Take a fresh look at your lifestyle.

Kasih Sayang Kemanusiaan

0 15

Rasa Kasih Sayang. Kesucian jiwa seseorang, sebenarnya terletak pada karakternya yang rahman dan rahiem. Kata rahman sering diterjemahkan dengan pengasih dan rahtm sering diterjemahkan dengan penyayang.Pengasih dan penyayang itu, sebenarnya dua kata yang berbeda, namun memiliki substansi yang sama, yakni kebaikan Tuhan.Karena dekatnya makna rahman dan rahiem itu, para ulama tafsir kemudian sering menerjemahkan rahman sebagai kebaikan Tuhan di dunia, berlaku untuk semua makhluknya, sedangkan kata rahim adalah kasih sayang Allah khusus untuk orang-orang yang bertakwa dan diberikannya kelak di akhirat.

Dua kata ini, juga sering disebut sebagai sipat Tuhan dan sering pula disebut sebagai asma al husna. Sipat ini, seharusnya selalu melekat kepada jiwa dan perilaku manusia. Itulah mungkin mengapa, setiap surat –kecuali surat al bara’ah atau tawbat– selalu diawali dengan satu ayat yang disebut dengan basmallah. Banyak juga mufassir yang menerjemahkan bismillah itu sebagai suatu surat yang berdiri sendiri.

Implementasi Rasa Kasih Sayang

Karena demikian strategisnya ungkapan bismillahirrahmanirrahiim dalam konteks kehidupan umat Islam, maka, banyak ulama tafsir yang mensimplikasi al Qur’an ke dalam ayat ini. Karena itu, banyak mufassir yang menyatakan bahwa, seseorang baru disebut mukmin dan muslim, ketika ia mampu mengimplementasikan rasa kasih dan sayangnya, sebagaimana Tuhan telah menyimpan-Nya dalam jiwa manusia untuk ditransformasi pada kehidupan sehari-harinya.

Dalam konteks tertentu, kegiatan ibadah yang dilakukan setiap umat Islam, semua selalu berakar dengan implementasi ayat bismillah ini. Misalnya pelaksanaan ibadah Puasa yang dilakukan umat Islam selama sebulan penuh di bulan Ramadlan, sejatinya melatih jiwa, karakter dan perilaku kita untuk tunduk pada watak dasarnya yang rahman dan rahiem sebagaimana Allah menghendakinya untuk umat manusia. Ketika ternyata kita tidak mampu menjadi yang demikian, maka, berarti puasa kita gagal diperankan dengan baik. Hal yang sama berlaku saat kita melaksanakan ibadah shalat. Semua bacaan dalam shalat, mendorong jiwa manusia untuk hanya mengakui Allah sebagai puncak segala kesemestaan. Karena itu, ia menjauhkan diri dari kesombongan karena dia sadar, bahwa puncak di atas segala puncak adalah Allah.  Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar