Kayla Akhirnya Aborsi | Candu Asmara Remaja Part – 4

Kayla Akhirnya Aborsi dalam Candu Asmara Remaja Part 4
0 759

Dalam ketertekanan bathin yang berat, Kayla dipaksa orang tuanya untuk menggugurkan bayi dalam kandungannya. Tak mungkin rasanya jika Indra dan Shofia harus segera berganti posisi dari seorang ayah dan ibu menjadi seorang kakek dan nenek. Kami merasa masih sangat muda. Kayla masih terasa sebagai bayi yang dipaksa harus segera berubah posisi menjadi seorang ibu.Tentu selain karena bagaimana nasib dan masa depan keluarga mereka di mata masyarakat lain.

Dalam anggapan Indra dan keluarganya, Kayla masih sangat muda. Ia memiliki peluang untuk tetap meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Meski ia harus kembali merogoh saku koceknya guna pendidikan anaknya itu, ia akan mempersiapkan diri untuk memeindahkannya ke sekolah lain, tentu jika proses pengguran itu berhasil dilakukan.

Anggapan ini diperkuat dengan bagaimana sikap negatif manusia di sekitar rumah mereka jika tahu kalau Kayla melahirkan seorang anak. Dilihat dalam kaca mata apapun, keluarga Indra akhirnya memutuskan untuk memaksa Kayla menggugurkan kandungannya. Mereka juga sesungguhnya sadar jika Kayla menolaknya dengan keras. Sampai suatu waktu, Kayla hampir mau bunuh diri, jika, orang tuanya tetap memaksa untuk menggugurkan janin yang ada dalam kandungannya itu.

Indra tahu kalau Kayla menolak aborsi. Sama juga Indra dan Shofia mengetahui kalau Kayla masih menjalin komunikasi secara sembunyi-sembunyi dengan Fredy. Kayla tampaknya selalu meminta pertimbangannya kepada Fredy ketika bayi yang dikandungnya harus dia gugurkan. Indra dan Shofia membaca ratusan sms Kayla kepada Fredy akan keinginan kedua orang tuanya yang memintanya untuk menggugurkan bayi dalam kandungannya.

SMS Kayla kepada Fredy

Dalam salah satu sms yang dikirim Kayla kepada Fredy, ia menuliskan pesan sebagai berikut: “Fredy sayang … Kau adalah kekasihku yang paling aku cintai. Seorang laki-laki yang melumatkan seluruh rasaku kepada apapun selain kepada dirimu. Laki-laki yang telah kurelakan seluruh harta kekayaanku kepadamu berupa keprawanan dan darah pertamaku.

Aku kata Kayla, akhirnya tak kuasa menolak ajakan kedua orang tuaku untuk menggugurkan benih cinta kasih dan sayangku bersama kamu. Buah cinta yang sekarang bersarang dalam rahiem-ku ini. Meski aku tahu betapa kau marah atas rencana aborsi ini. Tetapi, akhirnya aku tak kuasa menolaknya. Jujur, aku tak kuasa. Maafkan aku”.

Dengan mata yang polos, kosong dan cenderung pelamun itu, Kayla akhirnya mengikuti paksaan kedua orang tuanya. Ia berangkat dengan tubuh yang sangat lemah, karena, beberapa hari ini ia malas makan. Kondisi itu diperparah dengan situasi psikologis keluarganya yang tiada henti memarahinya. Semua waktu, pagi, siang maupun malam, Kayla terus menerus mendapat hardikan kedua orang tuanya.

Dengan tubuh yang lemah, Kayla akhirnya berangkat menemui satu rumah sakit dengan rumah sakit lain. Dari satu klinik ke klinik lain, dan dari satu dokter kandungan ke dokter kandungan lain. Mereka semuanya menolak. Menolak untuk menggugurkan sebuah cabang bayi yang sudah memiliki nafas.

Dukun Beranak Mengakhiri Segalanya

Akhirnya, keluarga Kayla membawanya ke dukun beranak yang tempatnya sangat jauh dari rumah mereka. Mereka melewatinya dalam waktu enam jam dengan jalan yang berliku, terjal dan tidak halus. Mereka datang ke di kaki gunung Salak. Di tempat inilah, erangan kebahagiaan yang biasa dialami Kayla saat melakukan hubungan seks bersama Fredy, naik ke puncak asmara dengan sejumlah senyum bahagia, tiba-tiba berganti menjadi erangan-erangan kuat menahan rasa sakit. Sakit yang tiada peri, terutama saat dukun beranak itu mengurut dan meremas perutnya dengan kasar.

Inilah jeritan Kayla yang dalam kasus tertentu sangat memungkinkan dirinya justru mati. Jerit tangis Kayla, saat dia terpaksa harus menggugurkan bayi dalam kandungannya yang sudah menginjak 120 hari itu, telah menyebabkan seluruh keluarganya berada dalam ketakutan yang luar biasa juga. Seperti telah disebut sebelumnya, kedatangan keluarga Kayla ke dukun beranak itu, dilakukan karena beberapa rumah sakit, poliklinik dan dokter kandungan menolak untuk menggugurkan kandungan Kayla. Termasuk dokter dan rumah sakit di luar Bandung.

Di rumah dukun beranak itu, darah segar mengucur deras dari mis “V” Kayla. Dengan erangan kesakitan yang meronta-ronta, akhirnya, membuat orang tua Kayla pasrah sepenuhnya kepada hukum alam dan hukum Tuhan. Inilah suasana yang cukup menegangkan dalam waktu yang cukup panjang juga.

Proses yang dilewati dalam pengguguran, hampir memakan waktu selama 4 jam itu, akhirnya, membuat bayi seukuran tangan anak kecil, dipaksa ke luar  oleh dukun beranak dengan cara memasukan beberapa jari tangannya ke dalam mis “V” Kayla. Ke luarlah bayi itu dari mis “V” Kayla. Ternyata seluruh organ tubuh bayi itu sudah lengkap. Tak ada satupun yang tersisa.

Indra dan Shofia, membungkus bayi kecil itu dengan kain putih. Diikat dengan lima ikatan seperti layaknya manusia biasa yang mati. Dengan deraian air mata yang kuyu dan sayu, Indra menguburkan bayi dalam jarak kurang lebih 200 meter dari tempat di mana dukun beranak berada. Kayla sendiri ditidurkan di ranjang kotor dan tidak empuk. Ia berbaring lemah dan ia mengalami goncangan bathin dan jiwa yang sangat tinggi. Sementara itu, darah belum juga dapat dihentikan. Tubuh Kayla semakin pucat dan sedikitpun tidak tampak seperti tubuh yang memiliki darah.

Setelah Proses Aborsi

Akhirnya, Kayla diberi minuman ramuan khas dukun beranak. Beberapa jam kemudian, berhentilah cucuran darah segar dari mis “V”nya. Kayla diberi makanan dan minuman segar. Lalu kemudian ia tertidur pulas. Indra dan Shofia pulang. Sementara, Kayla tetap berada di situ karena dukun beranak menyarankan agar Kayla jangan dibawa pulang terlebih dahulu. Indra, jangan bawa pulang anak ini.

Paling tidak setelah tiga hari dia di sini, ia baru kuidzinkan pulang. Percayalah aku akan merawatnya dengan baik di sini. Atas saran dukun beranak itu, Kayla akhirnya tinggal di situ ditemani pembantu keluarga Indra.

Besok hari, setelah proses aborsi, Kayla mulai pulih. Pikirannya mulai tenang dan normal. Mukanya tak sepucat mayat. Ia kembali seperti seorang gadis yang sangat cantik. Ia meminta tolong kepada pembantu keluarganya dengan mengatakan: “Bi … sini. Aku ada perlu. Si Bibi datang dengan mengatakan: Iya non … ada apa? Aku pinjam HP bibi. Iya non ini! Tapi bibi jangan di sini ya aku malu. Baik non … si bibi ke luar dari kamar.

Rupanya, Kayla menelephon Fredy. Hello … siapa ini? Kata Fredy. Sayang ini aku kata Kayla pelan. O .. ya. Apa kabar. Begini yang … aku baru berhasil menggugurkan anak kita. Maafkan aku ya … HP dimatiin sama Kayla. Ia tak kuasa berkata. Ia lalu menangis tersedu-sedu. Ia merasa menyesal mengapa bayi ini digugurkan. Inilah bayi yang mempertemukan ovum-ku dengan spermatozoa-nya dalam ikatan cinta tulus dari seorang laki-laki yang demikian tulus mencintaiku dan aku bahagia bersamanya. Bathin Kayla bergumam.

Tiba-tiba HP yang ada di sekitar Kayla berbunyi: Hello Kayla sayang … mengapa HP-nya mati. Dengan suara parau penuh tangisan, Kayla mengatakan: “Fredy aku mencintai kamu”. Aku takut kehilanganmu, tapi aku tak kuasa”. Fredy tak ada waktu yang kumiliki selain aku merasa bahwa betapa aku akan mencintai kamu sampai kapanpun. HP itu kembali dimatikan …. By. Charly Siera — Bersambung.

Komentar
Memuat...