Inspirasi Tanpa Batas

SPONSOR

SPONSOR

Ke Luar Dari Sesuatu Yang Biasa Untuk Membuka Pintu Menuju Syurga

Ke Luar Dari Sesuatu Yang Biasa Untuk Membuka Pintu Menuju Syurga
0 8

Konten Sponsor

Mari kita belajar ke luar dari sesuatu yang biasa. Bahkan jika perlu, tidak salah jika membuat situasi di mana kita seolah terbuang dan terasing dari persinggungan jaman. Kita ke luar dari batas-batas manusia biasa. Belajar menampilkan diri bukan sebagai penerus singgasana suatu kerajaan, tetapi, membuat kerajaan baru.

Membuat kerajaan baru sekalipun mungkin sangat melelahkan, tetaplah bermakna positif. Bahkan jika dibandingkan dengan meneruskan kerajaan yang sudah mapan sekalipun. Caranya simple. Yakni bagaimana kita belajar bersembunyi secara rapih dengan tampilan yang sangat bersahaja. Mencoba tidak masuk dalam lingkaran  umum manusia biasa atau mengambil cita-cita seperti umumnya manusia.

Inilah mukhalafah li al hawaditsi. Hanya sejenis manusia yang sanggup berbeda dengan yang lainlah yang akan tetap hidup. Tentu yang dimaksud berbeda bukan dalam konteks yang penting beda, tetapi, pada sesuatu yang produktif dan bersipat amaliyah.

Bagian tertentu dari karakter ini, menurut saya adalah apa yang dilakukan Budha. Ia mencari kesadaran spiritual melalui uzlah dari istana megah yang dimiliki sang baginda Raja kerajaan Hindu di Kaki Gunung Himalaya. Ia memilih untuk mengumpulkan kepingan-kepingan kekayaan bathin yang tidak pernah dipelihara siapapun.  Ia mengambil dan selalu berada dalam ruang kosong di mana kebanyakan orang tidak mengambil atau tidak memasukinya. Ia selalu menciptakan suasana baru yang terkadang sulit dipikirkan banyak orang.

Watak Budha yang demikian itu, melahirkan kerajaan besar yang sebanding atau bahkan lebih besar dibandingkan dengan kerajaan Hindu sekalipun. Watak ini, juga sama dilakukan hampir oleh seluruh Nabi dan Rasul. Mereka selalu membuat sebuah tata laksana yang berbeda dengan situasi umum masyarakat.

Dunia Mencari Keseimbangan

Misalnya, jika banyak orang harus masuk ke dalam suatu istana lahir, maka kita mesti belajar masuk dan mengisi istana Bathin umat. Mengapa? Sebab dunia membutuhkan keseimbangan. Yang lahir akan tetap lahir sepanjang dunia bathin ada. Sama juga dengan yang bathin akan tetap ada, sepanjang yang lahir ada. Itulah keseimbangan alam. Itulah ritme alam yang tampaknya sengaja diciptakan Tuhan agar manusia mampu berpikir.

Jika anda terus menerus membangun dan berada dalam upaya untuk membangun kerajaan lahir umat, sama seperti kebanyakan manusia, maka, anda tidak akan pernah besar. Atau sebaliknya. Belajarlah hidup seperti kita sedang memainkan sesuatu.

Karena itu, semua yang dilahirkan, maka pada akhirnya pasti akan tenggelam menjadi bathin secara total. Maka jika kita harus memelihara dunia, caranya adalah harus ada orang yang rela menjaga sisi bathin umat di dunia. Tujuannya sama, agar yang bathin tidak menguasai yang lahir. Atau sekali lagi sebaliknya yang lahir mengalahkan yang bathin.

Logika inilah yang membuat saya tidak pernah bangga jika kampung halaman saya itu [Tasikmlaya], disebut sebagai kota santri. Mengapa? Sebab di tengah kota yang hidup dengan asumsi seperti, pasti akan melahirkan kebathilan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan daerah-daerah tertentu yang tidak pernah disebut sebagai kota-kota suci.

Di daerah yang sering dikonotasikan sebagai daerah-daerah suci, pasti akan dilumuri sesuatu yang sebaliknya. Bahkan cenderung bermakna kotor dan menjijikan. Begitupun sebaliknya. Jika ada sebuah kota atau daerah yang disebut sebagai kota kotor karena perbuatan-perbuatan kotor manusia, maka, di Kota itulah justru akan lahir tokoh besar dalam bidang keagamaan yang mungkin penuh kesucian.[Prof. Cecep Sumarna]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar