Kategorisasi Ilmu | Epistemology Part -2

0 70

Kategorisasi Ilmu. FramworkAi??[kerangka] berpikir seseorang, tentu apalagi ilmuan, selalu dipengaruhi segenap faktor dan aktor yang membelit otak atau pikirannya. Setiap kesimpulan atau keputusan akan sesuatu yang diberikan seseorang, tidak mungkin berdiri sendiri, tanpa ada sedikitpun yang mempengaruhinya. Itulah yang disebut dengan freamwork.

Dalam soal ilmu juga sama. Para ilmuan tentu saja satu sama lain, berbeda dalam memahami apa yang dimaksud dengan ilmu. Tentu apalagi, kategorisasi ilmu. Banyak pihak berbeda satu sama lain. Dari sekian banyak perbedaan pandangan itu, saya melihat, setidaknya ilmu dapat dibagi menjadi dua. Kedua kategori ilmu dimaksud, diadaftasi dari pemikiran Syed M. Naquib al-Attas (2003). Ia menyebut bahwa ilmu dapat dibagi menjadi dua kategori. Kedua kategori ituAi?? adalah Iluminasi [ilmu ma’rifat] dan ilmu sains.

Makna Iluminasi

Iluminasi berasal dari bahasa Latin, illuminare. Kata ini mengandung makna menerangi. Dalam kajian filsafat, iluminasi sering disebut sebagai kebenaran yang bersumber dari wujud Yang Maha Benar. Kebenaran jenis ini, diperoleh melalui pertemuan atau perpaduan antara intelek, jiwa dan batin yang melahirkan cahaya yang datang secara tiba-tiba.

Dalam konteks penggunaan kata, para ilmuan sesungguhnya berbeda menerjemahkan kata iluminasi. Sebut misalnya, ilmuan yang mengkaji soal naskah kuno (kodikologis), menyebut iluminasi sebagi surat-surat yang bergambarAi??yang memiliki arti penting. Bagi seorang penulis, kata iluminasi sering diterjemahkan dengan datangnya insipirasi yang membentuk gagasan secara tiba-tiba. Gagasan itu, demikian atraktif keluar dari pikiran seorang penulis.

Jika anda pernah bersama dengan ahli teknik sipil, anda juga akan bertemu dengan kata iluminasi. Ia menyebut iluminasi dengan masuknya cahaya ke dalam ruangan sebuah bangunan yang akan mereka kerjakan. Iluminasi dalam makna para teolog, sering diartikan sebagai media yang menyambungkan dunia materi [termasuk manusia] dengan sesuatu yang imateril (Tuhan). Iluminasi memberi segenap anugerah akan suatu pengalaman yang visioner dan sulit dijangkan manusia biasa. Iluminasi dalam makna inilah, tampaknya yang dimaksud Al Attas sebagaimana telah penulis uraikan sebelumnya.

Kecahayaan, sering diterjemahkan bersumber pemberi cahaya, yakni Allah, Tuhan, God atau Lord serta sebutan lain sesuai dengan kebiasaan masing-masing. Makna inilah yang disebut al-Attas sebagai ilmu yang langsung diberikan Allah kepada manusia berupa wahyu, ilham dan irhas. Ilmu ini diberikan Allah kepada mereka yang taat menjalankan ibadah dengan tulus namun dibarengi pengetahuan yang luas melalui berbagai pendekatan. Ilmu ma’rifat dapat disebut sebagai makanan jiwa manusia.

Filosof dan Teori Iluminasi

Plato menyebut iluminasi dalam apa yang disebut dengan teori bayang-bayang. Ia mentamsilkan hal itu dengan posisi manusia yang selama hidupnya berada di gua. Manusia yang selama hidupnya berada di gua, menganggap bahwa kecahayaan itu ada dalamk diri mereka. Tetapi, suatu waktu cahaya lebih besar ternyata berada di luar mereka.

Maka, setelah itu, cahaya sesungguhnya selalu berada di luar kategori historis kemanusiaan kita. Cahaya besar dalam makna ini sering disebut dengan kebenaran. Kebenaran sering diidentikkan dengan terang. Dalam Islam juga sesungguhnya sama. Sebut misalnya keterangan Allah swt. tentang cahaya dan kegelapan dalam Surat al Baqarah [2]: 257 yang terjemahannya berikut ini:

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Manusia yang berada dalam kegelapan, pada akhirnya akan mendapati kebenaran dalam apa yang disebut Plato dengan terang. Dengan pancaran iluminasi atau terang yang tak terduga, manusia menemukan kepingan kebenaran. Stoisisme menyebut iluminasi dengan percikan akal universal, meski digambarkannya dengan api, yang disebutnya sebagai unsur pokok segala sesuatu.

Makna Sains

Sedangkan sains dianggap al-Attas [2003] sebagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan fisik dan objek-objek yang berhubungan dengan aspek-aspek yang fisik tadi. Ilmu kedua ini dianggap al-Attas dapat dicapai melalui penggunaan daya intelektual dan jasmaniah manusia. Ilmu pengetahuan ini bersifat acak dan pencapaiannya menempuh jalan yang bertingkat-tingkat. —akan ada penjelasan tersendiri soal ini.

Dalam soal ini, mungkin agak relevan apa yang disampaikan S. Nasution. Ia menyebut bahwa ilmuAi??ini dapat dibagi menjadi ilmu murni (teoritis) dan ilmu terapan (praksis). Ilmu murni menghasilkan prinsip umum yang dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah praktis yang dihadapi umat manusia. Sedangkan ilmu terapan mengungkapkan fakta-fakta baru yang mendukung teori atau yang menguji kemampuan teori. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.