atau dengan istilah upah. upah menjadi bagian terpenting bagi manusia untuk dapat hidup. Artinya, dalam konteks proletariat disbeut dengan dialektika proletar atau buruh yakni, buruh butuh hidup, untuk melaksanakan keberlangsungan kehidupan buruh harus bekerja untuk mendapatkan upah, dan upah dibelanjakan dengan untuk digunakan belanja kebutuhan pokok atau makanan. Dengan kasarnya orang bilang tidak makan adalah mati, itulah dialektika yang berlaku bagi buruh atau proletar. Seiring dengan hal tersebut, keberadaan proletar sangatlah mekanis dalam kaidah ini terbingkai atas logika formal yang berlaku bagi keidupan buruh. Maka, agar tidaklah mekanis perlu rumus proletar dengan pengistilahan logika dialektik yang didasari logika marxisme, artinya sperti keadaan buruh akan berubah ketika buruh atau proletar dapat melaksanakan hukum-hukum revolusi buruh.

    Pada hakikatnya, buruh atau proletar ialah kelas terendah dalam hubungan industri. Didalamnya, kelas proletar / buruh hanya mengandalkan tenaga sebagai jasa yang ditawarkan untuk dapat ditukar dengan upah, entah itu buruh industri, buruh tani, atau buruh-buruh lainnya. Hal ini tentunya tdak dapat ditarik kedalam bingkai “miskin” secara menyeluruh, seperti halnya petani miskin, pedagang miskin, dsb. Karena petani miskin dan juga pedagang kecil ialah berada pada ststus kepemilikan tanah dan ketidak mampuan bersaing dengan pemodal besar. Sehingga istilah lokal menyebutnya kaum miskin, yang memang didalamnya buruh andil dalam kelasifikasi tersebut.

    Keadaan buruh tidak akan berubah ketika keadaan tersebut tidak diurai diurai dengan suatu tindakan untuk mengorganisasikan dirinya, atau pasrah dengan keadaan. Maka sampai kapanpun bahwa buruh adalah miskin, karena tidak adanya kesadaran kolektif. Artinya, dengan pengorganisasian tersebut, buruh dapat membentuk suatu sikap bersama secara kolektif untuk dapat berdiplomasi dalam menyesuaikan kebutuhan hidup secara layak. Berbeda halnya pada kondisi sewaktu revolusi buruh di eropa, yang memang keadaan buruh saat itu ialah penghisapan tenaga buruh atau antara upah dan dan waktu kerja tidaklah sesuai. Sehingga alienasi pekerja sangatlah terasa.

    Konteks kekinian, upaya buruh mestinya optimal bukan hanya membentuk kolektifitas individu, namun selebihnya mengupayakan penyesuaian waktu dan posisi kerja untuk dapat melakukan andil dalam politik pengupahan agar sesuai. Lagi-lagi, kesadaran kolektif masihlah kurang sehingga memberikan celah untuk tidak layaknya pengupahan dan juga pencederaan politisisasi kebijakan pengupahan, yang dilakukan onknum-oknum yang berkolaborasi dengan pejabat industri, sejenis atau diluarnya yang memberikan ekses bagi buruh. lain dari istilah dikotomik diantara serikat buruh sangat melekat dengan pelabelan serikat merah dan kuning.

    mohon koreksinya bila saya keliru. Trima kasih.

  3. Avatar

    Dewi puji astuti

    21-09-2016 at 12:22

    Proletar atau dalam bahasa yang sehari hari kita bilang itu masayarakat “miskin” memang terjadi diskriminasi strata sosial dalam masyarakat sosial apalagi masyarakat yang mempunyai sistem kasta

    • Avatar

      Lanlan Muhria

      22-09-2016 at 15:37

      begitulah realitas yang kita hadapi hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.