Kaum Muda dan Pencetus Kemerdekaan Indonesia

0 220

Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, 15 Agustus 1945, Indonesia berada dalam vacuum of power. Janji Jepang yang akan memerdekakan Indonesia, malah tersiar kabar akan menyerahkan Indonesia kepada Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat. Hal ini dibuktikan dengan tersiarnya kabar bahwa salah satu naskah yang disetujui Jepang atas penyerahan dirinya kepada sekutu itu adalah, menjaga seluruh kekuasaan Jepang dalam posisi status quo. Jepang dilarang melakukan perubahan apapun, termasuk tentu terhadap wilayah Indonesia yang secara hukum Internasional, masih di bawah kendali Jepang.

Dalam posisi yang vacuum of power itulah, Soekarno yang menjadi ketua BPUPKI dan kemudian berubah menjadi PPKI, didesak kaum muda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Chaerul Saleh, langsung memimpin rapat pada tanggal dimaksud dengan seluruh jajaran kaum muda se Nusantara. Satu gerakan revolusioner yang menghentak jagad raya Nusantara.

Chaerul Saleh yang menjadi pemipin kaum muda itu, langsung melakukan rapat setelah mengetahui Jepang menyerah kepada sekutu. Rapat itu dilangsungkan di Laboratorium Mikrologi, beralamat di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Chaerul Saleh yang dikenal rajin melakukan diskusi dengan Tan Malaka itu, sebelum rapat tentu melakukan konsultasi dengan mentor ulung ini.

Di antara yang dihasilkan rapat kaum muda yang dimpin Chaerul Saleh ini, adalah mendesak Bung Karno dan Bung Hatta agar melepaskan diri dari ikatan Indonesia dengan Jepang. Di posisi ini, Soekarno dianggap masih memiliki keyakinan bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Kaum muda menganggap bahwa Jepang pasti berbohong dan akan memberikan ke sekutu. Pengalaman pada kekalahan sekutu di Perang dunia pertama, yang menyerahkan Indonesia ke Jepang karena memenangkan perang dimaksud, menjadi asumsi dasarnya. Karena itu, wajar jika kaum muda meminta Soekarno Hatta agar memperoklamasikan Indonesia merdeka atas nama bangsa Indonesia paling lambat pada tanggal 16 Agustus 1945. Inilah momentum penting, bagaimana Indonesia akhirnya harus merdeka tanpa pemberian pihak Jepang.

Rapat Pemuda dan Teks Proklamasi

Rapat yang dipimpin Chaerul Saleh pada tanggal 15 Agustus 1945 dimaksud, disampaikan Darwis dan Wikana di rumah Soekarno dan Hatta. Kedua tokoh nasional Indonesia itu, ditemui di rumahnya masing-masing. Namun keputusan Pemuda itu, ditolak keras tidak hanya oleh Soekarno tetapi juga oleh Muhammad Hatta. Keduanya tidak yakin kemerdekaan akan mampu dipertahankan kelak, karena Indonesia dianggap belum memiliki kesanggupan, kecuali Jepang tentu turut campur didalamnya.

Penolakan yang dilakukan Soekarno-Hatta inilah, yang membuat kamu muda marah. Mereka mengganggap bahwa kemerdekaan Indonesia tidak bisa lagi ditunda. Akhirnya mereka kembali rapat pada tanggal 16 bertempat di Kebun Binatang Cikini, tepatnya di Baperpi. Hasil rapat itu cukup menarik. Mereka memutuskan agar Soekarno-Hatta diculik. Keduanya harus diasingkan agar tidak terpengaruh Jepang.

Dalam rapat dimaksud diputuskan tiga orang pemuda [Soekarni. Yusuf Kunto dan Singgih], untuk menculik keduanya dan membawa mereka ke Rengasdengklok. Pimpinan penculikan dilakukan Soedanso Soebeno. Namun ketika Ahmad Soebardjo menjamin bahwa proklamasi akan dikumandangkan paling lambat pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta baru dilepaskan.

Akhirnya Soekarno-Hatta dan Soebardjo, membentuk team perumus teks proklamasi bertempat di rumah Laksamana Tadasi Maeda. ia adalah seorang  Angkatan Laut Jepang, yang bersimpati atas perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di rumah inilah, akhirnya Soekarno, Moh. Hatta, dan Ahmad Soebarjo yang disaksikan kaum muda seperti Burhanudian Muhammad Diah [BM Diah], Sayuti Malik, Soekarni dan Soediro, menyusun teks proklamasi.

Disepakatilah teks proklamasi yang ditulis Soekarno dan didiktekan Hatta. Tulisan tangan Soekarno itu, masih bersipat konsep. Teks ini kemudian dikenal dengan istilah Teks Proklamasi yang Klad. Teks proklamasi itu, kemudian diketik Sayuti Malik menjadi teks proklamasi otentik.

Namun entah mengapa, belum ada data otentik, mengapa tidak ada bangsa Indonesia, termasuk tentu kaum muda, yang mau menandatangani teks proklamasi dimaksud. Mereka malah menyepakati agar teks proklamasi tersebut, ditandatangani Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks ini kemudian dikenal dengan istilah teks proklamasi otentik yang kemudian dibaca Soekarno Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, jam 10 di Pegangsaan Timur Jakarta. By. Prof. Cecep Sumarna dari berbagai sumber

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.